Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar. Ia datang kepada yang tua maupun muda, kepada yang sakit maupun sehat. Setiap jiwa pasti akan merasakannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kullu nafsin dzâiqotul maut” – “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Namun, apakah rasa takut pada kematian itu tercela? Ataukah justru ia bisa menjadi dorongan untuk memperbaiki diri? Pertanyaan ini layak direnungkan, karena tidak sedikit manusia yang takut mati, tetapi tetap lalai dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Sebagian ulama salaf menasihati kita agar tidak hanyut dalam rasa takut yang melemahkan. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu harimu pergi, maka sebagian dari dirimu pun ikut pergi.” Perkataan ini mengajarkan bahwa takut mati seharusnya membuat kita sadar, bahwa waktu yang tersisa hanyalah kesempatan untuk memperbanyak amal. Takut mati bukanlah cela, selama ia mengantar kita kepada semangat untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan.
BACA JUGA: Untukmu yang Masih Meninggalkan Shalat, oleh: Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, Lc., MA.
Namun, jika rasa takut itu membuat seseorang berpaling dari tugas hidupnya, enggan berjuang, dan lupa beribadah, maka itulah ketakutan yang tercela. Sebab orang beriman mestinya memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan pintu pertemuan dengan Rabb yang ia cintai. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Kematian adalah nasihat yang paling jujur.” Maka, takutlah kepada kematian dengan takut yang benar, yang mengantarkan hati untuk kembali kepada Allah, bukan takut yang membuat kita terjebak dalam kelalaian dan keputusasaan.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

