Home KajianAdab Guru dan Bahaya Ilmu

Adab Guru dan Bahaya Ilmu

Sahabat Ali r.a. juga berkata, "Sesungguhnya di sini terdapat ilmu, bila engkau berhasil mendapatkannya maka kau akan dapat membawanya."

by Abu Umar
0 comments 9 views

Apa tugas seorang guru? Antara lain sebagai berikut: Menyayangi murid, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri, tidak meminta upah atas ilmu yang ia ajarkan, dan tidak pula balasan maupun ucapan terima kasih.

Sebaliknya, ia mengajar karena Allah swt.; tidak menganggap dirinya memiliki keutamaan atas para muridnya, namun menganggap bahwa muridlah yang lebih memiliki keutamaan. Sebab mereka mempersiapkan hati mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menanam ilmu di dalamnya. Mereka seperti orang yang menyewa lahan milik orang yang menanaminya sehingga seorang guru seharusnya meminta upah hanya dari Allah swt. Kalangan ulama terdahulu (salaf) menolak menerima hadiah dari para murid mereka.

BACA JUGA:  Ibnul Jauzi, Berguru pada 90 Orang

Guru tidak dibenarkan menyimpan nasihat sedikit pun dari murid. Guru hendaknya mencegah murid dari akhlak tercela dengan cara menyindir, sebisa mungkin.

Sebaliknya tidak dengan mencaci, karena cacian akan merusak tabir kewibawaan seorang guru. Selain itu, seorang guru harus melihat pemahaman murid dan batas akalnya. Dengan demikian, guru jangan memberikan sesuatu yang tidak mampu dipahami dan tidak dapat diterima akalnya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku diperintahkan untuk berdialog dengan orang menurut kadar akal mereka.”

Sahabat Ali r.a. juga berkata, “Sesungguhnya di sini terdapat ilmu, bila engkau berhasil mendapatkannya maka kau akan dapat membawanya.”

BACA JUGA:  Berguru kepada Guru yang Berkompeten

Imam Syafi’i berucap, “Apakah aku harus menyebarkan mutiara di antara hamparan nikmat? Ataukah aku harus membuat bait dari prosa untuk mengembala domba? Orang yang siap memberikan ilmu kepada orang bodoh, sungguh ia telah menyia-nyiakannya; dan orang yang tidak memberikan ilmu kepada orang yang memintanya, sungguh ia adalah orang yang zalim.”

Sahabat Ali r.a. juga berkata, “Dadaku dipatahkan oleh dua orang, yaitu orang berilmu yang buruk dan orang bodoh yang tekun beribadah.” []

Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / 2015 /Cet.: 2000/Kesembila

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119