Home Yaumul HisabSebab Suul Khatimah: Iman yang Lemah

Sebab Suul Khatimah: Iman yang Lemah

Selanjutnya, bila dalam kondisi seperti itu roh keluar dari jasadnya maka hatinya tunduk pada dunia, dan ia terhijab dari Tuhannya.

by Abu Umar
0 comments 89 views

Iman yang lemah dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya, dan bahkan lemahnya iman itu dapat menguasai dan mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak nampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik.

Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan mak-siat, sehingga noda hitam dosa menumpuk di dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakaratul maut datang, cinta Allah semakin me-lemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya.

Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama, timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.

BACA JUGA: Yang Bisa Mengingatkan kita Akan Kematian

Sebab yang melahirkan su’ul khatimah ini adalah cinta dan cenderung kepada dunia disertai iman yang lemah yang pada gilirannya mengakibatkan lemahnya cinta kepada Allah. Cinta dunia adalah penyakit yang umumnya menimpa ke-banyakan manusia. Jadi, orang yang pada saat mati, hatinya didominasi oleh urusan-urusan dunia, maka hal itu mengisi seluruh ruangan dalam hatinya.

Selanjutnya, bila dalam kondisi seperti itu roh keluar dari jasadnya maka hatinya tunduk pada dunia, dan ia terhijab dari Tuhannya.

Dihikayatkan bahwa Sulaiman ibn Abdul Malik, saat memasuki kota Madinah untuk berziarah, berkata, “Apakah di Madinah masih ada tokoh yang pernah bertemu sahabat?”

Mereka menjawab, “Ya, masih. Namanya Abu Hazim.”

Lalu ia minta diantar ke tempat Abu Hazim. Sesampainya di depan Abu Hazim, Sulaiman berkata, “Hai Abu Hazim, kenapa kami tak suka mati?”

Abu Hazim menjawab, “Kalian memakmurkan dunia dan menghancurkan akhirat. Maka, kalian tak sudi keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”

Sulaiman berkata, “Benar engkau! Lalu bagaimana posisi kami di sisi Allah?”

Abu Hazim menjawab, “Cocokkan amalmu dengan Kitabullah.”

Sulaiman bertanya, “Di mana hal itu kutemukan?” jawab Abu Hazim,
“Dalam firman Allah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”

Sulaiman bertanya lagi, “Di mana rahmat Allah?”

Abu Hazim menjawab, “Rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”

Sulaiman berkata, “Lalu bagaimana pengadilan di depan Allah?”

Abu Hazim menjawab, “Orang yang berbuat baik adalah seperti orang yang telah lama hilang kembali ke keluarganya, sedangkan orang yang berbuat jahat seperti budak yang melarikan diri lalu dihadapkan kepada majikannya.”

Lalu Sulaiman menangis sampai-sampai suaranya meninggi dan tangisannya menyayat hati. Kemudian ia berkata, “Berilah aku wasiat!”

Abu Hazim menjawab, “Awas! Jangan sampai Allah melihatmu pada saat la melarangmu atau Ia luput darimu pada saat la memerintahkanmu.”

Shiddiq Hasan Khan menukil pandangan al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa su’ul khatimah ada dua tingkatan, dan salah satunya lebih besar dari yang lain. Tingkatan yang sangat besar adalah bila yang mendominasi hati pada saat sakaratul maut adalah syak (keraguan) atau pengingkaran, sehingga apabila seseorang wafat dalam kondisi seperti itu maka selamanya ia akan terhijab dari Allah.

Hal ini akan membuatnya jauh dari rahmat Allah dan memperoleh azab yang abadi. Kedua, yang setingkat di bawahnya, yaitu bila yang mendominasi hatinya adalah cinta pada dunia sehingga hal itu memenuhi ruangan dalam hatinya dan tidak menyisakan tempat untuk yang lain.

BACA JUGA: Kematian, Hari di Mana Segala Sesuatunya Terputus

Bila rohnya melayang dalam kondisi seperti itu, maka itu sangat membahayakan, sebab seseorang mati tergantung atas kebiasaannya selama ia hidup. Pada saat itu kerugian yang dideritanya sangat besar. Kecuali memang jika akar iman dan cinta kepada Allah telah tertanam di dalam hati cukup lama dan diperkuat oleh amal saleh, maka hal itu dapat menghapus kondisi seperti di atas.

Selanjutnya, bila kualitas imannya mencapai kadar yang dapat mengeluar-kannya dari neraka, maka ia akan keluar dari neraka. Bila kualitas imannya lebih rendah, maka ia masuk neraka dalam waktu lama. Bila iman itu hanya sebesar biji sawi, maka ia pasti akan keluar dari neraka walaupun setelah beribu-ribu tahun.

Selanjutnya, setiap yang meyakini Allah berikut sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan keliru, baik karena taklid atau dengan pikiran sendiri, maka ia berada dalam bahaya, dan zuhud serta kesalehan sekalipun tidak dapat menolak bahaya ini. Bahkan ia tidak akan selamat kecuali dengan akidah yang benar sesuai dengan Alquran dan sunah. []

Sumber: Ensiklopedia Kiamat / Penulis: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar / Penerbit Serambi  / Cetakan 1, Mei 2002

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119