Di antara sifat buruk yang Allah cela dalam Al-Qur’an adalah sifat kanud. Sifat ini menunjukkan betapa lemahnya manusia dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya.
Ibn Qayyim al-Jawziyya rahimahullah mengatakan bahwa Allah mencela orang yang disebut kanud, yaitu orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Celaan ini disebutkan secara tegas dalam firman-Nya:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya.” (QS. Al-‘Adiyat: 6)
Ayat ini terdapat dalam Surah Al-‘Adiyat, yang menggambarkan tabiat manusia ketika ia jauh dari bimbingan iman.
BACA JUGA: Golongan Manusia dalam Fitnah Kubur
Apa Makna “Kanud”?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kanud memiliki makna yang dalam. Di antara penjelasan mereka:
- Mengingkari nikmat Allah
- Melupakan kebaikan yang telah diterima
- Banyak mengeluh, sedikit bersyukur
- Menyebut-nyebut musibah, tetapi melupakan karunia
Sebagian salaf mengatakan: Kanud adalah orang yang menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat.
Betapa sering manusia ketika ditimpa satu kesulitan, ia mengeluh seakan-akan tidak pernah merasakan kebaikan sebelumnya. Padahal nikmat Allah datang silih berganti setiap hari — nikmat iman, kesehatan, keluarga, rezeki, keamanan, dan yang lainnya.
Mengapa Sifat Ini Dicela?
Karena hakikatnya seluruh nikmat berasal dari Allah. Ketika seseorang tidak bersyukur, berarti ia:
- Mengingkari karunia Rabbnya.
- Tidak mengakui kelemahan dirinya.
- Tidak menggunakan nikmat untuk ketaatan.
Padahal Allah telah menjanjikan dalam Al-Qur’an bahwa syukur akan menambah nikmat, sedangkan kufur nikmat mendatangkan azab.
Sifat kanud juga menunjukkan kerasnya hati. Hati yang tidak peka terhadap kebaikan Allah akan mudah terjerumus dalam keluhan, iri, bahkan maksiat.
Renungan untuk Diri Kita
Ayat ini bukan hanya menceritakan tentang tabiat manusia secara umum, tetapi menjadi cermin untuk kita masing-masing.
Ketika doa belum terkabul, apakah kita tetap bersyukur?
Ketika rezeki terasa sempit, apakah kita masih mengingat nikmat lainnya?
Ketika diuji, apakah kita melihatnya sebagai penghapus dosa?
Jika kita lebih sering mengingat kekurangan daripada karunia, bisa jadi sifat kanud mulai tumbuh dalam diri.
BACA JUGA: 3 Jenis Hati Manusia
Obat dari Sifat Kanud
- Mengingat nikmat secara sadar setiap hari.
- Mengucapkan hamdalah dalam segala keadaan.
- Menggunakan nikmat untuk ketaatan.
- Banyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
Orang yang bersyukur bukanlah orang yang tidak pernah diuji, tetapi orang yang melihat bahwa di balik setiap ujian tetap ada nikmat Allah.
Penutup
Sifat kanud adalah tabiat manusia yang dicela oleh Allah dalam Surah Al-‘Adiyat. Ia adalah sikap tidak tahu berterima kasih kepada Rabb yang telah melimpahkan begitu banyak karunia.
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat kanud dan menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, baik dalam kelapangan maupun kesempitan. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

