Saya merasa aneh dengan orang yang menganggap bahwa malaikat jauh lebih utama daripada para nabi dan wali. Jika keutamaan itu dilihat dari segi bentuk tubuh dan rupa, ketahuilah bahwa rupa anak-anak Adam jauh lebih menakjubkan daripada para pemilik sayap-sayap itu (malaikat, Penj.).
Jika rupa anak-anak Adam itu dianggap jelek karena di dalam tubuhnya terdapat banyak kotoran, ketahuilah bahwa rupa itu bukanlah anak Adam itu sendiri, melainkan hanyalah gambaran luarnya.
Banyak hal manusiawi yang dianggap jelek, namun justru baik. Misalnya bau mulut seseorang yang berpuasa, darah para syahid, dan tidur dalam shalat. Rupa hanyalah gambaran kasarnya. Keutamaan manusia haruslah dilihat secara maknawi.
Mengapa sebagian orang mengira bahwa malaikat lebih utama daripada manusia? Jika malaikat diutamakan karena substansinya, substansi manusia sebe-narnya lebih baik. Namun, manusia memiliki beban lain, yaitu tubuhnya sendiri yang menyertai ruhnya.
BACA JUGA: Berterima Kasih kepada Manusia, Bersyukur kepada Allah
Sungguh aneh bila Anda menganggap malaikat lebih mulia daripada manusia hanya karena ibadah mereka yang banyak dan tiada henti. Padahal, mereka memang diciptakan dengan tabiat demikian.
Apakah Anda merasa aneh pula dengan air begitu deras mengalir dan benda yang jatuh bergerak dengan cepat? Yang aneh adalah jika ada sesuatu yang naik ke atas dan dengan gagah menghadapi rintangan yang ada di hadapannya.
Ada pula kalangan yang memandang, bahwa para malaikat itu mendurhakai Allah (sebagaimana termaktub dalam kisah-kisah Perjanjian Lama, Penj.). Kalangan yang lainnya menganggap malaikat sebagai Tuhan, karena kemampuan mereka menghancurkan batu. Oleh karena-nya, mereka diancam Allah dengan firman-Nya, “Barang siapa di antara mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah, maka orang itu akan Kami balas dengan Jahannam.” (al-Anbi-ya [21]: 29). Mereka tahu apa yang akan terjadi jika mengatakan demikian, oleh karenanya mereka tidak pernah melakukannya.
Ketahuilah, kematian akan datang sebagai sesuatu yang sangat pahit dan mengerikan, lalu ruh dicabut dari badan. Meski demikian, haruslah dikatakan kepada manusia, “Jika kematian itu datang, teguhkanlah hatimu dan janganlah sekali-kali goyah!”
Kita memang masih jauh dari pengetahuan yang hakiki. Kita masih lemah keyakinan pada hal-hal yang dilarang. Kita masih punya kecenderungan pada hal-hal yang berbau syahwat. Kita masih sering lalai. Semuanya membutuhkan perjuangan yang lebih berat untuk mengatasinya daripada perjuangan para malaikat.
Demi Allah! Jika para malaikat itu diberi cobaan seperti yang kita alami, belumlah tentu mereka akan mampu. Saat kita bangun pagi, tuntutan syariat telah menyuruh, “Carilah rezeki untuk keluargamu dan berhati-hatilah dalam mencari nafkah.” Lebih daripada itu, di antara kita ada yang sangat mencintai keluarga dan anak-anaknya, hingga cinta itu tumbuh melebihi batas. Jasmani kita pun membutuhkan banyak hal yang memang menjadi kebutuhannya.
Malaikat memang tidak memiliki rasa cinta atau semisalnya. Oleh karena itu, perintah manusiawi tidak diperuntukkan bagi malaikat. Misalnya, perintah Allah kepada Nabi Ibrahim al-Khalil, “Sembelihlah anakmu dengan tanganmu sendiri dan potonglah buah hatimu dengan telapak tanganmu sendiri atau ‘Bersiaplah kamu untuk dijerumuskan ke dalam api!”
Demikian pula, malaikat tak perlu diperintah dengan apa yang biasa disampaikan kepada mereka yang sedang marah, “Bersabarlah!” Kepada orang yang melihat, “Tundukkanlah pandanganmu!” Kepada yang gemar berbicara, “Diamlah!” Kepada orang-orang yang menikmati tidurnya, “Shalat tahajjudlah!” Atau kepada orang yang bersedih ditinggal orang yang sangat dicintainya, “Bersabarlah!” Kepada mereka yang sakit, “Bersyukurlah!” Kepada seseorang yang berada di tengah kecamuk perang di medan jihad, “Janganlah engkau lari!”
Ketahuilah, kematian akan datang sebagai sesuatu yang sangat pahit dan mengerikan, lalu ruh dicabut dari badan. Meski demikian, haruslah dikatakan kepada manusia, “Jika kematian itu datang, teguhkanlah hatimu dan janganlah sekali-kali goyah!”
Anda akan dicabik-cabik di dalam kubur. Oleh karena itu, janganlah merasa gentar, karena semua itu akan sesuai dengan kodratnya. Jika penyakit menimpa Anda, janganlah Anda mengeluhkan hal itu kepada makhluk.
Adakah malaikat mengalami itu semua? Tidakkah ibadah mereka memang lurus ke satu arah sebagaimana mereka diciptakan sejak semula? Bukankah mereka juga tidak perlu susah-susah menahan hawa nafsu yang menggelora?
BACA JUGA: Agar Didoakan Malaikat Ketika Tidur
Tidak berarti bahwa saya meremehkan ibadah para malaikat. Mereka sangatlah taat dan penuh rasa takut karena pengetahuannya tentang Allah begitu sempurna. Namun, keteguhan orang yang tidak mudah tergoda akan menguatkan jiwa. Sementara itu, orang yang memiliki kemungkinan untuk tergelincir pastilah dapat menjaga diri. Hal itu akan mening katkan kualitas spiritualnya.
Wahai saudara-saudaraku, sadarlah akan kemuliaan diri Anda. Jagalah mutiara jiwa Anda agar tidak ternodai dengan gumpalan-gumpalan dosa. Dengan demikian, Anda akan lebih mulia daripada para malaikat.
Berhati-hatilah, jangan sampai Anda menghancurkan jiwa, pribadi, dan diri sendiri, hingga Anda akan berubah menjadi hewan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

