Ujian berupa penyakit berat seperti Alzheimer (pikun) tidak hanya menyentuh fisik, tetapi juga menyentuh sisi ibadah seorang hamba. Lalu bagaimana dengan amal-amal kebaikan yang dahulu rutin ia lakukan ketika masih sehat?
Dalam ajaran Islam, rahmat Allah begitu luas. Seseorang yang dahulu memiliki kebiasaan amal saleh—seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, atau berdzikir—maka ketika ia sakit hingga tidak mampu lagi melakukannya, pahala amalan tersebut tetap terus mengalir. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad ﷺ:
“Jika seseorang sakit atau bepergian, maka akan dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa ia lakukan ketika ia mukim dan sehat.” (HR. Al-Bukhari no. 2834)
Hadits ini menjadi kabar gembira bagi siapa saja yang terbiasa istiqamah dalam kebaikan. Ketika ia terhalang oleh uzur seperti sakit, Allah tetap menuliskan pahala seakan-akan ia masih mengerjakannya.
Para ulama juga menjelaskan perbedaan antara orang yang kehilangan akal karena sakit dengan orang yang sengaja menghilangkan akalnya, seperti mabuk. Muhammad ibn Idris al-Shafi’i رحمه الله menegaskan bahwa orang sakit tetap mendapatkan pahala dan penghapusan dosa, karena ia tidak lagi memiliki kemampuan berpikir yang sempurna. Berbeda dengan orang mabuk yang tetap berdosa, karena ia sengaja memilih jalan tersebut.
Lebih jauh, para ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani رحمه الله menjelaskan adanya perbedaan antara pahala karena musibah dan pahala karena kesabaran. Seseorang bisa mendapatkan pahala hanya karena tertimpa musibah. Namun jika ia bersabar dan ridha, maka ia akan memperoleh pahala tambahan yang lebih besar.
BACA JUGA: Apakah Shalat Taubat Disyariatkan?
Sebagian ulama berpendapat bahwa pahala membutuhkan kesabaran. Namun pendapat ini dikritisi oleh ulama lain dengan dalil bahwa orang yang kehilangan akal tetap mendapatkan pahala, meskipun ia tidak mampu menghadirkan kesabaran secara sadar. Ini menunjukkan bahwa karunia Allah melampaui keterbatasan manusia.
Kesimpulannya, orang yang tertimpa musibah seperti Alzheimer tetap mendapatkan kebaikan: pahala dari amal yang dahulu ia lakukan, serta penghapusan dosa dari penyakit yang ia alami. Jika ia mampu bersabar, maka pahalanya berlipat. Jika tidak mampu karena hilangnya akal, maka ia tetap berada dalam limpahan rahmat Allah.
Inilah bukti bahwa Allah Maha Adil sekaligus Maha Pengasih. Tidak ada satu pun penderitaan seorang mukmin yang sia-sia di sisi-Nya. []
SUMBER: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

