Manusia selalu memiliki tujuan yang menggerakkan hidupnya. Ada yang bangun setiap pagi hanya demi mengejar harta, jabatan, dan kemewahan dunia. Ada pula yang menjadikan ridha Allah serta keselamatan di akhirat sebagai cita-cita terbesar dalam hidupnya. Perbedaan tujuan ini ternyata membawa dampak yang sangat besar terhadap ketenangan hati dan keberkahan hidup seseorang.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban menceritakan sebuah peristiwa menarik.
Suatu hari, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu keluar dari kediaman Marwan pada waktu tengah hari. Orang-orang merasa heran, karena tidak biasanya Marwan memanggil beliau pada waktu seperti itu. Mereka menduga tentu ada perkara penting yang ingin ditanyakan.
Lalu seseorang menemui Zaid bin Tsabit dan bertanya tentang apa yang dibicarakan. Beliau menjelaskan bahwa Marwan sedang menanyakan beberapa hadits yang pernah beliau dengar dari Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
BACA JUGA: Nasihat Rasulullah ﷺ yang Cukup untuk Dunia dan Akhirat
Di antara hadits yang beliau sampaikan adalah sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang hanya menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu terbayang di hadapan matanya, dan dia tidak akan memperoleh dunia kecuali apa yang memang telah ditetapkan baginya. Sebaliknya, barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kekayaan berada di dalam hatinya (merasa cukup), dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”
Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa sanad hadits tersebut kuat dan seluruh perawinya adalah orang-orang yang terpercaya. Bahkan para ulama ahli hadits lainnya, seperti Al-Bushiri dan Ath-Thabarani, juga menegaskan kekuatan riwayat ini.
Hadits ini mengajarkan sebuah kaidah besar dalam kehidupan.
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama tidak akan pernah benar-benar merasa puas. Meskipun hartanya bertambah, ia tetap merasa kurang. Meski kedudukannya semakin tinggi, ia tetap khawatir kehilangan semuanya. Hatinya dipenuhi rasa takut akan kemiskinan, cemas terhadap masa depan, dan sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mampu ia kuasai sepenuhnya.
Padahal, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh dunia kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan baginya. Semua kegelisahan itu tidak akan menambah sedikit pun bagian rezekinya.
Sebaliknya, orang yang mengutamakan akhirat memperoleh karunia yang jauh lebih besar daripada sekadar harta. Allah menyatukan urusan-urusannya, menenangkan pikirannya, serta memenuhi hatinya dengan rasa qana’ah, yaitu merasa cukup terhadap karunia yang Allah berikan.
Menariknya, dunia yang sebelumnya dikejar-kejar justru akan datang menghampirinya. Bukan berarti ia pasti menjadi orang yang paling kaya, tetapi Allah akan mencukupkan kebutuhannya, memberkahi rezekinya, dan memudahkan urusan dunianya sesuai hikmah-Nya.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan?
Yang dimaksud adalah menjadikan keselamatan dari neraka dan keberhasilan meraih surga sebagai cita-cita terbesar dalam hidup. Inilah yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)
Allah juga berfirman:
“Wahai kaumku, ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, sedangkan akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38–39)
Dan Allah berfirman pula:
“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
BACA JUGA: Jumhal Mizan di Akhirat
Menjelaskan ayat terakhir ini, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa kehidupan dunia hanyalah tipuan yang segera berakhir. Adapun negeri akhirat, yaitu surga, merupakan kehidupan yang sesungguhnya. Di sanalah kehidupan yang tidak mengenal kematian, tidak ada kesedihan, tidak ada penderitaan, dan tidak ada kenikmatan yang terputus sebagaimana yang terjadi di dunia.
Karena itu, seorang mukmin tidak diperintahkan untuk meninggalkan dunia, tetapi diperintahkan agar tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir. Dunia hanyalah kendaraan menuju kampung yang abadi.
Apabila hati tertuju kepada akhirat, maka dunia akan berada di tangan, bukan di dalam hati. Sebaliknya, ketika dunia menjadi tujuan utama, hati akan terus diperbudak oleh rasa kurang dan kekhawatiran yang tidak pernah berujung.
Maka, luruskan kembali orientasi hidup kita. Jadikan surga sebagai tujuan terbesar, ridha Allah sebagai cita-cita tertinggi, dan kehidupan dunia sebagai ladang untuk menanam amal. Sebab ketika akhirat menjadi prioritas, Allah sendiri yang akan mengurus urusan dunia kita. []
SUMBER: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

