Home SirahPemboikotan terhadap Keluarga Nabi

Pemboikotan terhadap Keluarga Nabi

Tidak ada yang sampai ke tangan mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi, dan mereka pun tidak keluar rumah untuk membeli keperluan sehari-hari kecuali pada bulan-bulan haram saja.

by Abu Umar
0 comments 91 views

Selama empat pekan yang artinya dalam waktu yang relatif singkat, ada empat kejadian besar di mata orang-orang Quraisy: Hamzah masuk Islam, kemudian Umar menyusulnya, Muhammad menolak tawaran mereka, dan kesepakatan bersama yang dijalin oleh Bani Hasyim, baik yang kafir maupun yang muslim untuk melindungi beliau.

Karena itu, orang-orang musyrik merasa gelisah dan mereka memang pantas begitu. Mereka sadar bahwa bila darah Muhammad mengalir karena ulah mereka, Mekkah pasti akan banjir darah manusia atau bahkan bisa membinasakan mereka semua. Kesadaran ini membawa mereka beralih ke bentuk kezaliman lain yang bukan pembunuhan. Akan tetapi, apa yang mereka lakukan terhadap beliau selanjutnya lebih kejam daripada sebelumnya.

Piagam Kezaliman dan Kesewenang-wenangan

Orang-orang musyrik berkumpul di kediaman Bani Kinanah yang terletak di lembah Al-Mahshib dan bersumpah untuk tidak menikahi Bani Hasyim dan Bani Muththalib, tidak berjual beli dengan mereka, tidak berkumpul, berbaur, memasuki rumah ataupun berbicara dengan mereka sebelum mereka menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh. Mereka menulis kesepakatan tersebut di atas sebuah shahifah (lembaran) yang berisi perjanjian dan sumpah: Bahwa mereka selamanya tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hasyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka kecuali bila mereka menyerahkan beliau untuk dibunuh.

BACA JUGA:  Zainab binti Jahsy: Wanita Bertangan Panjang yang Menyusul Rasulullah

Ibnul Qayyim berkata, “Ada yang mengatakan bahwa pernyataan itu ditulis oleh Manshur bin ‘Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Ada lagi yang mengatakan bahwa pernyataan itu ditulis oleh Nadhr bin Al-Harits. Yang benar, bahwa yang menulisnya adalah Baghidh bin Amir bin Hasyim. Rasulullah mendoakan keburukan atasnya dan dia pun mengalami kelumpuhan di tangannya sebagaimana doa beliau.

Perjanjian itu pun dilaksanakan dan digantungkan di dinding Ka’bah. Semua kalangan dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib, baik yang masih kafir maupun yang sudah beriman -selain Abu Lahab-masuk dalam pemboikotan itu. Mereka diembargo di perkampungan Abu Thalib pada malam bulan Muharram tahun ketujuh dari kenabian.

Tiga Tahun di Perkampungan Abu Thalib

Pemboikotan semakin diperketat. Semua pasokan air dan cadangan tidak boleh masuk ke tempat mereka. Kaum musyrikin tidak membiarkan makanan apa pun yang masuk atau yang dijual ke Mekkah kecuali mereka segera memborongnya. Tindakan ini membuat kondisi Bani Hasyim dan Bani Muththalib semakin kepayahan dan memprihatinkan, sehingga mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit binatang. Selain itu, jeritan kaum wanita dan tangis bayi-bayi yang mengerang kelaparan pun terdengar di balik kediaman tersebut.

Tidak ada yang sampai ke tangan mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi, dan mereka pun tidak keluar rumah untuk membeli keperluan sehari-hari kecuali pada bulan-bulan haram saja. Mereka membelinya dari rombongan yang datang dari luar Mekkah, akan tetapi penduduk Mekkah menaikkan harga barang-barang kepada mereka beberapa kali lipat agar mereka tidak mampu membelinya.

Hakim bin Hizam pernah membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah, namun suatu ketika dia dihadang oleh Abu Jahal dan diinterogasi olehnya guna mencegah upayanya. Untung saja, ada Abu Al-Bukhturi yang menengahi dan membiarkannya lolos membawa gandum tersebut kepada bibinya.

BACA JUGA:  Utusan Quraisy Terpana oleh Al-Qur’an di Hadapan Rasulullah

Di lain pihak, Abu Thalib merasa khawatir atas keselamatan Rasulullah. Untuk itu, dia biasanya memerintahkan beliau untuk berbaring di tempat tidurnya bila orang-orang beranjak ke tempat tidur mereka. Hal ini agar memudahkannya untuk mengetahui siapa yang hendak membunuh beliau. Dan ketika orang-orang sudah benar-benar tidur, dia memerintahkan salah satu dari putra-putra, saudara-saudara atau keponakan-keponakannya untuk tidur di tempat tidur Rasulullah, sementara beliau diperintahkan untuk tidur di tempat tidur mereka.

Namun, Rasulullah dan kaum Muslimin tetap keluar pada musim haji guna menjumpai orang-orang dan mengajak mereka kepada Islam sebagaimana yang telah kami singgung dalam pembahasan lalu tentang perlakuan Abu Lahab terhadap mereka. []

Sumber: Sirah Rasulullah, Sejarah Hidup Nabi Muhammad ﷺ / Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri/ Penerbit: Ummu Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119