Demikianlah kondisi musuh-musuh Rasulullah Adapun kondisi para shahabat dan rekan-rekan beliau lain lagi, kedudukan beliau di sisi mereka ibarat ruh dan jiwa. Semua urusan beliau menempati hati dan mata mereka. Cinta yang tulus terhadap diri beliau mengalir terhadap beliau bak aliran air ke dataran rendah. Keterpikatan hati mereka terhadap beliau laksana tarikan magnet terhadap besi.
Oleh karena itu, sebagai implikasi dari rasa cinta dan siap mati ini membuat mereka tidak gentar bila leher harus terpenggal, kuku terkupas atau ditusuk oleh duri.
Suatu hari ketika di Mekkah, Abu Bakar bin Abi Quhafah pernah diinjak dan dipukul dengan keras. Di tengah kondisi seperti itu, Utbah bin Rabi’ah mendekatinya sembari memukulinya lagi dengan kedua terompahnya yang tebal dan melayangkannya ke arah wajahnya. Tidak cukup di situ, dia kemudian melompat di atas badannya dan jatuh tepat di atas perut Abu Bakar hingga wajahnya bonyok, tidak bisa diketahui lagi mana letak hidung dari wajahnya.
BACA JUGA: Mengapa Rasulullah Diperintahkan untuk Beristighfar ketika Fathu Mekkah?
Setelah itu, dia diangkut dengan menggunakan bajunya oleh suku Bani Tamim kemudian dicampakkan ke rumahnya. Mereka sama sekali tidak menyangsikan bahwa dia pasti sudah tidak bernyawa. Saat hari beranjak sore, dia tersadar dan berbicara, “Apa yang terjadi terhadap diri Rasulullah?” Mereka mencibirnya dengan lisan mereka dan mengumpatinya, lalu berdiri dan berkata kepada ibunya, Ummul Khair, “Terserah, apa yang akan engkau lakukan; memberinya makan atau minum.”
Ketika sang ibu hanya tinggal berdua saja dengan anaknya, dia membujuknya agar mau makan atau minum. Tetapi, justru sang anak malah berkata, “Apa yang terjadi terhadap diri Rasulullah?”
Ibunya menjawab, “Demi Allah! aku tidak tahu sama sekali tentang shahabatmu itu.”
Dia berkata, “Kalau begitu, pergilah menjumpai Ummu Jamil binti Al-Khaththab lalu tanyakanlah kepadanya.”
Sang ibu pergi keluar hingga sampai ke rumah Ummu Jamil, lantas berkata. “Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang Muhammad bin Abdullah.”
Dia menjawab, “Aku tidak kenal siapa Abu Bakar dan juga Muhammad bin Abdullah. Jika engkau ingin aku menyertaimu menemui anakmu, akan aku lakukan.”
Dia menjawab, “Ya.”
Akhirnya keduanya berlalu hingga akhirnya mendapati Abu Bakar dalam keadaan terkapar tak berdaya. Ummu Jamil mendekatinya seraya berteriak mengumumkan kepada orang banyak, “Demi Allah! sesungguhnya kaum yang melakukan tindakan ini terhadapmu adalah orang yang fasik dan kafir. Sungguh, aku berharap semoga Allah membalaskan untukmu terhadap mereka.”
Abu Bakar malah berkata lagi. “Apa yang terjadi terhadap diri Rasulullah?” Ummu Jamil berkata, “Ini ibumu ikut mendengarkan.”
“Tidak usah khawatir terhadapnya.”
“Beliau dalam kondisi sehat dan bugar.”
BACA JUGA: Menangisnya Rasulullah saat Mendengar Bacaan Al-Qur’an
“Di mana beliau sekarang?”
“Ada di Dar Ibnu Al-Arqam.”
Abu Bakar berkata, “Aku bersumpah kepada Allah untuk tidak mencicipi makanan dan meminum minuman hingga aku mendatangi Rasulullah.” Keduanya mengulur-ulur waktu sejenak. hingga bila kondisi Abu Bakar sudah tenang dan orang-orang mulai sepi, keduanya berangkat keluar membawanya dengan dipapah. Lalu keduanya mempertemukan dirinya dengan Rasulullah
Bentuk kecintaan yang demikian langka serta pengorbanan hidup seperti ini akan kami bahas pada beberapa bagian dari buku ini, terutama yang terjadi pada waktu Perang Uhud dan yang terjadi terhadap Khubaib dan semisalnya. []
Sumber: Sirah Rasulullah, Sejarah Hidup Nabi Muhammad ﷺ / Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri/ Penerbit: Ummu Qura
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

