Abu Bakar Ash-Siddiq, Lelaki Dewasa Pertama yang Yakin pada Nabi ﷺ
Setelah beberapa saat Hijrah, Nabi Muhammad ﷺ menikah dengan anak Abu Bakar, sehingga ikatan kekeluargaannya makin erat.
Setelah beberapa saat Hijrah, Nabi Muhammad ﷺ menikah dengan anak Abu Bakar, sehingga ikatan kekeluargaannya makin erat.
Setelah berkata seperti itu, ia mengucapkan kalimat talbiah, “Labaikallaahumma labbaik” yang artinya “Wahai Tuhanku, aku penuhi panggilan-Mu kepadaku”.
Seseorang pernah bertanya padanya. "Engkau tidak menangis saat memikirkan Jannah dan Jahannam tapi menangis saat memikirkan makam?"
MasyaAllah, cinta seperti itu, rasa hausnya disisihkan karena Nabi yang dicintai, semua rasa haus sudah cukup buat Abu Bakar.
Ditanya lagi, “Apakah engkau punya makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?”
Namun, betapa terkejutnya Ali bin Abi Thalib ketika lansia tersebut tidak memasuki ke pekarangan masjid saat di dekat pintu masjid.
Hal ini ditemukan dalam sebuah riwayat bahwa Tsauban sangat mengagumi Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sehingga dia tidak dapat menanggung ketidakhadiran Nabi…
Rasulullah berkata, “Engkau telah didahului oleh Ukasyah.”
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Tidakkah aku malu kepada seseorang yang para malaikat malu kepadanya?"
"Karena 'Qul huwallaahu ahad' adalah sifat Ar Rahman. Dan aku cinta untuk membacanya"
Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada orang-orang yang mereka kasihi dan sayangi.
"Lalu, apa yang engkau kehendaki? Kalau engkau mau, aku akan membenturkan dua gunung ini kepada mereka!’