Home Nasihat UlamaOrang-orang yang Tertipu: Terus Berbuat Maksiat

Orang-orang yang Tertipu: Terus Berbuat Maksiat

Sebagian lain tertipu dengan anggapan bahwa Allah tidak butuh kepada adzab-Nya karena adzab tersebut tidak akan menambahkan sesuatu apa pun dalam kerajaan-Nya.

by Abu Umar
0 comments 61 views

Orang-orang jahıl (yang bodoh dalam agama) memiliki berbagai keanehan dan keajaiban. Contohnya, perkataan salah seorang dari mereka berikut ini:

وَكَثَرُ مَا اسْتَطَعْتَ مِنَ الْخَطَايَا إِذَا كَانَ القُدُوْمُ عَلَى كَرِيمٍ

Perbanyaklah dosa sesuai kesanggupanmu
Jika akhirnya kita menghadap pada Yang Maha Pemurah

Ada lagi yang berkata: “Menyucikan diri dari dosa merupakan suatu kebodohan terhadap luasnya sifat pemaaf Allah.”

Ada yang berkata: “Meninggalkan dosa merupakan kelancangan dan penghinaan terhadap ampunan Allah.”

Abu Muhammad bin Hazm berkata: “Aku melihat sebagian mereka memohon dalam doanya: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku ber-lindung kepada-Mu dari ‘ishmah (terjaga dari kesalahan)!”

BACA JUGA:  Keadaanmu Dalam Kuburmu Kelak

Sebagian orang yang tertipu tersebut terpengaruh dengan masalah jabr (paham Jabariyyah) yang menyatakan seorang hamba sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat dan memilih, namun ia dipaksa untuk melakukan perbuatan maksiat.

Sebagian lain tertipu dengan masalah ırja’ (paham Murji-ah). Menurut paham Murji-ah, iman itu hanyalah sebatas pembenaran, sedangkan amal bukan merupakan bagian dari iman, sehingga iman orang yang paling fasik pun sama seperti iman Malaikat Jibril serta Malaikat Mikail.

Sebagian lagi tertipu dengan mencintai orang-orang yang dianggap keramat, para syaikh, dan orang-orang shalih. Misalnya, dengan banyak mengunjungi kuburan para wali Allah tersebut, memohon kepada mereka dengan merendahkan diri, meminta syafa’at mereka, bertawassul kepada Allah dengan mereka, serta berdoa kepada-Nya dengan hak mereka atas Allah dan kehormatan mereka di sisi-Nya.

Sebagian lain tertipu dengan kebesaran nenek moyang dan para pendahulunya. Ia menyangka bahwa mereka mempunyai kedudukan dan derajat keshalihan di sisi Allah. la juga menyangka bahwa mereka tidak akan meninggalkannya hingga berhasil mencarikan jalan keluar untuknya. Hal ini dapat disaksikan di kalangan para raja. Mereka melimpahkan dosa keturunan dan keluarga mereka kepada “orang-orang khusus” di sekitar mereka. Jika salah satu dari mereka terjerumus melakukan dosa besar, maka ayah atau kakeknya mencarikan jalan keluar untuknya dengan pangkat dan kedudukannya.

Sebagian lain tertipu dengan anggapan bahwa Allah tidak butuh kepada adzab-Nya karena adzab tersebut tidak akan menambahkan sesuatu apa pun dalam kerajaan-Nya, sebagaimana rahmat-Nya tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Nya.

Ia berkata: “Aku benar-benar membutuhkan rahmat-Nya. Allah adalah Dzat yang Mahakaya. Sekiranya seorang fakir lagi miskin yang benar-benar membutuhkan seteguk air meminta kepada seseorang yang di sekitar rumahnya terdapat sungai yang mengalir, tentulah ia tidak akan mencegah orang fakir tadi untuk minum di sungai tersebut. Allah tentu saja jauh lebih dermawan dan kaya dibandingkan orang tadi. Di samping itu, ampunan tidak akan membuat kerajaan-Nya berkurang sedikit pun dan adzab tidak akan membuat kerajaan-Nya bertambah sedikit pun.”

BACA JUGA:  Kemaksiatan Melahirkan Kemaksiatan Lain yang Semisalnya

Terjadi kesalahan yang sangat fatal seputar masalah irja pada zaman ini, hingga orang-orang terbagi menjadi dua kelompok orang yang ekstrim dan orang yang menyepelekan Ada berita yang sampai kepadaku darı sebagian kelompok itu, bahwa salah seorang dari mereka menulis sebuah risalah yang menyatakan bahwa perkataan Ahlus Sunnah: “Kita tidak mengkafirkan salah seorang pun dari ahli kiblat disebabkan dosa yang dikerjakan, selama ia tidak menghalalkannya, merupakan bagian dari pemahaman irja.”

Jika berita tersebut benar, maka hal in menunjukkan rusaknya pemikiran, hancurnya pendapat, dan buruknya pemahaman penulis tadi. Ada semacam ‘semangat yang mendorong orang-orang semisal penulis di atas untuk berbuat kelancangan yang bathil seperti ini, dengan perantaraan waswas dan syubhat yang disangkanya sebagai hujjah dan dalil, padahal ia sama sekali bukan hujjah dan dalil! []

Sumber: Ad daa Wad Dawaa, Macam-macam Penyakit hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam As-Syafi’i, Cetakan ke-10 November 2016 M 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119