Home IbadahSifat Shalat Nabi

Sifat Shalat Nabi

Hadits ke-16 dari Al-Arba'un fil Ahkaam

by Abu Umar
0 comments 4 views

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ، وَالْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبُهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ.

banner

وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا.

وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا.

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّاتِ.

وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ الْيُمْنَى.

وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ.

وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبْعِ، وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ.

(HR. Muslim no. 498)

Dari sekian banyak ibadah yang Allah syariatkan, shalat adalah ibadah yang paling sering dikerjakan setiap hari. Karena itu, sudah semestinya setiap muslim berusaha melaksanakan shalat sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang sifat shalat beliau.

BACA JUGA:  Bolehkah Langsung Beranjak Setelah Shalat Selesai?

Hadits ini dimulai dengan penjelasan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ membuka shalat dengan takbiratul ihram. Setelah itu beliau memulai bacaan dengan Surah Al-Fatihah, diawali dengan firman Allah, “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.” Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Fatihah merupakan bagian pokok dalam shalat.

Ketika ruku’, Rasulullah Muhammad ﷺ tidak mengangkat kepala terlalu tinggi dan tidak pula menundukkannya terlalu rendah. Posisi kepala beliau berada di tengah, sejajar dengan punggung. Sikap ini menunjukkan kesempurnaan dan ketenangan dalam ruku’, bukan dilakukan secara tergesa-gesa.

Begitu pula ketika bangkit dari ruku’. Beliau tidak langsung turun untuk sujud. Beliau berdiri tegak terlebih dahulu hingga seluruh anggota badan kembali pada posisinya. Inilah yang dikenal dengan i’tidal. Demikian pula ketika bangkit dari sujud pertama, beliau tidak segera turun ke sujud berikutnya, tetapi duduk dengan tenang di antara dua sujud hingga posisi duduknya sempurna. Hadits ini mengajarkan bahwa setiap gerakan shalat memiliki hak untuk ditunaikan dengan tuma’ninah, yaitu tenang dan tidak terburu-buru.

‘Aisyah juga menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ membaca tasyahhud pada setiap dua rakaat. Dalam posisi duduk tersebut, beliau menghamparkan kaki kiri sebagai tempat duduk dan menegakkan telapak kaki kanan. Tata cara ini merupakan sunnah yang seharusnya diperhatikan oleh setiap muslim yang ingin menyempurnakan shalatnya.

Selain mengajarkan tata cara yang benar, Rasulullah Muhammad ﷺ juga melarang beberapa bentuk duduk dan sujud yang tidak sesuai dengan tuntunan beliau. Di antaranya adalah larangan melakukan ‘uqbah asy-syaithan. Para ulama menjelaskan bahwa cara duduk ini adalah seseorang membentangkan kedua telapak kakinya, kemudian duduk dengan kedua pantatnya di atas kedua tumitnya, atau duduk di atas pantatnya di antara kedua kakinya. Cara duduk ini juga dikenal dengan nama al-iq’ā’ yang terlarang.

Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah menjelaskan bahwa bentuk duduk tersebut termasuk yang dilarang dalam shalat karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad ﷺ.

BACA JUGA:  Shalat Memakai Sandal, Sunnah yang Banyak Dilupakan

Beliau juga melarang seseorang membentangkan kedua lengannya ketika sujud sebagaimana binatang buas membentangkan kedua kaki depannya. Seorang yang sujud hendaknya mengangkat kedua lengannya dari lantai sehingga sujudnya tampak penuh adab, khusyuk, dan mengikuti sunnah.

Hadits ini ditutup dengan penjelasan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ mengakhiri shalat dengan salam. Ini menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah shalat yang dilakukan dengan penuh ketenangan dan kesempurnaan.

Hadits ini mengajarkan bahwa kesempurnaan shalat bukan hanya terletak pada banyaknya bacaan, tetapi juga pada kesesuaian gerakan dengan tuntunan Nabi ﷺ. Semakin seorang muslim mempelajari sifat shalat Rasulullah Muhammad ﷺ, semakin dekat pula ia kepada shalat yang diterima di sisi Allah. Oleh karena itu, marilah kita terus memperbaiki shalat kita dengan mempelajari sunnah beliau secara rinci, karena shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119