Home SirahMengundi Nasib di Masa Arab Jahiliyah

Mengundi Nasib di Masa Arab Jahiliyah

Tak heran, kala itu di sekeliling Ka'bah banyak berhala. Orang pertama yang melakukan itu adalah 'Amru bin Luhai, pemimpin Bani Khuza'ah, seperti diriwayatkan oleh Muslim.

by Abu Umar
0 comments 6 views

Makkah di suatu siang. Matahari begitu semangat memanggang setiap jengkal tanah. Sebuah kerumunan orang terlihat di sudut kota. Gaduh. Riuh. Mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan diiringi teriakan keras, tidak peduli dengan panas yang kian membara, membakar ubun-ubun kepala.

Mereka sedang mengundi nasib melalui sebuah permainan. Alat yang digunakan bernama Azlam, batang anak panah yang tidak ada bulunya. Ada tiga batang anak panah. Anak panah pertama ditulisi “ya”; anak panah kedua dibubuhi kata “tidak”; dan anak panah ketiga tanpa tulisan apa pun.

Jika yang keluar anak panah yang ditulisi “ya”, mereka akan melaksanakan pekerjaan yang telah direncanakan. Jika yang muncul anak panah yang ditulisi “tidak”, mereka akan menunda hingga tahun berikutnya. Namun, jika yang keluar adalah anak panah yang tak ada tulisannya, undian akan diulang.

Ini adalah kebiasaan orang Arab Jahiliyah di masa itu. Saat akan melakukan acara pernikahan atau perjalanan, mereka mengundinya dengan menggunakan ketiga anak panah itu. Kebiasaan itu telah menjadi budaya, yang diwarisi secara turun-temurun.

BACA JUGA:  Abu Bakar Tak Pernah Sentuh Khamr Bahkan Sejak Masa Jahiliyah

Azlam adalah satu di antara sekian banyak perilaku jahiliyah di masa itu, tepat pada abad kelima saat bangsa Arab mengalami kemunduran peradaban. Selain Azlam, mereka menjadikan bebatuan sebagai sesembahan. Batu yang bentuknya bagus akan dijadikan sebagai Tuhan yang mereka sembah. Namun, ketika menemukan batu lain yang lebih bagus, mereka pun mengganti batu yang lama dengan batu yang baru, dan begitu seterusnya. (HR. Bukhari)

Takhayul dan khurafat menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Paranormal dan ahli tenung memiliki fungsi sosial yang dominan dalam masyarakat. Mereka menjadi tempat meminta pendapat untuk memutuskan urusan-urusan agama.

Menariknya, pada saat yang sama, mereka juga masih melakukan tuntunan agama yang diwarisi nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim. Mereka menghormati Ka’bah, melakukan thawaf, melaksanakan haji dan umrah, wukuf di ‘Arafah, menginap di Muzdalifah, dan berkurban. Namun, ada tambahan baru dalam pelaksanaannya.

Misalnya, mereka tak mau wukuf di Arafah. Kata mereka, “Kami adalah anak keturunan Ibrahim dan penduduk tanah suci, penguasa Ka’bah dan penghuni Makkah. Tak seorang pun dari bangsa Arab yang memiliki hak dan kedudukan seperti kami. Karena itu, tidak selayaknya bagi kami untuk keluar dari tanah suci.”

Contoh lainnya adalah mereka mengucapkan talbiyah yang menyekutukan Allah.

“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali satu sekutu-Mu. Engkau memilikinya dan apa yang ia miliki.”

Talbiyah ini aneh. Di satu sisi mereka mengakui Allah, tetapi di saat yang sama mereka menyertakan berhala-berhala sebagai sekutu-Nya dan menjadikan kepemilikan atas berhala-berhala tersebut kepada-Nya.

BACA JUGA:  Kultur Arab pada Masa Jahiliyah

Tak heran, kala itu di sekeliling Ka’bah banyak berhala. Orang pertama yang melakukan itu adalah ‘Amru bin Luhai, pemimpin Bani Khuza’ah, seperti diriwayatkan oleh Muslim.

Kisahnya bermula saat ‘Amru berkunjung ke Syam. Di sana, ia berjumpa dengan kabilah ‘Amaliq di Mu’ab, salah satu wilayah al-Balqa’, yang menyembah berhala. Mereka mengatakan kepada Amru bahwa berhala-berhala itu dapat menurunkan hujan dan pertolongan.

Amru memercayainya. Ia pun meminta satu berhala untuk dibawa pulang. Kabilah ‘Amaliq memberikan sebuah berhala bernama Hubal. ‘Amru membawa Hubal ke Makkah dan mengenalkannya kepada penduduk. Ia meminta mereka untuk menyembah dan memuja Hubal, si berhala.

Penduduk Makkah menuruti perintah Amru, karena ia penguasa yang disegani. Sejak itulah, tradisi menuhankan berhala tertanam di penduduk Makkah dan Jazirah Arab. []

Sumber: The Great Story of Muhammad ﷺ : Referensi Lengkap Hidup Rasulullah ﷺ dari Sebelum Kelahiran hingga Detik-detik Terakhir / Penyusun: Ahmad Hatta, dkk. / Penerbit: Maghfirah Pustaka / Cetakan Keenam, September 2016 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119