Ada kalanya hidup berjalan tidak sesuai dengan harapan. Sesuatu yang telah lama diusahakan ternyata gagal diraih. Orang yang dicintai pergi, kesehatan berkurang, rezeki terasa sempit, atau doa yang terus dipanjatkan belum juga menemukan jawaban.
Dalam keadaan seperti itu, seorang Mukmin perlu mengingat bahwa tidak semua kebaikan hadir dalam bentuk yang menyenangkan. Ada ketetapan Allah yang terasa berat bagi manusia, tetapi menyimpan hikmah yang belum mampu dipahaminya.
Kebaikan di Balik Setiap Ketetapan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجِبتُ للمؤمنِ، إنَّ اللهَ لا يَقضي للمؤمنِ قَضاءً إلَّا كان خَيرًا له
“Aku kagum dengan seorang Mukmin. Karena sesungguhnya Allah tidaklah menetapkan suatu takdir untuk seorang Mukmin, kecuali itu pasti baik baginya.” (HR. Ahmad no. 12906, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad).
BACA JUGA: Sabar atas Takdir Allah
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Mukmin memiliki cara pandang yang berbeda dalam menghadapi kehidupan. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa kesulitan, ia bersabar. Keduanya menjadi jalan kebaikan baginya.
Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Manusia hanya melihat apa yang terjadi hari ini, sementara ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sebagai kehilangan justru menjauhkan kita dari keburukan. Bisa jadi pula, tertundanya keinginan menjadi jalan bagi Allah untuk memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat.
BACA JUGA: Hidup Ini Hanya Menunggu Tiga Tamu: Rezeki, Takdir, dan Kematian
Bersabar dan Tetap Berprasangka Baik
Meyakini bahwa takdir Allah mengandung kebaikan bukan berarti seorang Mukmin berhenti berikhtiar atau mengabaikan kesedihan. Ia tetap berusaha, berdoa, dan mencari jalan keluar. Namun, hatinya tidak menggantungkan ketenangan hanya pada hasil yang diharapkan.
Ketika sesuatu berjalan di luar rencana, ia belajar menerima tanpa kehilangan harapan. Ia percaya bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan sesuatu dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Karena itu, jangan terburu-buru menilai sebuah ketetapan sebagai keburukan. Teruslah bersabar, bersyukur, dan memperbaiki ikhtiar. Sebab, kebaikan seorang Mukmin bukan semata-mata terletak pada apa yang diperolehnya, melainkan juga pada bagaimana ia menyikapi setiap ketetapan Allah dengan iman. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

