Tahajjud Dapat Meringankan Lamanya Berdiri di Hari Kiamat
Tahajjud tidak harus panjang dan berat. Dua rakaat yang dilakukan dengan ikhlas di sepertiga malam terakhir sudah termasuk kemuliaan besar.
Tahajjud tidak harus panjang dan berat. Dua rakaat yang dilakukan dengan ikhlas di sepertiga malam terakhir sudah termasuk kemuliaan besar.
Sebagian ulama salaf berkata, “Ahli malam di malamnya lebih lezat daripada ahli dunia dalam dunianya.”
Yang penting adalah menjaga kesinambungan. Sebab istiqamah dalam amal kecil sering kali lebih berat daripada semangat sesaat dalam amal besar.
Waktu terbaik dan paling afdhal: sepertiga malam terakhir, berdasarkan Al-Qur’an, hadis shahih, dan ijma‘ ulama.
Para ulama salaf menjelaskan bahwa shalat malam meninggalkan bekas kebaikan pada diri seseorang.
Di saat itu, Allah turun ke langit dunia dan berfirman: “Adakah yang berdoa, maka Aku kabulkan?”
Maka, bila kita mendapati diri begitu sulit bangun di sepertiga malam terakhir, jangan hanya menyalahkan rasa kantuk atau kelelahan.
Ingatlah, orang yang shalat di akhir sepertiga malam itu sejatinya sedang mempersiapkan dirinya menjadi tamu istimewa di hadapan Allah di hari kemudian.
Sebab beliau sendiri terkadang juga tidur pada larut malam sekiranya sedang ada keperluan yang harus dikerjakan, atau karena satu dan lain hal.