Home KajianMemohon Pertolongan dengan Doa dan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Memohon Pertolongan dengan Doa dan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Allah تعالى menjadikan amal saleh pada hari-hari itu lebih utama daripada hari-hari lainnya. D

by Abu Umar
0 comments 24 views

Kini kita hidup di tengah bulan-bulan haram yang di dalamnya pahala dan dosa dilipatgandakan. Allah تعالى berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Aku mewasiatkan diriku dan kalian agar bertakwa kepada Allah عز وجل. Sesungguhnya hari-hari telah membawa kita dengan cepat menuju kubur-kubur kita, mengurangi bulan dan tahun kita, dan itu semua adalah bagian dari umur kita. Tidak ada yang akan kita dapati di hadapan kita kecuali amal-amal kita.

“Barang siapa mengerjakan amal-amal saleh sedang dia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap usahanya, dan sesungguhnya Kami benar-benar mencatatnya.” (QS. Al-Anbiya: 94)

Wahai saudara-saudaraku seiman, kini kita hidup di tengah bulan-bulan haram yang di dalamnya pahala dan dosa dilipatgandakan. Allah تعالى berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Al-Qurthubi رحمه الله berkata:

“Janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu dengan melakukan dosa-dosa. Sebab jika Allah mengagungkan sesuatu dari satu sisi maka ia memiliki satu kehormatan. Jika Dia mengagungkannya dari dua atau beberapa sisi maka kehormatannya menjadi berlipat, sehingga hukuman atas amal buruk di dalamnya pun dilipatgandakan sebagaimana pahala amal saleh juga dilipatgandakan. Orang yang taat kepada Allah di bulan haram di negeri haram tidak sama pahalanya dengan orang yang taat kepada-Nya di bulan halal di negeri haram. Dan orang yang taat kepada-Nya di bulan halal di negeri haram tidak sama pahalanya dengan orang yang taat di bulan halal di negeri halal…” selesai perkataan beliau.

BACA JUGA: Umar bin Khattab Masuk Islam di Bulan Dzulhijjah

Di tengah berbagai musibah, kelemahan, perpecahan, dan bencana yang menimpa umat pada masa-masa ini, maka termasuk taufik Allah تعالى kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah kembalinya mereka kepada-Nya dalam berbagai kesulitan, serta memanfaatkan waktu-waktu utama yang agung dengan penuh ketundukan kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan pintu-Nya, meminta kebutuhan-kebutuhan mereka, memohon turunnya pertolongan, keamanan, dan ketenangan hanya dari-Nya semata. Barang siapa yang Allah tetapkan baginya kemenangan maka dia tidak akan terkalahkan walaupun tampak lemah.

“Jika Allah menolong kalian maka tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Tetapi jika Dia membiarkan kalian, maka siapa lagi yang dapat menolong kalian setelah itu? Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 160)

Semua ini adalah hakikat yang diyakini oleh orang-orang beriman, tanpa keraguan sedikit pun, namun terkadang mereka lalai. Sesungguhnya memohon kemenangan dengan doa dan menolong kaum tertindas dengannya adalah senjata terbesar yang dimiliki kaum mukminin, seandainya mereka mengamalkannya, terus-menerus melakukannya, dan tidak tergesa-gesa dalam menanti jawaban.

Doa adalah senjata para rasul dan pengikut mereka dari kalangan orang-orang saleh dalam menghadapi setiap musibah, fitnah, dan berbagai pergulatan kehidupan. Mereka terus berdoa dan terus memohon hingga turun pertolongan Allah تعالى. Mereka berdoa seperti orang yang mengambil sebab-sebab terkabulnya doa dan menjauhi penghalangnya. Mereka sengaja memilih tempat dan waktu-waktu utama untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, seperti bulan-bulan haram, Ramadhan, hari Jumat, sepuluh hari Dzulhijjah, dan selainnya.

Perkara doa adalah perkara yang agung, kedudukannya di sisi Allah تعالى sangat besar. Ia adalah ibadah, inti dan saripati ibadah. Ia dapat menolak takdir buruk dan mengangkat perkara yang dibenci.

Dengan doa Nabi Nuh عليه السلام, Allah سبحانه menenggelamkan seluruh bumi, dan tidak ada yang selamat kecuali Nuh dan orang-orang yang bersamanya di atas kapal.

“Maka dia berdoa kepada Rabbnya: ‘Sesungguhnya aku telah dikalahkan maka tolonglah aku.’ Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah deras. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh di atas bahtera yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pengawasan Kami sebagai balasan bagi orang yang diingkari. Dan sungguh Kami jadikan itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 10–15)

Nabi Musa عليه السلام juga memohon pertolongan kepada Rabbnya atas Fir’aun dan tentaranya. Beliau berdoa: “Ya Rabb kami, binasakanlah harta mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih.” (QS. Yunus: 88)

Maka jawaban Allah تعالى kepadanya adalah: “Sungguh telah dikabulkan doa kalian berdua, maka tetaplah istiqamah dan jangan mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yunus: 89)

Demikianlah sunnatullah pada para nabi, yaitu dikabulkannya doa mereka dan ditolongnya mereka atas musuh-musuh mereka. Allah تعالى menyebutkan hal itu tentang umat-umat terdahulu:

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikut yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Tidaklah ucapan mereka selain mengatakan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.’” (QS. Ali ‘Imran: 146–147)

Hasil dari permohonan pertolongan mereka kepada Allah تعالى dan doa mereka hanya kepada-Nya semata adalah: “Maka Allah memberikan kepada mereka pahala dunia dan pahala akhirat yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 148)

Pahala dunia yang dimaksud adalah kemenangan atas musuh-musuh.

Nabi kita Rasulullah Muhammad ﷺ berdiri pada Perang Badar, yaitu peperangan pertama dan terbesar beliau, berdoa kepada Allah تعالى dan memohon pertolongan-Nya dengan sungguh-sungguh. Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه menggambarkan peristiwa yang menggetarkan itu:

“Nabi Allah ﷺ menghadap kiblat lalu mengangkat kedua tangannya dan terus berseru kepada Rabbnya: ‘Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok kaum muslimin ini binasa maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi.’ Beliau terus memohon dengan kedua tangannya terangkat menghadap kiblat hingga selendangnya jatuh dari pundaknya. Maka Abu Bakar datang mengambil selendang itu lalu meletakkannya kembali di pundaknya dan memeluk beliau dari belakang sambil berkata: ‘Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia pasti akan memenuhi janji-Nya kepadamu.’ Maka Allah عز وجل menurunkan firman-Nya:
‘Ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian lalu Dia mengabulkan bagi kalian: sesungguhnya Aku akan membantu kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9) – (HR. Muslim)

Para sahabat dan para pemimpin kaum muslimin setelah mereka berjalan di atas manhaj nabawi ini dalam memohon pertolongan dengan doa dan menolong kaum tertindas dengannya.

Dalam penaklukan Persia, Nu’man bin Muqarrin رضي الله عنه berkata: “Aku pernah ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ. Jika beliau tidak memulai peperangan di awal siang maka beliau menunggu hingga angin bertiup dan waktu-waktu shalat tiba.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat selain Bukhari disebutkan bahwa Nu’man berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyejukkan mataku hari ini dengan kemenangan yang memuliakan Islam, menghinakan kekufuran, dan dengan syahid bagiku.”

Maka terjadilah apa yang beliau doakan; kaum muslimin menang atas Persia dan Nu’man gugur sebagai syahid.

Di antara pemimpin kaum muslimin yang paling terkenal adalah Shalahuddin Al-Ayyubi رحمه الله تعالى. Qadhi Ibnu Syaddad yang selalu bersama beliau dalam peperangan menceritakan bahwa beliau sengaja memilih waktu-waktu ketika kaum muslimin berdoa untuk melancarkan peperangan. Ia berkata:

“Beliau selalu memilih hari Jumat untuk peperangannya, terutama waktu shalat Jumat, demi mengharap keberkahan dari doa para khatib di atas mimbar, karena mungkin lebih dekat kepada pengabulan.”

Pernah pula diceritakan bahwa beliau tidak tidur semalaman karena memikirkan satu peperangan besar. Maka Ibnu Syaddad menyarankan agar beliau mendekatkan diri kepada Allah تعالى, berdoa dan memohon pertolongan-Nya, serta mendahului itu dengan sedekah. Ia berkata:

“Maka beliau melakukan semua itu. Aku shalat di samping beliau seperti biasa. Beliau shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah. Aku melihat beliau sujud sementara air matanya menetes di atas janggut putihnya lalu ke sajadahnya. Aku tidak mendengar apa yang beliau ucapkan. Belum berakhir hari itu hingga datang surat yang berisi bahwa pasukan Franka sedang kacau balau…”

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk ‘Dan berpegangteguhlah kalian kepada Allah. Dia adalah Pelindung kalian, maka Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.’” (QS. Al-Hajj: 78)

Wahai saudara-saudaraku, kita sekarang berada di sepuluh hari Dzulhijjah, yaitu hari-hari yang agung dan penuh berkah. Allah تعالى mengutamakannya di atas hari-hari lainnya. Dia bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya: “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)

Dalam hadits Jabir رضي الله عنه yang diriwayatkan Imam Ahmad disebutkan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari Dzulhijjah.

Allah تعالى juga mengkhususkannya dengan firman-Nya: “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Hari-hari yang telah ditentukan itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah.

Allah تعالى menjadikan amal saleh pada hari-hari itu lebih utama daripada hari-hari lainnya. Dalam hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:

“Tidak ada amal pada hari-hari yang lebih utama daripada amal pada hari-hari ini.”

Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad?”

Beliau menjawab: “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan mempertaruhkan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

“Yang tampak sebagai sebab keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah adalah karena berkumpulnya pokok-pokok ibadah di dalamnya, yaitu shalat, puasa, sedekah, dan haji, dan itu tidak terdapat pada waktu lain.” selesai perkataan beliau.

Syaikhul Islam dan Ibnul Qayyim رحمهما الله menyebutkan bahwa hari-hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan karena adanya hari Tarwiyah, Arafah, dan Nahr. Sedangkan malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam-malam sepuluh Dzulhijjah karena adanya Lailatul Qadar.

Dengan terbukanya dunia bagi banyak manusia, mereka menjadikan setiap liburan pendek maupun panjang untuk hiburan, permainan, kelalaian, dan perjalanan. Bisa jadi hal itu membawa mereka kepada menyia-nyiakan Jumat dan jamaah, meremehkan shalat, meninggalkan ibadah-ibadah sunnah, lalai dari dzikir dan syukur kepada Allah تعالى. Bahkan mereka mungkin melihat kemungkaran dalam perjalanan dan tempat wisata mereka yang tidak mampu mereka ingkari, dan mereka tetap berada di sana sehingga menanggung dosa karena diam terhadapnya. Bisa jadi pula mereka menjerumuskan diri mereka atau anak-anak mereka ke dalam perkara yang Allah haramkan, padahal mereka tidak membutuhkannya.

BACA JUGA:  Doa Memohon Keteguhan Hati

Subhanallah, para jamaah haji datang dari segala penjuru, menanggung banyak biaya, beratnya perjalanan, padatnya kerumunan, dan panjangnya penantian di bandara demi menunaikan manasik mereka, mengagungkan syiar Allah تعالى, dan berdzikir kepada-Nya pada hari-hari yang telah ditentukan. Sedangkan sebagian orang justru menanggung beratnya perjalanan dan biaya demi sesuatu yang melalaikan mereka dari memakmurkan hari-hari ini dengan dzikir dan ibadah kepada Allah تعالى.

Sesungguhnya beratnya amal saleh akan hilang dan pahalanya tetap tinggal. Sedangkan nikmatnya maksiat akan hilang dan dosanya tetap tinggal. Dan termasuk kerugian besar jika sepuluh hari yang penuh berkah ini dianggap manusia seperti hari-hari biasa lainnya.

Wahai hamba-hamba Allah, barang siapa berniat untuk berkurban maka hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya sejak awal malam sepuluh hari tersebut. Berdasarkan hadits Ummu Salamah رضي الله عنها bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Jika telah masuk sepuluh hari dan salah seorang dari kalian ingin berkurban maka janganlah ia menyentuh sedikit pun rambut dan kulitnya.”
Dalam riwayat lain: “Maka janganlah ia mengambil rambut dan jangan pula memotong kukunya.” (HR. Muslim)

Dan semoga orang yang terbiasa mencukur jenggotnya sepanjang tahun menjadikan sepuluh hari ini sebagai awal untuk meninggalkannya selamanya, sehingga ia bertemu Allah عز وجل dengan menjalankan sunnah Al-Mushthafa ﷺ.

Wahai hamba-hamba Allah: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56) []

SUMBER: AR-ISLAMNET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119