Meskipun Abdullah bin Ummi Maktum tidak bisa melihat, namun keinginannya untuk belajar sangat besar. Dia sangat ingin menghapal Al Quran sehingga tidak jarang dia selalu berusaha menarik perhatian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Dikisahkan pada suatu hari, Rasulullah sedang berkomunikasi dengan para tokoh Quraisy. Rasul sangat ingin mereka masuk ke Islam. Saat itu, Rasulullah berdialog dengan Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya Shaybah Amr bin Hisham atau yang lebih dikenal sebagai Abu Jahl. Selain itu ada juga Umayyah bin Khalaf, dan Walid bin Mughirah (ayah dari Khalid bin Walid si “Pedang Allah”).
Rasulullah bernegosiasi dan memberi tahu mereka tentang Islam. Harapannya agar mereka bisa menerima Islam dan menyudahi kekerasan yang dilakukan kepada para sahabatnya. Saat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam berbicara kemudian datanglah Abdullah bin Ummi Maktum meminta Rasul untuk membaca sebuah ayat Al Quran. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, ajari aku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”
Mendengar itu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengerutkan kening dan berpaling dari Abdullah. Beliau mengalihkan pandangannya kepada kaum Quraisy yang dianggap lebih utama. Beliau memandang bahwa jika kaum Quraisy mau masuk Islam maka misinya memperkuat agama Allah akan terpenuhi.
Saat inilah Allah menurunkan firmannya yang kemudian diabadikan di Al Quran pada surat ‘Abasa ayat 1 – 12. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,” (QS. ‘Abasa: 1 – 12)
Sejak kejadian itu, Rasulullah merasa bersalah kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Beliau tidak pernah berhenti bermurah hati kepadanya dan bertanya tentang urusannya, apa yang dia butuhkan, dan selalu mengajaknya setiap kali beliau melihatnya. Di tahun berikutnya, Rasulullah sering menyapa Abdullah bin Ummi Maktum dengan kata yang penuh kerendahan hati, “Selamat datang kepada yang atas dirinya, penopang hidupku menegur diriku.” []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

