Nu’aiman penduduk Madinah, keturunan kaum Anshar. Sewaktu Perang Badar, dia turut berjihad bersama Rasulullah ﷺ. Di kalangan para sahabat. Nu’aiman terkenal sebagai sahabat yang suka bercanda Sampai-sampai Rasulullah ﷺ sendiri bersabda, “Nuaiman masuk surga sambil tertawa, karena dia suka membuatku tertawa.”
Suatu ketika Rasulullah ﷺ mengunjungi Nu’aiman yang se-dang sakit mata. Rasulullah melihatnya sedang asyik makan kurma. Beliau kemudian melontarkan pertanyaan kepadanya, “Bisakah kamu makan kurma, sedang mata kamu lagi sakit?” Nu’aiman menjawab, “Saya makan dengan menggunakan mata saya yang satunya lagi.” Mendengar jawaban Nu’aiman ini, Rasulullah tertawa hingga ke-lihatan gigi gerahamnya.
Nu’aiman memang sering bercanda, hingga membuat Rasulullah tertawa dan gembira. Kisah-kisah candanya di antaranya sebagai berikut.
1. Suatu hari, Nu’aiman memberikan hadiah madu kepada Rasulullah ﷺ. Madu itu dibelinya dari orang kampung. Ketika dia memberikan madu itu kepada Rasul, dia membawa serta penjual madu tersebut. Tanpa sepengetahuan Rasul, Nu’aiman menyuruh penjual tersebut meminta uang dari Rasulullah sebagai ganti harga madu itu. Dan di saat Rasulullah ﷺ sedang membagikan madu itu kepada para sahabat yang hadir di rumahnya, penjual tersebut berteriak, “Bayarlah harga maduku itu?” Kemudian Ra-sulullah berkata, “Ini pasti pekerjaan Nu’aiman.” Lalu Rasulullah memanggilnya dan menanyainya, “Mengapa kamu lakukan ini?” Nu’aiman menjawab, “Saya ingin mendapatkan kebaikanmu wahai Rasulullah ﷺ. Saya tidak punya apa-apa.” Rasulullah pun tersenyum dan akhirnya dia memberi uang kepada penjual tersebut.”
BACA JUGA: Kesabaran Rasul ketika Kehilangan Putra-putrinya
2. Ada seorang dari kampung datang menghadap Rasulullah ﷺ. kemudian masuk masjid. Hewan tunggangannya ia tinggal di halaman. Ada sebagian sahabat yang berkata kepada Nu’aiman. “Sembelihlah hewan itu kemudian kita makan dagingnya bersama-sama. Kami ingin sekali makan daging saat ini. Nanti uang ganti ruginya biar Rasulullah yang membayar?” Nu’aiman menyanggupi permintaan sahabat itu dan akhirnya dia menyembelih hewan tersebut. Ketika orang kampung itu keluar dari masjid, dia kaget dan menjerit karena hewan tunggangannya mati. Rasulullah pun keluar rumah dan bertanya, “Siapa yang melakukan ini?”
Para sahabat menjawab, “Nu’aiman, wahai Rasul.” Lalu Rasulullah mencari Nu’aiman dan mendapatinya sedang bersembunyi di balik daun kurma di dalam parit yang berada di dekat rumah Dhuba’ah ibnuz-Zubair bin ‘Abdul-Muththalib. Rasulullah bisa menemukannya karena ada seseorang yang memberi tahu ke-beradaan Nu’aiman. Kemudian Rasulullah menyuruhnya keluar. dan terlihat wajah Nu’aiman penuh dengan debu. Rasulullah bertanya kepadanya, “Mengapa kamu melakukan ini?” Nu’aiman menjawab, “Orang-orang yang menunjukkan tempat persem-bunyiankulah yang menyuruhku melakukan hal ini wahai Rasul.” Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah menghapus debu yang ada di wajah Nu’aiman sambil tersenyum, lalu beliau mengganti harga unta yang terlanjur disembelih tersebut.
3. Suatu hari Abu Bakar r.a. bersama Nu’aiman bin Amr al-Anshari dan Suwaibith bin Harmalah pergi ke Bashrah untuk keperluan dagang. Waktu itu keperluan perjalanan Suwaibith ditanggung oleh Abu Bakar r.a., sedangkan Nu’aiman tidak.
Ketika Abu Bakar sedang pergi memisahkan diri dari rom-bongan, Nu’aiman mendekati Suwaibith dan berkata, “Suwaibith, saya perlu makanan?” Suwaibith menjawab, “Nanti, tunggu Abu Bakar datang ulu.” Kemudian dengan maksud bercanda Nu’aiman berkata, “Suwaibith, saya akan bikin kamu jengkel.”
Ketika rombongan ini melewati satu kaum. Nu’aiman berkata kepada mereka, “Apakah kalian berminat membeli budak milikku?”
“Ya, jawab mereka. Lalu Nu’aiman berkata, “Tapi saya harap kalian tahu, budakku ini banyak omongnya. Nanti dia pasti akan bilang bahwa dia bukan budak dan mengaku sebagai orang merdeka. Namun bila kalian bermaksud menyedekahkannya maka jangan beli.” Mereka menjawab, “Kami akan membelinya dan kami tidak akan menggubris ucapannya.” Akhirnya, mereka sepakat untuk membeli budak yang ditawarkan Nu’aiman itu dengan diganti sepuluh ekor unta yang masih muda.
BACA JUGA: Rasulullah ﷺ dan Orang-orang Thaif
Sepuluh unta tersebut kemudian digiring oleh Nu’aiman, dan dia menunjukkan budak yang ditawarkannya, yaitu Suwaibith. Orang-orang tersebut kemudian mendekati Suwaibith dan ber-kata, “Kami telah membelimu.” Suwaibith terkejut dan berkata, “Dia (Nu’aiman) bohong. Saya adalah orang merdeka.” Namun orang-orang tidak percaya dengan perkataan Suwaibith itu, dan mereka mengatakan apa yang telah diceritakan oleh Nu’aiman mengenai watak budaknya itu. Kemudian mereka membawa Suwaibith ke perkampungan mereka.
Ketika Abu Bakar r.a. datang, Nu’aiman menceritakan semua kejadian yang telah terjadi. Abu Bakar r.a. dan kawan-kawannya yang lain akhirnya memutuskan untuk pergi menemui kaum yang telah membawa Suwaibith tersebut, dan memberi tahu bahwa Nu’aiman hanya bercanda. Setelah sepuluh unta yang dibawa Nu’aiman dikembalikan kepada kaum tersebut, Suwaibith pun akhirnya dilepaskan.
Sekembali mereka ke Madinah, mereka menceritakan semuanya itu kepada Rasulullah ﷺ. Mendengar cerita itu, Rasulullah pun tidak bisa menahan tawa, saking lucunya. Kepergian Abu Bakar r.a. ke Bashrah ini terjadi setahun sebelum meninggalnya Rasulullah ﷺ. []
Sumber: Akhlak Rasul, Menurut Al-Bukhari dan Muslim / Penulis: Abdul Mun’im al-Hisyami / Penerbit: Gema Insani Press / Cetakan Kedelapan, Dzulhijjah 1441 H / Agustus 2019 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

