Home SirahMalam yang Menjadi Saksi, Istri Amirul Mukminin Menjadi Bidan

Malam yang Menjadi Saksi, Istri Amirul Mukminin Menjadi Bidan

Tak lama kemudian, dari dalam terdengar suara riang, “Wahai Amirul Mukminin! Berikan kabar gembira kepada temanmu, Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki!”

by Abu Umar
0 comments 203 views

Udara Madinah malam itu sejuk, angin berhembus lembut membawa aroma pasir dan tanah yang baru saja reda dari panas siang. Di rumah yang sederhana, Umar bin Khattab duduk termenung. Suara langkah kaki seseorang memecah keheningan. Itu adalah Ali bin Abi Thalib.

“Wahai Abu Hasan,” kata Umar, membuka percakapan. Suaranya terdengar dalam, mantap, meski ada sedikit kegugupan.

Ali menatap sahabat lamanya itu. “Ada apa, wahai Umar?”

“Aku datang untuk meminang putrimu, Ummu Kultsum,” ujar Umar perlahan. “Nikahkanlah aku dengannya, karena aku telah memperhatikan kemuliaannya. Sungguh, tak kulihat kemuliaan itu pada wanita lainnya.”

Ali terdiam lama, menunduk, memikirkan usia putrinya yang masih belia. “Wahai Umar, dia masih muda,” jawab Ali akhirnya, dengan nada hati-hati.

Umar menatap mata Ali, penuh kesungguhan. “Justru itulah. Aku tak mencari selain kehormatan dan kebaikan dari keturunannya. Demi Allah, niatku adalah menjaga dan memuliakannya.”

BACA JUGA:  Umar bin Khattab Menolak Shalat di dalam Gereja

Hening beberapa saat, sebelum akhirnya Ali menghela napas panjang. “Baiklah. Aku meridhai, wahai Amirul Mukminin.”

Beberapa waktu berlalu. Pernikahan pun dilangsungkan pada bulan Dzulqa’dah tahun 17 Hijriyah. Ummu Kultsum, putri Ali, tumbuh menjadi sosok teladan di Madinah, lembut tutur katanya dan mulia akhlaknya.

Suatu malam, seperti kebiasaannya, Umar bin Khattab berjalan sendiri di jalanan Madinah. Langkahnya terhenti saat mendengar rintihan seorang perempuan dari sebuah gubug tua. Di depannya duduk seorang laki-laki Badui, wajahnya letih.

“Assalamu’alaikum,” sapa Umar, suaranya tenang.

Laki-laki itu menoleh cepat. “Wa’alaikumussalam.”

“Apa yang sedang terjadi di dalam?” tanya Umar, lembut.

“Ah, pergilah,” sahut laki-laki itu kesal. “Jangan tanya yang tak ada gunanya.”

Umar masih berdiri di tempatnya, menatap penuh iba. “Aku hanya ingin membantu. Katakan padaku, apa yang sedang terjadi?”

Akhirnya laki-laki itu mengalah. “Istriku hendak melahirkan. Tapi tak ada seorang pun yang bisa membantunya.”

Umar terdiam sejenak, kemudian berpamitan dan melangkah cepat ke rumah. Setibanya di sana, ia memanggil Ummu Kultsum. “Wahai Ummu Kultsum,” katanya, napasnya masih tersengal, “maukah engkau meraih pahala yang besar di sisi Allah?”

“Apa itu, wahai Umar?” jawab Ummu Kultsum lembut, menoleh padanya.

“Istri seorang Badui hendak melahirkan, tapi tak ada yang membantunya. Aku mohon, temani aku ke sana.”

Ummu Kultsum bangkit tanpa ragu, mengambil peralatan untuk membantu melahirkan, serta kain dan kebutuhan bayi. Umar pun mengambil kuali besar berisi mentega dan makanan. Mereka berjalan berdua menembus gelapnya malam Madinah.

Sesampainya di gubug, Umar menyerahkan peralatan itu kepada Ummu Kultsum. “Masuklah, wahai putri Ali,” bisiknya.

Ummu Kultsum tersenyum singkat, lalu masuk. Di dalam, ia menenangkan wanita yang kesakitan, menyeka keringatnya, dan menyiapkan kain bersih.

Di luar, Umar duduk bersama laki-laki Badui itu. Ia mulai menyalakan api dan memasak makanan. Asap mengepul, cahaya api menampakkan garis wajah Umar yang penuh kelelahan, tapi juga penuh keteguhan.

Tak lama kemudian, dari dalam terdengar suara riang, “Wahai Amirul Mukminin! Berikan kabar gembira kepada temanmu, Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki!”

Laki-laki Badui itu terperanjat. “A… Amirul Mukminin?” Ia memandang Umar dengan wajah tercengang. “Engkau… Umar bin Khattab?”

BACA JUGA:  Umar bin Khattab, yang Pertama Kali Digelari Amirul Mukminin

Umar hanya tersenyum kecil. “Ya, saudaraku.”

Tiba-tiba terdengar isak bahagia dari dalam. Sang ibu yang baru saja melahirkan pun terkejut, ketika mengetahui yang membantunya adalah istri dari pemimpin kaum Muslimin.

Malam itu, di balik kesunyian dan sederhana gubug, bersinar kemuliaan sejati: seorang Amirul Mukminin dan istrinya, Ummu Kultsum, merendahkan hati untuk menolong hamba Allah yang tak mereka kenal. Sebuah malam yang tak akan pernah dilupakan oleh pasangan Badui itu… ataupun oleh sejarah. []

Sumber: Mereka Adalah para Shahabiyat/ Penulis: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, dkk/ Penerbit: At-Tibyan/ Juli, 2012

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119