Home KajianHasad, hanya Boleh pada 2 Orang Ini

Hasad, hanya Boleh pada 2 Orang Ini

Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk meneladani. Inilah iri yang sehat, yang justru mendorong seseorang untuk berkembang dan memperbaiki diri.

by Abu Umar
0 comments 7 views

Hasad sering dipahami sebagai sifat tercela. Ia identik dengan iri hati, dengki, dan keinginan agar nikmat orang lain hilang. Dalam banyak ayat dan hadits, hasad memang termasuk penyakit hati yang berbahaya. Ia merusak amal, menggerogoti keikhlasan, dan menutup pintu ketenangan. Namun Islam yang sempurna tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan arah. Ternyata ada satu bentuk “hasad” yang justru diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Para ulama menyebutnya sebagai ghibthah, yaitu keinginan memiliki kebaikan seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang darinya.

Dalam sebuah hadits yang agung, Rasulullah ﷺ menjelaskan batasan ini dengan sangat jelas. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibthah) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan, dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”

BACA JUGA:  5 Cara Mengobati Hasad

Hadits ini menjadi penuntun penting dalam mengarahkan hati seorang mukmin. Pertama, seseorang yang diberi kelapangan harta, lalu ia gunakan untuk kebaikan. Bukan sekadar memiliki, tetapi mampu mengelola dan menginfakkannya di jalan yang diridhai Allah. Ia tidak tertipu oleh dunia, tidak kikir, dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Justru hartanya menjadi sarana mendekat kepada Allah. Melihat orang seperti ini, seorang mukmin boleh “iri” dalam arti ingin meniru kebaikannya, ingin juga menjadi pribadi yang dermawan dan bermanfaat.

Kedua, seseorang yang diberi hikmah, yaitu ilmu yang bermanfaat. Ia tidak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan dan mengajarkannya. Inilah tingkatan yang tinggi. Banyak orang tahu, tetapi sedikit yang mengamalkan. Banyak yang mengamalkan, tetapi belum tentu mau mengajarkan. Orang yang menggabungkan keduanya adalah sosok yang mulia di sisi Allah. Ia menjadi cahaya bagi dirinya dan orang lain. Maka wajar jika Rasulullah ﷺ mendorong kita untuk memiliki semangat seperti ini.

BACA JUGA:

Pesan besar dari hadits ini adalah mengalihkan arah keinginan hati. Jika selama ini manusia mudah iri pada kekayaan, jabatan, atau popularitas, maka Islam mengajarkan standar yang berbeda. Iri-lah pada kebaikan, pada amal, pada keberkahan hidup orang lain. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk meneladani. Inilah iri yang sehat, yang justru mendorong seseorang untuk berkembang dan memperbaiki diri.

Pada akhirnya, setiap kita perlu bertanya pada diri sendiri. Sudahkah kita menggunakan nikmat yang Allah beri untuk kebaikan? Sudahkah ilmu yang kita miliki diamalkan dan dibagikan? Jangan sampai kita sibuk melihat kelebihan orang lain, tetapi lupa membangun diri sendiri. Jadikan hadits ini sebagai kompas, agar hati tetap bersih, dan langkah hidup terarah menuju ridha Allah Ta’ala. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119