Dalam kehidupan, hampir setiap orang senang dipuji dan tidak suka dicela. Ketika mendapat sanjungan, hati terasa berbunga-bunga. Sebaliknya, ketika mendengar kritikan atau celaan, dada terasa sesak dan emosi mudah tersulut. Padahal, seorang muslim yang ingin memperbaiki dirinya tidak seharusnya menjadikan pujian atau celaan manusia sebagai ukuran kebahagiaan.
Ulama besar, Ibnu Hazm rahimahullah, memberikan nasihat yang sangat mendalam. Beliau mengatakan bahwa orang yang benar-benar melihat dengan jeli justru lebih senang dengan celaan manusia daripada pujian mereka.
BACA JUGA: Celaan terhadap Bid’ah dan Ahli Bid’ah
Mengapa demikian?
Sebab pujian menyimpan bahaya yang sering tidak disadari. Jika pujian itu benar, seseorang bisa tergelincir ke dalam penyakit ujub, yaitu merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Padahal ujub adalah penyakit hati yang dapat menghapus keberkahan amal dan menjadi pintu menuju kesombongan. Banyak amal yang awalnya ikhlas akhirnya rusak karena hati terlalu menikmati sanjungan manusia.
Lebih parah lagi jika pujian itu sebenarnya tidak benar, lalu seseorang tetap merasa bangga dengannya. Berarti ia sedang bergembira dengan sesuatu yang dusta. Tentu ini adalah kekurangan yang besar bagi seorang mukmin yang menginginkan kejujuran dan kerendahan hati.
Sebaliknya, celaan sering kali membawa manfaat. Jika celaan itu benar, maka ia menjadi cermin untuk melihat kekurangan diri. Orang yang berakal akan menjadikan kritikan sebagai bahan muhasabah. Ia tidak sibuk membalas, tetapi lebih dahulu bertanya kepada dirinya, “Benarkah aku memiliki kekurangan itu?” Jika jawabannya iya, maka itulah kesempatan emas untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Namun bagaimana jika celaan itu tidak benar?
BACA JUGA: Bahaya Pujian
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa orang yang bersabar tetap memperoleh keuntungan. Ia mendapatkan pahala karena mampu menahan amarah dan menjaga lisannya. Bahkan, orang yang menzaliminya dengan celaan yang tidak benar justru akan memindahkan sebagian pahalanya kepada orang yang dizalimi pada hari kiamat. Betapa besarnya karunia Allah bagi hamba yang memilih bersabar.
Karena itu, jangan terlalu larut dalam pujian dan jangan pula hancur karena celaan. Yang paling penting bukanlah bagaimana manusia memandang kita, melainkan bagaimana Allah menilai diri kita. Pujian manusia tidak akan mengangkat derajat jika Allah murka. Sebaliknya, celaan manusia tidak akan merendahkan kehormatan seorang hamba jika Allah ridha kepadanya.
Marilah kita memperbanyak muhasabah. Jadikan setiap pujian sebagai pengingat agar tetap rendah hati, dan jadikan setiap kritikan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Semoga Allah menjadikan hati kita lebih sibuk mencari ridha-Nya daripada mengejar penilaian manusia. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

