Wudhu bukan sekadar syarat sah untuk shalat. Ia adalah bentuk penyucian diri yang memiliki nilai ibadah tersendiri. Dalam keseharian seorang Muslim, wudhu sering kali dilakukan berulang kali, namun tidak semua orang menyadari bahwa ada banyak keadaan di mana berwudhu dianjurkan, meskipun tidak sedang hendak menunaikan shalat. Anjuran ini menunjukkan betapa Islam sangat menekankan kebersihan lahir sekaligus kesiapan batin dalam setiap aktivitas.
Perkara-perkara yang dianjurkan untuk berwudhu mencerminkan keindahan ajaran Islam yang menyentuh berbagai sisi kehidupan. Dari bangun tidur hingga sebelum tidur kembali, dari membaca Al-Qur’an hingga menjaga kesucian diri dalam kondisi tertentu, semuanya memiliki nilai tersendiri. Dengan memahami hal-hal ini, seorang Muslim tidak hanya menjaga kebersihan fisik, tetapi juga merawat hati agar selalu dekat dengan Allah dalam setiap keadaan.
BACA JUGA: Disunnahkan Mengakhirkan Shalat Isya
Berikut adalah beberapa hal yang dianjurkan untuk berwudhu:
1. Ketika berdzikir kepada Allah termasuk di dalamnya berdzikir secara mutlak, membaca Al-Qur’an dan thawaf di Kakbah dan semisalnya.
Dianjurkan untuk berwudhu ketika mengerjakan hal tersebut di atas berdasarkan hadits Al-Muhajir bin Qunfudz, bahwa dirinya mengucapkan salam kepada Rasulullah ketika beliau sedang berwudhu. Namun beliau tidak menjawab salamnya hingga selesai berwudhu. Lalu beliau menjawab salamnya dan memberi penjelasan:
إِنَّهُ لَمْ يَسْتَعْنِي أَنْ أَرْدَّ عَلَيْكَ إِلَّا أَنِّي كرهت أن أذكر الله إلا على طهارة
“Sesungguhnya, aku tidak suka menyebut nama Allah melainkan dalam keadaan suci (atau beliau mengatakan, dalam keadaan thaharah)”
Walaupun hadits ini tidak menunjukkan keharusan, sebagaimana hadits Aisyah yang ada dalam riwayat Imam Muslim (4/68). “Bahwa Nabi Muhammad senantiasa berdzikir kepada Allah setiap saat.”
2. Sebelum tidur
Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقَّكَ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ …..
“Jika kamu mendatangi pembaringanmu. umu, maka berwudhulah seperti wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah pada sisi tubuhmu yang sebelah kanan, lantas ucapkanlah: Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu.”
3. Orang yang sedang junub dan ingin makan, tidur atau mengulangi persetubuhan
Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah ia menuturkan, “Jika Rasulullah sedang junub lalu ingin makan atau tidur, maka beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak mengerjakan shalat.”
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudhri, Nabi bersabda:
إِذَا أَنَّى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّاً
“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, kemudian ia ingin mengulanginya (bersetubuh), maka hendaklah ia berwudhu.”
4. Berwudhu sebelum mandi besar
Diriwayatkan dari Aisyah, ia menuturkan, “Nabi jika mandi besar beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya dimulai dari yang kanan kemudian kiri. Kemudian beliau membasuh kemaluannya. dan berwudhu seperti wudhu untuk shalat.”
5. Berwudhu setelah memakan masakan yang dimasak dengan api Sebagaimana sabda Nabi:
تَوَضَّلُّوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ
“Berwudhulah kalian setelah makan makanan yang dimasak dengan api.” Perintah di dalam hadits ini sebagai bentuk anjuran. Berdasarkan hadits Amru bin Umayyah Ad-Dhamiri, ia menuturkan. “Aku melihat Nabi memotong daging dari pundak kambing lalu memakannya. Kemudian shalat diserukan, maka beliau bangkit dan meletakkan pisaunya. Beliau mengerjakan shalat dan tidak berwudhu lagi.”
BACA JUGA: 5 Hal Makruh dalam Wudhu
6. Memperbaharui wudhu setiap kali hendak shalat
Diriwayatkan oleh Buraidah, ia menuturkan, “Setiap kali hendak mengerjakan shalat, Nabi berwudhu terlebih dahulu. Saat pembebasan kota Makkah, beliau berwudhu, mengusap sepatunya kemudian mengerjakan beberapa shalat dengan sekali wudhu.”
7. Berwudhu setiap kali berhadats
Hal ini berdasarkan hadits Bilal, bahwa Nabi mendengar suara langkah sandal Bilal di depan beliau di surga.” Maka, beliau bertanya, “Wahai Bilal, apa yang menyebabkan kamu mendahuluiku ke surga?” Bilal pun menjawab, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mengumandangkan adzan, melainkan aku pasti shalat dua rakaat dan tidaklah aku terkena hadats, melainkan aku selalu berwudhu sesudahnya.” Nabi mengatakan Itulah penyebabnya.
8. Berwudhu setelah muntah
Hal ini berdasarkan hadits Madan bin Abu Thalhah dari Abu Dardi ia menuturkan bahwa Rasulullah pernah muntah, hingga beliau pun berbuka dan berwudhu. Aku bertemu Tsauban di Masjid Damaskus dan menceritakan hal itu kepadanya. Dia berkata, “Benar, akulah yang menuangkan air wudhu untuk beliau. []
Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

