Sepatutnya seseorang menampakkan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya sehingga tampak bekas-bekas nikmat itu pada dirinya. Namun, bukan berarti semua nikmat harus diumbar kepada setiap orang. Di sekitar kita ada banyak mata yang memandang, dengan beragam niat, perasaan, dan penilaian.
Ketika memperhatikan berbagai keadaan manusia, tampak bahwa menampakkan nikmat pada tempatnya dapat menenangkan jiwa dan menjadi bentuk syukur kepada Allah. Akan tetapi, seseorang juga harus menyadari bahwa tidak semua orang mampu menerima kebahagiaan orang lain dengan lapang dada.
BACA JUGA: Keinginan dalam Diri Manusia
Bahkan kepada orang-orang yang sangat kita cintai sekalipun, tidak ada jaminan hati mereka akan selalu bersih dari rasa iri, marah, atau dengki. Adapun jika nikmat itu diperlihatkan kepada musuh, hal itu lebih mudah membangkitkan kedengkian dan permusuhan.
Karena itu, orang yang bijaksana akan pandai menjaga berbagai urusan pribadinya. Ia tidak mudah membuka segala sesuatu kepada orang lain. Jika ia mengungkapkan umurnya, mungkin ada yang mengolok-olok karena ketuaannya. Jika ia mengatakan dirinya masih muda, mungkin ada yang meremehkannya karena kemudaannya. Jika ia membuka keyakinan atau pendapatnya kepada orang yang tidak tepat, bisa jadi ia akan dimusuhi. Jika ia menceritakan hartanya, bila sedikit ia akan diremehkan, sedangkan bila banyak ia akan mengundang rasa iri.
Seorang penyair pernah berpesan:
Jagalah lisanmu dari membicarakan tiga perkara:
umurmu, harta yang engkau miliki, dan pikiranmu.
Sebab, karena ketiganya engkau akan diuji dengan tiga hal:
diremehkan, didengki, dan didustakan.
BACA JUGA: Doa Orang yang Bersedih
Oleh sebab itu, janganlah menjadi orang yang gemar menyiarkan setiap berita dan rahasia kepada siapa pun. Tidak semua orang mampu menjaga amanah sebuah cerita. Ada yang tidak sanggup menahan rahasia sehingga menyebarkannya ke mana-mana, bahkan terkadang dengan tambahan yang tidak benar.
Ingatlah, satu kalimat yang keluar dari lisan seseorang bisa menjadi sebab datangnya penyesalan, bahkan membinasakan dirinya. Maka, bersikaplah bijak terhadap nikmat yang Allah karuniakan: tampakkan sebagai bentuk syukur pada tempat yang semestinya, tetapi jagalah apa yang perlu dijaga. Sebab, tidak semua nikmat harus diketahui oleh semua orang. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

