Home KajianJangan Marah!

Jangan Marah!

Satu kalimat dari Nabi — “Janganlah engkau marah” — mengandung perbaikan akhlak, ketenangan jiwa, kondisi sosial yang baik, dan penjagaan dari banyak dosa.

by Abu Umar
0 comments 123 views

Di antara nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling singkat namun paling dalam maknanya adalah wasiat kepada seorang sahabat yang datang meminta nasihat. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Berilah wasiat kepadaku.” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah.”

Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, namun Nabi tetap menjawab: “Janganlah engkau marah.” (HR. al-Bukhari)

Wasiat ini pendek, tetapi para ulama sepakat bahwa ia termasuk jawami’ul kalim — ucapan Nabi yang singkat namun sarat makna dan meliputi banyak kebaikan.

BACA JUGA: 3 Sikap Mulia terhadap Kesalahan Orang Lain: Menahan Amarah, Memaafkan, dan Berbuat Baik

Mengapa Wasiat Ini Diulang Beberapa Kali?

Imam an-Nawawi dalam Syarh Arbain menjelaskan bahwa pengulangan tersebut menunjukkan betapa besar kedudukan menahan amarah, serta besarnya kerusakan yang lahir dari marah ketika tidak dikendalikan.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menegaskan bahwa ini adalah nasihat fundamental, karena banyak kehancuran hidup—baik dalam agama, akhlak, maupun hubungan manusia—berawal dari satu ledakan emosi yang tak terkendali.

Pandangan Ulama Salaf Tentang Menahan Marah

Para ulama salaf sangat memahami betapa berbahayanya marah yang tidak dikendalikan. Di antara penjelasan mereka:

1. Marah adalah pintu keburukan

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Anak Adam tidak akan merasakan ketenangan selama ia mengikuti hawa nafsunya. Dan marah adalah bagian dari hawa nafsu.”

2. Menahan marah adalah akhlak para ulama

Sufyan ats-Tsauri berkata: “Tidaklah seseorang disebut berakal sampai ia mampu menahan marahnya ketika sedang mampu membalas.”

3. Marah merusak agama dan dunia

Imam Ibnul Mubarak menyatakan: “Pokok akhlak yang baik ada tiga: menahan marah, memaafkan, dan tidak mencari-cari kesalahan.”

Perkataan-perkataan mereka menunjukkan bahwa marah bukan sekadar emosi, tetapi ujian besar yang menentukan kualitas iman seseorang.

Mengapa Nabi Memilih Wasiat Ini?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi nasihat sesuai kondisi orang yang bertanya. Artinya, lelaki itu dikenal mudah marah, sehingga Nabi memberinya nasihat yang paling ia butuhkan.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mengatakan: “Ini menunjukkan bahwa solusi yang paling tepat untuk seseorang adalah yang sesuai dengan ujian dirinya.”

Seakan Nabi berkata: Jika engkau dapat menahan marah, engkau akan mampu memperbaiki seluruh urusanmu.

Makna “Jangan Marah” Menurut Para Ulama

Para ulama salaf menjelaskan bahwa larangan ini memiliki dua makna besar:

1. Jangan menjadi orang yang mudah marah

Artinya:
Latihlah jiwamu untuk bersabar, pemaaf, dan lapang dada.
Ibn Rajab menjelaskan dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam:
“Larangan marah mencakup perintah memperindah akhlak, memperhalus jiwa, dan melatih diri untuk sabar.”

Ini adalah pencegahan sebelum marah muncul.

2. Jika marah datang, kendalikan!

Syaikh As-Sa’di menyebutkan:
“Jika marah timbul, tahan dirimu dari ucapan dan perbuatan yang akan engkau sesali.”

Ini adalah langkah pengobatan setelah marah muncul.

Keduanya saling melengkapi: pencegahan dan pengobatan.

Mengapa Menahan Marah Begitu Penting?

Karena amarah adalah sumber:

  • pertengkaran,
  • kebencian,
  • putusnya hubungan,
  • ucapan yang menyakiti,
  • keputusan yang merusak,
  • serta penyesalan panjang setelahnya.

Ibnul Qayyim mengatakan: “Marah itu seperti api. Jika tidak dipadamkan, ia akan membakar pemiliknya lebih dulu sebelum membakar yang lain.”

BACA JUGA:  Marah Itu Panas, Dinginkan Pakai Air Wudhu

Penutup

Satu kalimat dari Nabi — “Janganlah engkau marah” — mengandung perbaikan akhlak, ketenangan jiwa, kondisi sosial yang baik, dan penjagaan dari banyak dosa.

Penjelasan para ulama salaf menegaskan bahwa:

Menahan marah adalah tanda kekuatan iman.

Mengendalikan diri adalah puncak akhlak mulia.

Amarah yang tak terkendali adalah sumber keburukan yang luas.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang sabar, lapang dada, dan mampu mengendalikan diri ketika marah. Aamiin. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119