Manusia sering kali mengejar sesuatu yang menyenangkan.
Makanan yang lezat.
Harta yang banyak.
Kesenangan dunia.
Syahwat yang memuaskan.
Kenyamanan tanpa batas.
Namun, semua kenikmatan dunia memiliki satu kesamaan: ia akan berakhir.
Sebesar apa pun kenikmatan yang kita rasakan hari ini, suatu saat semuanya akan berlalu.
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
فَأَيُّ عَقْلٍ لِمَنْ آثَرَ لَذَّةَ سَاعَةٍ أَوْ يَوْمٍ أَوْ دَهْرٍ، ثُمَّ تَنْقَضِي كَأَنَّهَا حُلْمٌ لَمْ يَكُنْ، عَلَى هَذَا النَّعِيمِ الْمُقِيمِ، وَالْفَوْزِ الْعَظِيمِ؟ بَلْ هُوَ سَعَادَةُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَلَوْلَا الْعَقْلُ الَّذِي تَقُومُ بِهِ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ لَكَانَ بِمَنْزِلَةِ الْمَجَانِينِ، بَلْ قَدْ يَكُونُ الْمَجَانِينُ أَحْسَنَ حَالًا مِنْهُ وَأَسْلَمَ عَاقِبَةً.
*”Maka akal macam apa bagi orang yang lebih memilih kelezatan sesaat, sehari, atau sepanjang masa di dunia, kemudian semuanya berlalu seakan-akan hanya mimpi yang tidak pernah ada, daripada kenikmatan yang kekal dan kemenangan yang agung ini?
BACA JUGA: Racun Dosa VS Taubat Penawar
Bahkan ketaatan adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Seandainya bukan karena akal yang menjadi dasar tegaknya hujjah atas dirinya, niscaya kedudukannya seperti orang-orang gila. Bahkan bisa jadi orang gila lebih baik keadaannya darinya dan lebih selamat akibatnya.”*
📚 Ad-Da’u wad-Dawa’, hlm. 79
Perkataan ini mengajak kita berpikir lebih dalam.
Apa yang sebenarnya kita pilih dalam kehidupan ini?
Kita terkadang rela meninggalkan shalat demi pekerjaan.
Menunda taubat demi menikmati dosa.
Mengikuti hawa nafsu meskipun mengetahui akibatnya.
Mengejar kenikmatan yang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi mengorbankan kebahagiaan yang jauh lebih panjang.
Padahal, kehidupan dunia sangat singkat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Bayangkan seseorang mendapatkan kenikmatan dunia selama puluhan tahun. Kelihatannya lama.
Namun ketika kematian datang, semuanya selesai.
Kenangan tentang kesenangan dunia itu akan berlalu.
Harta yang dikumpulkan ditinggalkan.
Rumah yang dibanggakan ditinggalkan.
Jabatan dilepaskan.
Tubuh yang dahulu menikmati berbagai kesenangan akhirnya dibawa menuju tanah.
Lalu dimulailah kehidupan yang sebenarnya.
Jangan Tukarkan yang Kekal dengan yang Fana
Inilah persoalan yang sering terjadi pada manusia.
Kita mengetahui bahwa akhirat itu kekal, tetapi masih rela mengorbankannya demi dunia yang sementara.
Kita mengetahui bahwa dosa memiliki akibat, tetapi tetap mengejarnya karena terasa nikmat.
Kita mengetahui bahwa ketaatan membawa kebahagiaan, tetapi terkadang justru menganggap ibadah sebagai beban.
Padahal, ketaatan bukan musuh kebahagiaan.
Justru ketaatan adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.
Shalat memang membutuhkan usaha.
Menahan pandangan membutuhkan perjuangan.
Meninggalkan maksiat membutuhkan kesabaran.
Berpuasa membutuhkan pengorbanan.
Namun semua itu akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kenikmatan yang kita tinggalkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.” (HR. Muslim)
Maka jangan tertipu dengan kenikmatan yang mudah.
Tidak semua yang terasa menyenangkan baik bagi kita.
Dan tidak semua yang terasa berat buruk bagi kita.
Terkadang sesuatu yang berat di awal justru berakhir dengan kebahagiaan yang panjang.
Sebaliknya, sesuatu yang sangat nikmat di awal bisa berakhir dengan penyesalan yang panjang.
BACA JUGA:
Berlaku Bijak terhadap Kenikmatan
Saudaraku, gunakanlah akal yang Allah berikan.
Jangan tukarkan kenikmatan yang kekal dengan kesenangan yang sebentar.
Jangan tukarkan surga dengan maksiat.
Jangan tukarkan ketenangan hati dengan syahwat.
Jangan tukarkan akhirat dengan dunia yang sebentar lagi akan kita tinggalkan.
Kelezatan maksiat akan berlalu, tetapi akibatnya bisa menetap.
Sebaliknya, rasa berat dalam ketaatan akan berlalu, tetapi pahalanya tetap ada.
Maka pilihlah dengan cerdas.
Taatlah kepada Allah, karena ketaatan bukan hanya kebahagiaan di akhirat. Ia juga merupakan jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan di dunia. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

