Mengapa terjadi adanya saling hasad dan dengki antar ulama? Ternyata itu berakar pada cinta dunia.
Ulama-ulama pendamba akhirat tentulah selalu saling mencintai dan tak pernah terpaku dengki. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr Ayat 9)
BACA JUGA: Ibadahnya Para Ulama (1)
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٠
“Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hasyr 59 ayat 10)
Abu Darda, sahabat Rasulullah, selalu berdoa bagi sahabat-sahabat yang lain setiap malam. Imam Ahmad pernah berkata kepada Putra Imam Syafi’i, “Ayahmu termasuk salah satu dari enam orang yang selalu saya doakan setiap saat menjelang pagi.”
Ulama dunia matanya selalu mengincar kursi kekuasaan, senang pujian dan harta benda. Sedangkan ulama akhirat jauh dari pengaruh yang demikian. Mereka selalu berhati-hati, takut terlibat dalam hal-hal seperti itu dan prihatin atas ulama-ulama dunia yang terjebak di dalamnya.
An-Nakha’i, seorang ulama yang sangat terkemuka pada masanya malah tidak pernah memiliki pembantu.
Al-Qamah berkata, “Aku suka sekali bila tumitku diinjak.”
BACA JUGA: Pendapat-pendapat Para Ulama dalam Hal Melafazkan Niat
Jika empat orang ulama akhirat telah berkumpul, salah satunya akan pergi karena khawatir akan terjadi ghibah.
Mereka tidak mudah mengeluarkan fakta dan selalu menghindari ketenaran. Laksana orang yang akan mengarungi lautan, mereka menyibukkan diri dengan bekal agar selamat dari gempuran badai dan gelombang.
Mereka saling mendoakan satu sama lainnya saling memberi manfaat saling membantu, karena mereka adalah penumpang yang saling bersahabat hingga bisa saling mencintai. Malam dan siang mereka selalu mengarah pada surga. []
Referensi: Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

