Home SirahKisah Sa’id bin Amir Al-Jumahi: Wafatnya

Kisah Sa’id bin Amir Al-Jumahi: Wafatnya

Setelah ia meninggalkan majelis maka ia membagikan uang dinar tersebut dalam beberapa bungkus dan ia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, "Bawalah ini kepada janda Fulan, yatim Fulan, si miskin Fulan dan si fakir Fulan."

by Abu Umar
0 comments 77 views

Sedikit sekali uang yang dibawa oleh Said bin Amir hingga tiba saat datangnya beberapa orang dari penduduk Himsh yang dipercaya oleh Amirul Mukminin. Amirul Mukminin berkata kepada mereka, “Tuliskanlah nama-nama orang miskin kalian sehingga dapat aku cukupkan kebutuhannya!” Mereka pun melaporkan data yang mereka miliki di dalamnya terdapat nama Fulan, Fulan dan Sa’id bin Amir. Umar bertanya kepada mereka. “Siapakah Sa’id bin Amir ini?” Mereka menjawab, “Dia adalah pemimpin kami.” Umar bertanya, “Pemimpin kalian termasuk orang yang fakir?” Mereka menjawab, “Benar, demi Allah, lama waktu berjalan namun di rumahnya tidak ada tungku api menyala” Maka meledaklah tangis Umar hingga air matanya membasahi janggut. Kemudian beliau mengumpulkan uang sebanyak 1000 dinar dan ditaruhnya dalam sebuah ikatan seraya berkata, “Sampaikanlah salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan uang ini untukmu agar semua kebutuhanmu tercukupi.”

Datanglah utusan tadi kepada Sa’id dengan barang bawaannya. Sa’id melihat bungkusan itu dan ternyata di dalamnya terdapat banyak uang dinar. la menolaknya seraya berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, seolah ia terkena musibah kemudian datanglah istrinya tergopoh-gopoh sambil bertanya, “Ada apa wahai Sa’id, apakah Amirul Mukminin telah wafat?” Sa’id menjawab, “Bahkan lebih dahsyat dari itu.” Istrinya bertanya lagi. “Apa yang lebih dahsyat dari itu?” la menjawab, “Dunia sudah merasuki diriku untuk merusak akhiratku. Dan kini fitnah sudah menyebar di rumahku.” Istrinya berkata, “Kalau begitu, campakan saja hal itu padahal istrinya tidak tahu tentang uang dinar tadi-” Sa’id bertanya, “Maukah kamu menolongku untuk melakukannya?” Istrinya menjawab, “Ya.” Maka Sa’id mengambil uang dinar tadi dan ia membaginya dalam beberapa bungkusan kemudian ia bagikan kepada kaum Muslimin yang fakir.

BACA JUGA: Umar bin Khattab, Sahabat Nabi yang Tidak Menginginkan Dunia

Tidak lama berselang, datanglah Umar Radhiyallahu ‘anhu ke beberapa daerah di Syam untuk memeriksa kondisi penduduknya. Saat ia tiba di Himsh-dan daerah ini disebut Al-Kuwaifah sebagai panggilan kecil bagi Kota Kufah, dan untuk mempersamakan daerah Himsh dengan Kufah karena banyaknya penduduk yang mengeluhkan kinerja para pegawai dan wali di wilayah mereka sebagaimana yang sering terjadi di Kufah-, beberapa penduduk menghampiri Umar untuk memberikan sambutan terhadapnya. Lalu Umar bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang Amir (pemimpin) di sini?” Mereka mengadukan keluhan kepada Umar dan mereka menyebutkan empat kekurangan Amir mereka, setiap satu masalah lebih besar dari lainnya. Umar bercerita, “Maka aku pun mengumpulkan Amir mereka yaitu Sa’id bin Amir dengan orang-orang tadi. Dan aku berdoa kepada Allah agar dugaanku tidak dibuat salah, karena aku menaruh kepercayaan besar kepada Sa’id.

Saat mereka dan pemimpinnya sudah tiba menghadapku, aku bertanya, “Apa yang kalian keluhkan dari Amir kalian?” Mereka menjawab, “Ia tidak keluar bekerja sehingga hari sudah amat siang.” Aku bertanya, “Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Sa’id?” la terdiam sejenak lalu berkata, “Demi Allah, tadinya aku tidak mau mengatakan hal ini. Namun karena ini harus disampaikan maka aku pun akan menceritakannya. Aku tidak punya pembantu di rumah. Setiap kali aku bangun di pagi hari, maka aku harus menumbuk gandum untuk keluargaku. Kemudian aku harus mengaduknya dengan perlahan sehingga ia menjadi ragi. Lalu aku buatkan roti untuk keluargaku. Kemudian aku berwudhu dan keluar untuk mengurusi permasalahan manusia.”

Umar bertanya, “Lalu apa lagi yang kalian keluhkan terhadapnya?”

Mereka menjawab, “la tidak mau melayani seorang pun pada waktu malam.” Umar bertanya, “Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Sa’id?” la menjawab, “Demi Allah, sungguh aku juga sungkan untuk menceritakan hal ini… aku telah membagi waktu siangku untuk berkhidmat dalam urusan mereka, dan waktu malamku untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Umar bertanya lagi, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Ada satu hari dalam sebulan di mana ia tidak keluar untuk mengurusi kami.” Umar bertanya, “Apa maksudnya ini, wahai Sa’id?” la menjawab, “Aku tidak memiliki pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak memiliki baju kecuali yang sedang aku pakai ini. Aku mencucinya sebulan sekali dan aku menunggunya hingga kering. Dan pada penghujung hari, baru aku dapat keluar menemui mereka.”

Umar bertanya lagi, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Sering kali ia hilang kesadaran, sehingga ia tidak mengenali orang yang berada di sekelilingnya.” Umar bertanya, “Apa maksudnya hal ini, ya Sa’id?!” Ia menjawab, “Aku menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adi pada saat itu aku musyrik, dan aku melihat para penduduk Quraisy memotong jasadnya dan mereka bertanya kepada Khubaib, Apakah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini?’ la menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak suka merasa aman dengan istri dan anakku, padahal Muhammad sedang dicucuk dengan duri… Dan aku selalu teringat akan hari itu dan mengapa aku tidak menolongnya sehingga aku menduga bahwa Allah tidak mengampuniku… maka aku pun hilang kesadaran karenanya.”

Saat itu Umar langsung berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat dugaanku kepadanya tidak rusak.”

Kemudian Umar mengirimkan 1000 dinar untuknya agar dapat memenuhi segala kebutuhannya. Begitu istri Sa’id melihat uang tersebut, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami lewat khidmat yang kau berikan Belilah segala kebutuhan hidup kita. Dan carilah seseorang yang mau diupah sebagai pembantu!” Said berkata kepada istrinya, “Apakah kau punya sesuatu yang lebih baik dari itu?” Istrinya bertanya, “Apakah itu?” Sa’id berujar. “Kita kembalikan lagi kepada orang yang membawanya, dan hal itu lebih kita butuhkan?” Istrinya bertanya lagi. “Apakah itu?” la menjawab, “Kita pinjamkan uang tersebut kepada Allah sebagai qardhan hasanan (pinjaman yang baik).” Istrinya menanggapi. “Benar. Dan engkau akan dibalas dengan kebaikan karenanya.”

Setelah ia meninggalkan majelis maka ia membagikan uang dinar tersebut dalam beberapa bungkus dan ia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, “Bawalah ini kepada janda Fulan, yatim Fulan, si miskin Fulan dan si fakir Fulan.”

BACA JUGA:  Kesabaran Para Sahabat Nabi

Semoga Allah meridhai Sa’id bin Amir al-Jumahi. Beliau adalah salah seorang sosok yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain, meski ia berada dalam kondisi yang mendesak.

Untuk dapat mengenal sosok Sa’id bin Amir al-Jumahi lebih jauh dapat merujuk ke:

1. Tahdzib at-Tahdzib: 4/51
2 Ibnu Asakır: 6/145-147.
3. Sifatush Shafwah 1/273.
4 Hilliyatul Auliya 1/244.
5. Tarikh al-Islam: 2/35.
6. Al-Ishabah: 2/48 atau profil 3270.
7. Nasabu Quraisyin: 399. []

Sumber: Sirah, 65 Sahabat Rasulullah, Kisah Kehidupan dan Perjuangan 65 Sahabat Rasulullah Pilihan (Shuwar min Hayatish Shahabah 65 Syakhshiyyah) / Penulis: DR. Abdurrahman Ra’fat al-Basya / Penerbit: Penerbit Zikrul Hakim / Cetakan pertama, Maret 2016

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119