Prinsip ini merupakan salah satu prinsip dalam berinteraksi dengan jiwa dan sarana untuk menyucikan dan mengobatinya dari berbagai penyakit. Di saat yang sama, prinsip ini juga merupakan tangga untuk menaiki tingkatan penyucian jiwa. Sesungguhnya Allah Ta’ālā sudah bersumpah sebanyak sebelas kali dalam surah Asy-Syams untuk menegaskan tujuan penyucian jiwa yang agung ini. Kemudian Allah berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” [Asy-Syams : 9]
BACA JUGA: Tubuhmu adalah Saksimu
Makna prinsip ini secara ringkas adalah bahwa meskipun manusia berusaha untuk membela perbuatan dan perkataannya yang diketahui batil dan salah, serta mengemukakan berbagai argumen untuk membela diri. Namun pasti dirinya tahu apa yang diucapkan dan dikerjakannya itu adalah keliru. Meski dia berusaha untuk menutupi diri di hadapan manusia, atau mengemukakan berbagai alasan, namun tidak ada yang lebih mengetahui dan menyadari apa yang ada dalam dirinya –setelah Allah– selain dia sendiri.
Renungkanlah bagaimana redaksi ayat 14 Surat.Al-Qiyamah diungkapkan dengan kata “بَصِيرَةٌ” dan bukan dengan kata yang lain. Hal ini dikarenakan, selain mengandung makna “kejelasan (الوضوح )”, kata tersebut juga mengandung makna “bukti (الحجة)” seperti perkataan “ أنت حجة على نفسك” yang berarti “Anda adalah bukti atas keberadaan diri Anda!”
BACA JUGA: Akan Ditanya di Alam Kubur
Allah ta’ala berfirman:
بَلِ ٱلْإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌ * وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah 14-15) []
SUMBER: BERBAGI KEBAIKAN
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

