Home SirahKepemimpinan Rasulullah yang Digandrungi oleh Setiap Hati

Kepemimpinan Rasulullah yang Digandrungi oleh Setiap Hati

Ketika sang ibu hanya tinggal berdua saja dengan anaknya, dia membujuknya agar mau makan atau minum. Tetapi, justru sang anak malah berkata, "Apa yang terjadi terhadap diri Rasulullah?"

by Abu Umar
0 comments 61 views

Sosok Rasulullah adalah sosok seorang pemimpin umat Islam tertinggi. Tidak saja bagi Umat Islam tetapi bagi seluruh manusia. Beliau memiliki postur badan yang ideal, jiwa yang sempurna, akhlak luhur, sifat-sifat yang terhormat dan ciri fisik yang agung.

Hal ini dapat menyebabkan hati tertawan dan membuat jiwa rela berjuang untuknya sampai tetas darah terakhir. Kesempurnaan yang dianugerahkan kepada beliau tersebut tidak pernah dianugerahkan kepada siapapun. Beliau menempati posisi puncak dalam derajat sosial, keluhuran budi, kebaikan dan keutamaan.

Demikian pula dari sisi kesucian diri, amanah, kejujuran dan semua jalan kebaikan tidak ada yang menandinginya. Jangankan oleh para pencinta dan shahabat karib beliau, musuh-musuhnya pun tidak meragukan lagi hal itu. Ungkapan yang pernah terlontarkan dari mulut beliau pastilah membuat mereka langsung meyakini kejujurannya dan kebenarannya.

Suatu ketika, tiga orang tokoh Quraisy berkumpul. Masing-masing dari mereka ternyata telah mendengarkan Al-Qur’an secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh dua temannya yang lain. namun kemudian rahasia itu tersingkap. Salah seorang dari mereka bertanya kepada Abu Jahal, yang merupakan salah seorang dari ketiga orang tersebut:

“Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang engkau dengar dari Muhammad tersebut?”

BACA JUGA: Utusan Quraisy Terpana oleh Al-Qur’an di Hadapan Rasulullah

“Apa yang telah aku dengar? Memang kami telah berselisih dengan Bani Abdu Manaf dalam persoalan derajat sosial; ketika mereka makan, kami pun makan; mereka menanggung sesuatu, kami pun ikut menanggungnya; mereka memberi, kami pun memberi hingga akhirnya kami sejajar di atas tunggangan yang sama. Kami ibarat dua kuda perang yang sedang bertaruh. Lalu tiba-tiba mereka berkata, ‘Kami memiliki nabi yang membawa wahyu dari langit!” Kapan kami mengetahui hal ini? Demi Allah! kami tidak akan beriman sama sekali kepadanya dan tidak akan membenarkannya.”

Abu Jahal pernah berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami tidak pernah mendustakanmu akan tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.” Lalu turunlah ayat:

فإنهم لا يُكَذِّبُونَك وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِقَايَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ :

“Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am: 33)23

Suatu ketika kaum kafir mempermainkan beliau dengan saling mengerling di antara mereka. Mereka melakukan itu hingga tiga kali. Pada ketiga kali, beliau menjawab, “Wahai kaum Quraisy, sungguh aku datang membawakan sembelihan untuk kalian.” Ucapan beliau ini berhasil mengalihkan konsentrasi mereka. Bahkan orang yang paling kasar di antara mereka, memberikan ucapan selamat kepada beliau dengan sebaik-baik ucapan yang pernah beliau dapatkan.

Ketika mereka melemparkan kotoran unta ke arah kepala beliau saat sedang sujud, beliau mendoakan kebinasaan atas mereka. Tawa yang tadinya menyeringai di bibir mereka berubah menjadi kegundahan dan kecemasan karena mereka yakin akan binasa.

Beliau mendoakan kebinasaan atas Utbah bin Abu Lahab. Orang ini masih yakin akan terjadinya apa yang didoakan oleh beliau terhadapnya. Maka, ketika dia melihat segerombolan singa, serta merta dia bergumam, “Demi Allah, dia (Muhammad) telah membunuhku, padahal dia berada di Mekkah.” Ubay bin Khalaf pernah mengancam akan membunuh beliau, namun beliau menantangnya, “Akulah yang akan membunuhmu, insya Allah.” Maka, pada Perang Uhud, tatkala beliau berhasil mencederai Ubay di bagian lehernya, yakni goresan yang tidak terlalu melebar, Ubay berkomentar, “Sesungguhnya apa yang diucapkannya di Mekkah di hadapanku dulu, “Akulah yang akan membunuhmu” telah terjadi. Demi Allah, andai dia meludah saja ke arahku niscaya, itu akan dapat membunuhku.” Pembahasan tentang ini akan disajikan pada bahasan mendatang.

Saat berada di Mekkah Sa’ad bin Mu’adz pernah berkata kepada Umayyah bin Khalaf, “Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya mereka-kaum Muslimin-telah memerangimu.” Mendengar ini, dia tampak sangat takut dan berjanji untuk tidak akan keluar dari Mekkah.

Ketika dipaksa oleh Abu Jahal untuk berperang di Badar, dia membeli keledai yang paling bagus di Mekkah untuk digunakannya bila suatu ketika dapat kabur. Saat itu, istrinya berkata kepadanya, “Wahai Abu Shafwan, apakah engkau lupa apa yang dikatakan saudaramu dari Yatsrib tersebut?” Dia menjawab, “Demi Allah! bukan demikian, tetapi aku tidak akan mau berhadapan langsung dengan mereka, kecuali bila jaraknya memang sudah dekat.”

Demikianlah kondisi musuh-musuh Rasulullah Adapun kondisi para shahabat dan rekan-rekan beliau lain lagi, kedudukan beliau di sisi mereka ibarat ruh dan jiwa. Semua urusan beliau menempati hati dan mata mereka. Cinta yang tulus terhadap diri beliau mengalir terhadap beliau bak aliran air ke dataran rendah. Keterpikatan hati mereka terhadap beliau laksana tarikan magnet terhadap besi.

Oleh karena itu, sebagai implikasi dari rasa cinta dan siap mati ini membuat mereka tidak gentar bila leher harus terpenggal, kuku terkupas atau ditusuk oleh duri.

Suatu hari ketika di Mekkah, Abu Bakar bin Abi Quhafah pernah diinjak dan dipukul dengan keras. Di tengah kondisi seperti itu, Utbah bin Rabi’ah mendekatinya sembari memukulinya lagi dengan kedua terompahnya yang tebal dan melayangkannya ke arah wajahnya. Tidak cukup di situ, dia kemudian melompat di atas badannya dan jatuh tepat di atas perut Abu Bakar hingga wajahnya bonyok, tidak bisa diketahui lagi mana letak hidung dari wajahnya.

BACA JUGA: Ketika Umar bin Khattab Temui Rasulullah Tidur di Atas Tikar, Hati di Atas Langit

Setelah itu, dia diangkut dengan menggunakan bajunya oleh suku Bani Tamim kemudian dicampakkan ke rumahnya. Mereka sama sekali tidak menyangsikan bahwa dia pasti sudah tidak bernyawa. Saat hari beranjak sore, dia tersadar dan berbicara, “Apa yang terjadi terhadap diri Rasulullah?” Mereka mencibirnya dengan lisan mereka dan mengumpatinya, lalu berdiri dan berkata kepada ibunya, Ummul Khair, “Terserah, apa yang akan engkau lakukan; memberinya makan atau minum.”

Ketika sang ibu hanya tinggal berdua saja dengan anaknya, dia membujuknya agar mau makan atau minum. Tetapi, justru sang anak malah berkata, “Apa yang terjadi terhadap diri Rasulullah?”

Ibunya menjawab, “Demi Allah! aku tidak tahu sama sekali tentang shahabatmu itu.”

Dia berkata, “Kalau begitu, pergilah menjumpai Ummu Jamil binti Al-Khaththab lalu tanyakanlah kepadanya.” []

Sumber: Sirah Rasulullah, Sejarah Hidup Nabi Muhammad ﷺ / Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri/ Penerbit: Ummu Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119