Home » Taubatnya Ahlul Maksiat Lebih Baik daripada Ahlul Bid’ah, Kenapa?

Taubatnya Ahlul Maksiat Lebih Baik daripada Ahlul Bid’ah, Kenapa?

Orang yang bermaksiat wajib bertaubat, sedangkan orang yang melakukan bid'ah wajib kembali kepada tuntunan syariat jika memang amalannya terbukti menyimpang.

by Abu Umar
0 comments 22 views

Dalam kehidupan beragama, kita sering melihat seseorang yang terjerumus dalam kemaksiatan, tetapi kemudian menyesali perbuatannya dan kembali kepada Allah ﷻ. Di sisi lain, ada orang yang tekun beribadah, tetapi melakukan amalan yang tidak memiliki landasan syariat dan menganggapnya sebagai bagian dari agama.

Dari sini muncul ungkapan, taubatnya ahlul maksiat lebih baik daripada ahlul bid’ah. Lantas, apa maksud ungkapan tersebut? Apakah orang yang bermaksiat lebih baik daripada orang yang melakukan bid’ah?

1. Ahlul Maksiat Masih Bisa Menyadari Kesalahannya

Ahlul maksiat adalah orang yang melakukan perbuatan dosa atau melanggar ketentuan Allah ﷻ. Namun, melakukan maksiat tidak serta-merta membuat seseorang keluar dari Islam.

Ketika seseorang menyadari kesalahannya, menyesali dosa, dan bertekad meninggalkannya, pintu taubat tetap terbuka. Allah ﷻ berfirman, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).

BACA JUGA: Celaan terhadap Bid’ah dan Ahli Bid’ah

Ayat ini menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, ia tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah selama masih hidup dan bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

2. Mengapa Bid’ah Bisa Lebih Sulit Ditinggalkan?

Bid’ah dalam urusan agama adalah perkara baru yang diada-adakan dalam agama tanpa landasan syariat yang membenarkannya. Persoalan ini perlu dipahami dengan ilmu karena tidak semua hal baru otomatis termasuk bid’ah yang tercela.

Salah satu persoalan yang sering dibahas para ulama adalah ketika seseorang menganggap amalan yang keliru sebagai ibadah yang benar. Akibatnya, ia tidak merasa perlu memperbaiki diri karena mengira sedang melakukan kebaikan.

Allah ﷻ berfirman, “Katakanlah, apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104).

Ayat ini menjelaskan bahaya merasa benar tanpa petunjuk, tetapi tidak boleh dijadikan dasar untuk sembarangan menghakimi individu atau kelompok tertentu.

3. Maksiat yang Diakui Lebih Mudah Ditaubati?

Seseorang yang mengakui dosanya biasanya lebih mudah menyadari perlunya perubahan. Sebaliknya, orang yang menganggap kesalahan sebagai kebenaran bisa saja sulit menerima nasihat.

Namun, hal ini bukan berarti setiap pelaku maksiat pasti lebih baik daripada setiap pelaku bid’ah. Keadaan manusia berbeda-beda, begitu pula kadar ilmu, niat, dan kesungguhannya dalam mencari kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2499; dinilai hasan oleh sejumlah ulama).

Hadis ini menegaskan keutamaan taubat, bukan anjuran meremehkan dosa atau membenarkan penyimpangan dalam agama.

4. Jangan Merasa Lebih Suci daripada Orang Lain

Pelajaran penting dari pembahasan ini adalah kewajiban menjaga diri dari kemaksiatan sekaligus mempelajari agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Jangan sampai seseorang merasa paling benar karena rajin beribadah, lalu merendahkan orang lain yang sedang berjuang meninggalkan dosa. Sebaliknya, jangan pula menjadikan harapan akan ampunan Allah sebagai alasan untuk terus bermaksiat.

Setiap Muslim membutuhkan ilmu, keikhlasan, dan kerendahan hati untuk menerima kebenaran.

BACA JUGA: Jika Engkau Terus Melakukan Maksiat

Kesimpulan

Ungkapan bahwa taubatnya ahlul maksiat lebih baik daripada ahlul bid’ah perlu dipahami secara hati-hati. Maksud pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa pengakuan terhadap kesalahan dan kesediaan untuk bertaubat merupakan sikap yang sangat penting dalam agama.

Orang yang bermaksiat wajib bertaubat, sedangkan orang yang melakukan bid’ah wajib kembali kepada tuntunan syariat jika memang amalannya terbukti menyimpang. Keduanya tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah sibuk membandingkan dosa orang lain, melainkan memastikan diri sendiri terus berada di atas petunjuk, bersedia menerima nasihat, dan segera bertaubat ketika melakukan kesalahan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119