Home KajianImam Malik: Setiap Pendapat Harus Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Imam Malik: Setiap Pendapat Harus Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Ketika menemukan pendapat yang berbeda, hendaknya kita menyikapinya dengan ilmu, adab, dan sikap objektif. Jangan terburu-buru mencela, tetapi jangan pula menerima setiap pendapat tanpa dasar.

by Abu Umar
0 comments 12 views

Imam Malik bin Anas rahimahullah merupakan salah satu ulama besar yang dikenal luas karena keluasan ilmu dan keteguhannya dalam berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, di balik kedudukannya sebagai imam yang dihormati, beliau tetap menunjukkan sikap rendah hati dan tidak menganggap pendapatnya sebagai sesuatu yang mutlak benar.

Beliau berkata, “Aku ini hanya manusia, terkadang salah dan terkadang benar. Maka perhatikan pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka peganglah. Begitu juga setiap pendapat yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”

BACA JUGA:  Fiqih pada Masa Nabi ﷺ

Nasihat ini mengajarkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah siapa yang menyampaikan sebuah pendapat, melainkan kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seorang ulama boleh memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi pendapatnya tetap perlu ditimbang berdasarkan dalil.

Sikap Imam Malik juga menunjukkan pentingnya kejujuran ilmiah. Beliau tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya dapat melakukan kesalahan. Pengakuan tersebut bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti ketakwaan dan penghormatan yang tinggi terhadap kebenaran.

Bagi seorang Muslim, nasihat ini menjadi pengingat agar tidak fanatik secara berlebihan kepada tokoh, kelompok, atau pendapat tertentu. Menghormati ulama merupakan bagian dari adab menuntut ilmu, tetapi penghormatan itu tidak boleh membuat seseorang mengabaikan dalil yang lebih kuat.

BACA JUGA:  Sebab-Sebab Perbedaan antara Ahlu Hadits dan Ahlu Ra’i dalam soal Fiqih

Demikian pula, ketika menemukan pendapat yang berbeda, hendaknya kita menyikapinya dengan ilmu, adab, dan sikap objektif. Jangan terburu-buru mencela, tetapi jangan pula menerima setiap pendapat tanpa dasar.

Pada akhirnya, nasihat Imam Malik mengajarkan bahwa ilmu harus mengantarkan seseorang kepada kebenaran, bukan sekadar kepada kebanggaan terhadap pendapatnya sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai para ulama, menghormati mereka, dan senantiasa mengembalikan setiap persoalan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. []

Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119