Istighfar sering kali hanya dipahami sebagai ucapan untuk memohon ampun kepada Allah. Kita mengucapkan, “Astaghfirullah,” setelah melakukan kesalahan, ketika selesai salat, atau saat berzikir. Namun, ternyata di dalam istighfar terkandung permohonan yang begitu dalam.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ketika seorang hamba mengucapkan Astaghfirullah, sesungguhnya ia sedang meminta dua perkara kepada Allah.
Pertama, Dosa Ditutupi
Istighfar mengandung permohonan agar Allah menutupi dosa-dosa seorang hamba. Betapa banyak kesalahan yang pernah kita lakukan, baik yang diketahui manusia maupun yang hanya diketahui oleh Allah.
Jika Allah membuka seluruh aib dan dosa kita, tentu tidak ada seorang pun yang sanggup menanggung rasa malu. Karena itu, ketika mengucapkan Astaghfirullah, kita memohon agar Allah menutupi dosa-dosa tersebut dan tidak membukanya di hadapan manusia.
BACA JUGA: Dosa dan Istighfar
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48).
Kedua, Dosa Dimaafkan
Istighfar juga berarti memohon agar dosa tersebut dimaafkan sehingga Allah tidak menghukum kita karenanya.
Menutup dosa dan mengampuninya adalah dua perkara yang sangat kita butuhkan. Sebab, sekadar tidak diketahui manusia tidak berarti kita terbebas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kita membutuhkan ampunan-Nya agar dosa itu tidak menjadi sebab datangnya hukuman.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
عندما تقول “استغفر الله”
تسأل الله شيئين: ستر الذنب التجاوز عنه بحيث لا يعاقبك الله عليه.
“Ketika engkau mengatakan Astaghfirullah, engkau meminta kepada Allah dua perkara: ditutupinya dosa dan dimaafkan darinya sehingga Allah tidak menghukummu karena dosa tersebut.” (Al-Fatawa, 16/87)
BACA JUGA: Keutamaan Memperbanyak Istighfar
Jangan Remehkan Istighfar
Karena itu, jangan pernah menganggap ringan ucapan Astaghfirullah. Di balik kalimat yang singkat tersebut terdapat pengakuan bahwa kita adalah hamba yang penuh kekurangan dan sangat membutuhkan rahmat Allah.
Rasulullah ﷺ sendiri memperbanyak istighfar. Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6307).
Maka, perbanyaklah istighfar. Bukan hanya ketika melakukan dosa besar, tetapi juga dalam keseharian. Semoga Allah menutupi aib kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menerima tobat kita sebelum tiba hari ketika tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

