Home KajianMenundukkan Diri Sendiri

Menundukkan Diri Sendiri

Kita laksana penjaga. Hawa nafsu bukanlah miIlk kita, namun adalah barang titipan.

by Abu Umar
0 comments 101 views

Saya merenung tentang jihad melawan hawa nafsu atau menundukkan keinginan diri sendiri. Akhimya, saya sampai pada kesimpulan, bahwa itulah jihad paling besar.

Banyak ulama dan orang zuhud yang tidak memahami maknanya, karena me rekamalah menutup pintu bagi syahwat untuk bisa menikmati hak-haknya. Yang demikian itu justru adalah kekeliruan, setidaknya jika dilihat dari dua sisi

Pertama, jika seseorang mencegah hawa nafsunya dari sesuatu yang halal, pada saat yang sama mungkin saja justru mengarahkan nafsunya pada maksiat. Misalnya, mencegah dari barang-barang yang halal, lalu tersiar di masyarakat luas, sehingga ia sebenarnya telah membuat nafsunya mabuk pujian, la akan berusaha menyembunyikan keterlenaan dengan pujian-pujian itu ia pun jatuh ke dalam maksiat. Hal semacam ini membutuhka kecermatan agar kita selamat dari tipu daya yang sangat samar.

Kedua, kita diperintahkan untuk menjaga hawa nafsu, salah satu caranya ialah dengan memberikan peluang untuk menikmati kecenderungannya pada hal-hal apapun. Konsekuensinya, kita harus memberikan santapan santapan agar ha wa nafsu tetap terkendali.

BACA JUGA: Nikmatnya Mengendalikan Nafsu

Kita laksana penjaga. Hawa nafsu bukanlah miIlk kita, namun adalah barang titipan. Mencegah dan menghalangi hawa nafsu untuk mendapat kan hak-haknya akan memunculkan bahaya. Perlakuan yang terlalu ketat akan memunculkan keengganan dan mempersempit ruang geraknya. Muncullah perlawanan sehingga akan sulit dikendalikan.

Berjuang melawan hawa nafsu ibarat berjuangnya orang sakit yang cerdik la bersabar untuk meminum obat yang pahit sesuai anjuran dokter, meskipun enggan, karena berharap dirinya sehat. la tidak menuruti hawa nafsu untuk mengonsumsi apapun yang akan membuatnya menyesal.

Demikianlah, orang-orang Mukmin yang cerdas tidak akan lepas kendali. la akan berlaku bijak, mampu mengulur dan menarik sesuatu pada saat yang te pat. Saat melihat nafsunya berada pada jalur yang tepat, ia tidak mengekangnya Namun, saat nafsu itu terasa mulai menyimpang, ia segera berusaha meluruskan dengan cara yang halus. Jika nafsu tetap melawan, tindakan yang lebih tegaslah yang dilakukan.

Letakkan nafsu itu pada tempat yang terhormat, seperti seorang istri yang akalnya cenderung labil dan lemah. Saat ia berbuat nusyuz (meninggalkan kewajiban kewajibannya sebagai seorang istri, hendaklah dinasihati. Jika masih belum baik, tinggalkanlah untuk sementara. Jika masih belum lurus juga, boleh dipukul (yang tidak melukainya, Penj). Itulah perjuangan dalam bentuk amalan.

Perjuangan yang lainnya adalah secara lisan. Seharusnya istri dibina dan dibimbing. Jika istri telah menjurus pada perbuatan jahat dan akhlak yang buruk, harus diingatkan akan makna kebesaran Sang Khaliq. Jika sang istri menyombongkan diri, katakanlah, “Engkau hanyalah berasal dari tetesan sperma yang hina. Engkau akan mati hanya dengan sekali pukulan. Engkau akan kesakitan bila digigit kumbang penghisap darah!”

BACA JUGA: Kebaikan dan Keburukan

Jika si istri lalai akan kewajiban-kewajibannya, ingatkanlah akan hak-hak Allah atas hamba-Nya. Jika masih keberatan untuk beramal, ingatkanlah akan besarnya pahala. Jika terus melenceng dan hanyut terbawa hawa nafsu, ingatkanlah akan siksaan yang sangat besar yang mungkin langsung ditimpakan Allah secara nyata.

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku bagaimana jika seandainya Allah mencabut pendengaran dan periglihatanmu.” (al-An’am (6): 46)

Selain itu, siksaan dan azab Allah bisa berupa hal-hal yang tak terlihat, sebagai mana firman-Nya, “Aku akan memalingkan orang-orang yang berpaling (dengan sombong) dari tanda tanda kekuasaan-Ku tanpa alasan alasan yang benar.” (al-A’raf [7]: 146)

Orang-orang Mukmin yang cerdas tidak akan lepas kendali. la akan berlaku bijak, mampu mengulur dan menarik sesuatu pada saat yang tepat. []

Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119