Home IbadahSafar untuk Tujuan-tujuan Ini

Safar untuk Tujuan-tujuan Ini

Setelah itu, mencari rekan (perjalanan) yang saleh, mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga dan para sahabat. Melaksanakan shalat istikharah dan hendaknya safar dimulai pada hari Kamis pagi.

by Abu Umar
0 comments 120 views

Sedikit sekali orang yang dianggap berilmu sejak masa sahabat hingga ke zaman kita hari ini kecuali mendapatkan ilmu dengan cara bersafar, atau bersafar dengan tujuan mendapatkan ilmu.

Adapun mencari ilmu untuk memperbaiki moral dan jiwanya juga merupakan prinsip yang sangat penting, karena jalan akhirat tidak mungkin ditempuh kecuali dengan memperbaiki akhlak dan menjernihkannya. (Tahukah engkau) mengapa bepergian dalam bahasa Arab disebut safar karena tugasnya adalah untuk menjernihkan akhlak.

Secara ringkas, dapat disimpukan bahwa diri manusia di kampung halamannya tidak akan melihat kekurangan di dalam akhlaknya, karena ia terbiasa berada di tempat yang memakluminya.

Jika ia keluar dari kampungnya, pergi untuk melakukan perjalanan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, menuju tempat baru yang tidak sama dengan kondisi tempat tinggalnya, dan mulai diuji dengan sulitnya berada di pengasingan, ketika itu ia akan melihat kekurangan di dalam dirinya dan mulai memahami aib-aib yang menggerogotinya.

BACA JUGA:  Hukum Safar bagi Wanita tanpa Mahram

Terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan tentang bumi Allah SWT dan bagi yang ingin menelitinya, niscaya akan menemukan sejumlah faedah. Salah satu-nya firman-Nya yang berbunyi, “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan.” (ar-Ra’d: 4)

Di bumi terdapat pegunungan, daratan, gurun pasir, laut, berbagai macam hewan, tanaman, dan tidak satu pun dari semua hal itu kecuali mereka bersaksi bahwa Allah SWT itu Maha Esa dan bertasbih kepada-Nya. Tidak akan ada yang dapat melihat kecuali, “Orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengaran-nya, sedang dia menyaksikannya.” (Qåf: 37)

Adapun yang kami maksud dengan pendengaran di sini adalah pendengaran batin yang dengannya lidah im-materi yang berbicara dapat didengar. Tidak ada satu biji atom pun di langit dan bumi kecuali menyaksikan keesaan Allah SWT.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa salah satu faedah safar adalah menyelamatkan diri dari kekuasaan, pangkat yang tinggi, dan banyaknya relasi, kare-na agama (yang utuh) hanyak akan dapat diraih dengan hati yang telah kosong selain Allah SWT.

Di dunia ini, kosongnya hati dari urusan-urusan dunia dan kepentingan-kepentingan mendesak tidak akan mungkin bisa didapat, namun hati dapat diminimalisir isinya dari hal-hal tersebut.

Orang yang selamat adalah ia yang dapat memini-malisir urusan dunia di hatinya, sementara orang yang binasa adalah orang yang lebih banyak mengisi hatinya dengan hal-hal yang berbau duniawi. Orang yang selamat ini adalah orang yang tidak menjadikan dunia sebagai perhatiannya yang paling besar.

Sebagian safar hukumnya boleh, seperti safar dengan tujuan hendak melihat dunia luar dan bertamasya, adapun pelisiran tidak ada tujuan dan tidak pula ke tempat yang baik maka hukumnya tidak boleh. Diriwayatkan dari Thawis bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada sistem kependetaan, tidak ada (anjuran untuk) untuk membujang, tidak ada pula (anjuran) untuk berdarmawisata (tanpa tujuan) dalam Islam.”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak ada darmawisata di dalam Islam dalam hal apa pun, tidak pula dari amalan para nabi dan orang saleh.”

Karena safar dapat memecah-belah fokus dalam hati maka hendaknya pendamba Allah SWT tidak melakukan safar kecuali demi memperoleh ilmu atau menemui seorang syekh (guru) yang diikuti perkataannya.

BACA JUGA:  Kriteria Memilih Seorang Sahabat

Di dalam safar terdapat adab-adab yang telah diketahui dan tercantum di dalam manasik haji dan lain-lainnya. Salah satunya adalah memulai dengan meninggalkan berbagai dosa, membayar utang, mempersiapkan nafkah kepada orang yang berhak, dan tidak menerima titipan.

Setelah itu, mencari rekan (perjalanan) yang saleh, mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga dan para sahabat. Melaksanakan shalat istikharah dan hendaknya safar dimulai pada hari Kamis pagi.

Kemudian, seorang yang hendak bersafar hendaknya tidak melakukan perjalanan sendirian, baik pula agar sebagian besar perjalanannya dilakukan di malam hari dan tidak melalaikan zikir dan doa-doa saat tiba di suatu rumah, mendaki, atau menuruni bukit. Membawa barang-barang yang diperlukan di dalam perjalanan, semisal siwak, sisir, cermin, celak, dan lain-lain. []

Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / 2015 /Cet.: 2000/Kesembilan

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119