Setelah Abdul Muthalib meninggal dunia, Muhammad kecil berada dalam asuhan pamannya, Abu Thalib. Sang paman memberikan kasih sayang dan perhatian yang besar kepada keponakannya tersebut. Hubungan mereka bukan sekadar hubungan antara paman dan keponakan, melainkan ikatan keluarga yang dipenuhi kepedulian dan pengorbanan.
Abu Thalib menyaksikan sendiri berbagai keistimewaan yang terdapat pada diri Muhammad. Ia semakin menyayangi dan merasa dekat dengannya. Bahkan, kecintaan itu membuat Abu Thalib rela memberikan perlindungan dan membela Muhammad ketika menghadapi berbagai gangguan dari kaum Quraisy.
BACA JUGA: Abu Thalib dan Ciri Kenabian Rasulullah ﷺ
Abu Thalib Meminta Hujan Bersama Muhammad
Suatu ketika, Makkah dilanda kemarau panjang. Hujan tidak kunjung turun, lembah-lembah mengering, dan penduduk mengalami kesulitan mendapatkan air. Kemiskinan dan penderitaan semakin terasa di tengah masyarakat.
Melihat keadaan tersebut, kaum Quraisy mendatangi Abu Thalib dan meminta bantuannya.
“Wahai Abu Thalib! Lembah telah mengering dan kemiskinan melanda di mana-mana. Mari kita meminta hujan!”
Mendengar permintaan itu, Abu Thalib segera keluar rumah. Ia tidak pergi sendirian, melainkan menggandeng Muhammad yang saat itu masih kecil.
Dalam kisah yang dinukil dari Jalhamah bin ‘Arfathah, Abu Thalib membawa Muhammad ke dekat Ka’bah. Ia kemudian memegang dan mendekatkan tubuh Muhammad ke Ka’bah.
Saat itu, langit tampak cerah tanpa gumpalan awan. Namun, tidak lama kemudian awan mulai berkumpul dan hujan pun turun dengan deras. Lembah-lembah kembali dialiri air dan tanah yang sebelumnya kering menjadi subur.
Kisah ini menggambarkan keyakinan Abu Thalib terhadap keistimewaan keponakannya. Ia melihat Muhammad sebagai sosok yang memiliki kedudukan istimewa dan senantiasa mengharapkan kebaikan melalui keberadaannya.
Keberkahan Ketika Muhammad Makan Bersama Keluarga
Keistimewaan Muhammad juga diceritakan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga Abu Thalib.
Dalam naskah sumber disebutkan bahwa Allah memberikan keberkahan pada makanan ketika Muhammad makan bersama pamannya dan anak-anaknya. Setelah selesai makan, mereka merasa kenyang meskipun makanan yang tersedia tidak banyak.
Namun, ketika Muhammad tidak ikut makan bersama mereka, makanan yang sama tidak memberikan rasa kenyang sebagaimana biasanya.
Pengalaman tersebut semakin menambah kecintaan Abu Thalib kepada Muhammad. Ia menyaksikan berbagai hal yang membuatnya merasa bahwa keponakannya bukan anak biasa.
Perhatian Abu Thalib kepada Muhammad
Naskah sumber juga menyebutkan pengalaman Abu Thalib ketika Muhammad tidur bersama anak-anaknya. Anak-anak Abu Thalib terkadang bangun dengan mata yang tampak kusut, sedangkan Muhammad terlihat segar dan bersih, seolah-olah matanya diberi celak.
Berbagai pengalaman tersebut semakin memperkuat kedekatan Abu Thalib dengan Muhammad. Ia mencintai keponakannya itu dengan kasih sayang yang sangat besar, bahkan melebihi kedekatannya dengan anak-anak kandungnya sendiri.
Abu Thalib tidak hanya memberikan tempat tinggal dan kebutuhan hidup kepada Muhammad. Ia juga menjadi pelindung yang berdiri di hadapannya ketika berbagai ancaman datang.
Abu Thalib Membela Rasulullah ﷺ
Ketika Muhammad diangkat menjadi nabi dan mulai menyampaikan dakwah Islam, penentangan kaum Quraisy semakin keras. Beliau menghadapi hinaan, tekanan, dan berbagai gangguan dari orang-orang yang menolak dakwahnya.
Dalam keadaan tersebut, Abu Thalib tetap memberikan perlindungan. Meskipun tidak mengikuti agama yang dibawa oleh Muhammad, ia terus membela keponakannya dan berusaha menghalangi kaum Quraisy agar tidak menyakitinya.
Pembelaan Abu Thalib berlangsung hingga akhir hayatnya. Ia menjadi salah satu sosok penting yang melindungi Rasulullah ﷺ pada masa-masa awal dakwah di Makkah.
BACA JUGA: Quraisy Mengancam Abu Thalib
Penutup
Kisah Abu Thalib dan Muhammad mengajarkan betapa besar arti kasih sayang dan kepedulian dalam keluarga. Abu Thalib bukan hanya mengasuh Muhammad ketika masih kecil, tetapi juga memberikan perlindungan ketika keponakannya menghadapi ancaman yang berat.
Kasih sayang tidak selalu ditunjukkan melalui kata-kata. Terkadang, ia tampak dalam kesediaan untuk menjaga, membela, dan berkorban demi orang yang dicintai.
Semoga kisah ini mengingatkan kita agar menjadi pribadi yang penuh empati, menjaga keluarga, dan tidak meninggalkan orang-orang terdekat ketika mereka menghadapi kesulitan.[]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

