Jin adalah makhluk Allah Ta’ala yang memiliki pilihan untuk beriman atau ingkar. Sebagian dari mereka beriman, sedangkan sebagian lainnya kafir dan durhaka. Hal ini sebagaimana manusia, yang juga berbeda-beda dalam keimanan dan amal perbuatannya.
Namun, muncul pertanyaan: apakah Iblis merupakan bapak dari seluruh jin, termasuk jin yang beriman? Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai persoalan ini.
Jin Tidak Seluruhnya Kafir
Al-Qur’an menjelaskan bahwa di antara jin ada yang saleh dan ada pula yang menyimpang. Sebagian dari mereka mendengarkan Al-Qur’an, kemudian beriman kepada Allah Ta’ala.
Karena itu, tidak tepat menganggap semua jin sebagai setan atau makhluk jahat. Istilah setan merujuk kepada makhluk yang durhaka dan mengajak kepada keburukan, sedangkan jin sebagai jenis makhluk memiliki keadaan yang beragam.
BACA JUGA:
Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada pula yang tidak demikian. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin: 11).
Apakah Iblis Bapak dari Seluruh Jin?
Sebagian ulama berpendapat bahwa Iblis merupakan asal-usul atau bapak seluruh jin, baik yang beriman maupun yang kafir. Pendapat ini dinukil dari sejumlah ulama salaf dan juga disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, serta ulama lainnya.
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala tentang Iblis, “…kecuali Iblis. Dia termasuk golongan jin…” (QS. Al-Kahfi: 50). Ayat yang sama juga menyebutkan bahwa Iblis memiliki keturunan.
Namun, Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan bahwa tidak ada dalil tegas yang memastikan Iblis adalah bapak seluruh jin. Menurutnya, yang lebih kuat adalah bahwa Iblis termasuk golongan jin, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an.
Dengan demikian, persoalan apakah Iblis merupakan bapak seluruh jin tetap menjadi perkara yang diperselisihkan. Tidak semestinya seseorang memastikan salah satu pendapat tanpa memperhatikan dalil dan penjelasan ulama.
Keturunan Tidak Harus Mengikuti Kekafiran
Andaikan Iblis memang bapak seluruh jin, hal itu tidak berarti semua keturunannya pasti kafir. Iblis sendiri diperintahkan untuk beriman dan taat kepada Allah, tetapi ia memilih membangkang. Pilihan Iblis tidak otomatis menentukan pilihan keturunannya.
Iblis tidak memiliki kuasa mutlak atas jin lain. Usahanya adalah mengajak kepada jalan kesesatan, membisikkan keburukan, dan menggoda mereka agar mengikuti dirinya.
BACA JUGA:
Allah Ta’ala berfirman, “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.” (QS. Ar-Rum: 19). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal ini juga mencakup lahirnya orang beriman dari orang kafir, dan orang kafir dari orang beriman.
Pelajaran pentingnya, asal-usul atau lingkungan tidak dengan sendirinya menentukan keimanan seseorang. Setiap makhluk bertanggung jawab atas pilihannya di hadapan Allah Ta’ala.
Adapun rincian asal-usul jin termasuk perkara gaib. Seorang Muslim hendaknya mencukupkan diri dengan keterangan wahyu dan tidak berspekulasi mengenai hal-hal yang tidak dijelaskan secara pasti.
Wallahu a’lam. []
SUMBER: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

