Setiap perjalanan besar selalu memiliki awal yang penuh ujian. Demikian pula perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Sebelum menerima wahyu, beliau telah dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang mulia. Namun, ketika Allah memilih beliau sebagai utusan-Nya, kehidupan beliau memasuki babak baru yang penuh tanggung jawab dan tantangan.
Peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira menjadi awal perubahan besar dalam sejarah umat manusia. Di tengah rasa takut dan kebingungan setelah menerima wahyu, Rasulullah ﷺ mendapatkan ketenangan dari Khadijah رضي الله عنها. Kemudian, penjelasan Waraqah bin Naufal semakin menegaskan bahwa peristiwa yang beliau alami merupakan awal dari tugas kenabian.
Awal Turunnya Wahyu
Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa permulaan wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ adalah berupa mimpi-mimpi yang benar ketika tidur. Setiap mimpi yang beliau lihat menjadi kenyataan dengan jelas, sebagaimana cahaya fajar yang menyingsing pada pagi hari.
BACA JUGA: Cara Wahyu Diturunkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ
Setelah itu, beliau mulai menyukai kesendirian. Rasulullah ﷺ sering menyendiri di Gua Hira untuk beribadah selama beberapa malam. Ketika bekal yang dibawanya telah habis, beliau kembali ke rumah Khadijah رضي الله عنها untuk mempersiapkan bekal berikutnya.
Kebiasaan tersebut terus berlangsung hingga suatu hari datanglah Malaikat Jibril عليه السلام membawa wahyu dari Allah. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang berada di Gua Hira.
Jibril berkata, “Bacalah!”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku tidak dapat membaca.”
Kemudian Jibril mendekap beliau dengan kuat hingga beliau merasa kesulitan, lalu melepaskannya dan kembali berkata, “Bacalah!”
Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.”
Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali. Setelah itu, Jibril menyampaikan wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)
Turunnya ayat-ayat tersebut menjadi awal diangkatnya Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul. Peristiwa yang luar biasa itu sekaligus menandai dimulainya tugas besar untuk menyampaikan risalah Allah kepada seluruh manusia.
Khadijah, Penyejuk Hati Rasulullah ﷺ
Setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah ﷺ segera pulang ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Beliau masuk dan berkata kepada Khadijah رضي الله عنها, “Selimutilah aku, selimutilah aku!”
Khadijah segera menyelimuti beliau dan membiarkannya beristirahat hingga rasa takutnya mereda.
Setelah lebih tenang, Rasulullah ﷺ menceritakan kejadian yang dialaminya di Gua Hira. Beliau mengungkapkan kekhawatirannya dan berkata, “Sungguh, aku mengkhawatirkan diriku.”
Mendengar penuturan tersebut, Khadijah memberikan jawaban yang penuh keteguhan:
“Janganlah engkau khawatir. Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau selalu menyambung silaturahmi, berkata jujur, meringankan beban orang yang kesusahan, membantu orang yang lemah, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah.”
Ucapan Khadijah memperlihatkan betapa dalam pemahamannya terhadap kepribadian Rasulullah ﷺ. Ia mengenal suaminya sebagai manusia yang senantiasa berbuat baik dan memiliki akhlak yang luhur.
Khadijah tidak membiarkan Rasulullah ﷺ menghadapi ketakutan itu seorang diri. Ia memberikan ketenangan, menguatkan hati beliau, dan meyakinkan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang selama ini beliau lakukan.
Sikap Khadijah menjadi teladan bagi setiap pasangan. Ketika orang yang dicintai sedang menghadapi kesulitan, dukungan, ketenangan, dan perkataan yang baik dapat menjadi kekuatan yang sangat berarti.
Waraqah bin Naufal Menjelaskan Peristiwa Wahyu
Setelah mendengar penuturan Rasulullah ﷺ, Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya. Waraqah merupakan seorang yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliah. Ia memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab terdahulu dan mampu membaca serta menulis dalam bahasa Ibrani. Saat itu, usianya telah lanjut dan penglihatannya sudah tidak berfungsi.
Setibanya di tempat Waraqah, Khadijah berkata, “Wahai sepupuku, dengarkanlah penuturan keponakanmu ini!”
Waraqah kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang apa yang telah beliau lihat. Rasulullah ﷺ pun menceritakan peristiwa yang dialaminya di Gua Hira.
Setelah mendengar penuturan tersebut, Waraqah berkata bahwa sosok yang datang kepada beliau adalah malaikat yang dahulu juga datang kepada Nabi Musa عليه السلام.
Waraqah kemudian mengungkapkan harapannya, seandainya ia masih muda dan kuat ketika Rasulullah ﷺ kelak menghadapi permusuhan kaumnya.
Rasulullah ﷺ bertanya dengan penuh keheranan, “Apakah mereka akan mengusirku?”
Waraqah menjawab bahwa siapa pun yang membawa ajaran seperti yang beliau bawa pasti akan mendapatkan permusuhan. Ia bahkan berjanji akan membela Rasulullah ﷺ seandainya masih hidup ketika saat itu tiba.
Namun, tidak lama setelah pertemuan tersebut, Waraqah meninggal dunia. Wahyu pun sempat terhenti untuk beberapa waktu.
Kisah ini menunjukkan bahwa jalan dakwah tidak selalu dipenuhi penerimaan dan dukungan. Bahkan, orang yang membawa kebenaran dapat menghadapi penolakan dan permusuhan dari orang-orang di sekitarnya.
Awal Perjalanan Kenabian yang Penuh Tantangan
Empat puluh tahun kehidupan Rasulullah ﷺ sebelum menerima wahyu menjadi masa persiapan menuju tugas besar yang telah Allah tetapkan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak terpuji.
Kemudian, turunnya wahyu pertama membuka lembaran baru dalam kehidupan beliau. Kebingungan yang semula menyelimuti hati mulai mendapatkan penjelasan, sedangkan tanggung jawab besar sebagai nabi dan rasul mulai terbentang di hadapan beliau.
Betapa besar urusan yang menanti Rasulullah ﷺ setelah peristiwa tersebut. Beliau akan mengajak manusia meninggalkan kesyirikan, menyembah Allah semata, dan menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk-Nya.
Dalam perjalanan itu, beliau akan menghadapi penolakan, hinaan, ancaman, bahkan pengusiran. Namun, semua rintangan tersebut tidak menghentikan langkah beliau dalam menyampaikan risalah Allah.
Di tengah semua tantangan itu, Khadijah رضي الله عنها telah menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Ia menjadi orang pertama yang membenarkan Rasulullah ﷺ, menenangkan hati beliau, dan mendukung perjuangan dakwah sejak awal.
BACA JUGA: Apa Agama Nabi sebelum Turun Wahyu?
Pelajaran dari Keteguhan Rasulullah ﷺ dan Khadijah
Kisah turunnya wahyu pertama mengajarkan bahwa tugas besar sering kali dimulai dengan ujian yang tidak mudah. Rasulullah ﷺ sendiri mengalami ketakutan ketika menghadapi peristiwa yang belum pernah beliau alami sebelumnya. Namun, dengan pertolongan Allah dan dukungan orang-orang yang beriman, beliau melangkah menjalankan amanah kenabian.
Kita juga belajar dari Khadijah رضي الله عنها bahwa kesetiaan bukan hanya ditunjukkan ketika keadaan menyenangkan. Kesetiaan yang sesungguhnya tampak ketika seseorang tetap memberikan dukungan saat orang yang dicintainya sedang menghadapi kesulitan.
Demikian pula, penjelasan Waraqah mengingatkan bahwa perjuangan membela kebenaran membutuhkan keteguhan. Tidak semua orang akan menerima kebenaran dengan lapang dada, tetapi seorang mukmin harus tetap berpegang pada petunjuk Allah.
Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang tegar menghadapi ujian, setia mendukung kebaikan, dan istiqamah dalam mengikuti petunjuk Rasulullah []ﷺ
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

