Home Nasihat UlamaOrang yang Tertipu adalah yagn Berbuat Buruk, namun Merasa Sebagai Orang yang Baik

Orang yang Tertipu adalah yagn Berbuat Buruk, namun Merasa Sebagai Orang yang Baik

Ketika seseorang tidak lagi melihat kekurangannya, maka pintu perbaikan diri akan semakin sulit untuk dibuka.

by Abu Umar
0 comments 109 views

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah merasa aman dari kekurangan diri dan menganggap diri telah menjadi orang yang baik. Penyakit ini dapat menghalangi seseorang dari taubat, muhasabah, dan usaha untuk memperbaiki amal. Bahkan, seseorang bisa terus tenggelam dalam kesalahan karena merasa tidak memiliki kesalahan.

Para ulama salaf adalah teladan terbaik dalam hal ini. Meskipun mereka dikenal sebagai orang-orang yang paling rajin beribadah, paling kuat ketakwaannya, dan paling besar ilmunya, mereka tetap merasa khawatir terhadap kekurangan diri mereka di hadapan Allah Ta’ala.

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

كَانَ السَّلَفُ يَجْتَهِدُونَ فِي أَعْمَالِ الْخَيْرِ وَيَعُدُّونَ أَنْفُسَهُمْ مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الْمُذْنِبِينَ، وَنَحْنُ مَعَ إِسَاءَتِنَا نَعُدُّ أَنْفُسَنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dahulu para ulama salaf bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal-amal kebaikan. Bersamaan dengan itu, mereka menganggap diri mereka termasuk orang-orang yang banyak kekurangan dan banyak dosa. Adapun kita, sebaliknya. Bersamaan dengan buruknya perbuatan kita, kita justru menganggap diri kita termasuk orang-orang yang baik.” (Al-Hikam al-Jadirah bil Idza’ah, hlm. 49)

BACA JUGA: Doa Berlindung dari Keburukan Tetangga, Pasangan, Anak, Harta dan Teman Dekat yang Penuh Tipu Daya

Perkataan yang penuh hikmah ini menggambarkan perbedaan yang sangat jauh antara keadaan para salaf dengan keadaan banyak manusia pada masa setelah mereka. Para salaf semakin banyak beramal, semakin besar rasa takut mereka kepada Allah. Semakin tinggi kedudukan mereka dalam ketakwaan, semakin kecil mereka memandang diri sendiri.

Mereka tidak tertipu oleh amal yang telah dilakukan. Mereka khawatir apakah amal tersebut diterima atau ditolak. Mereka takut jika ibadah yang mereka kerjakan masih dipenuhi kekurangan, riya’, atau ketidakikhlasan. Karena itulah mereka senantiasa memperbanyak istighfar meskipun telah melakukan banyak ketaatan.

Sebaliknya, banyak orang pada zaman ini justru terjatuh ke dalam sikap ujub dan merasa diri sudah baik. Padahal shalatnya masih sering lalai, lisannya masih mudah menyakiti orang lain, pandangannya belum terjaga, dan berbagai kewajiban agama masih banyak yang diabaikan. Namun anehnya, ia merasa telah menjadi orang saleh dan tidak membutuhkan nasihat.

BACA JUGA:  Orang-orang yang Tertipu di Akhir Zaman

Keadaan seperti inilah yang disebut sebagai bentuk ketertipuan terhadap diri sendiri. Ketika seseorang tidak lagi melihat kekurangannya, maka pintu perbaikan diri akan semakin sulit untuk dibuka. Sebab orang yang merasa sakit akan mencari obat, sedangkan orang yang merasa sehat tidak akan merasa perlu berobat.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim senantiasa melakukan muhasabah terhadap dirinya. Jangan sibuk menghitung kesalahan orang lain, sementara kesalahan diri sendiri dilupakan. Semakin banyak amal yang kita lakukan, semakin besar pula rasa takut kita kepada Allah dan semakin banyak istighfar yang kita panjatkan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119