Setiap tahun yang kita lalui, kata Ibnul Qayyim rahimahullah, ibarat sebuah pohon yang tumbuh dalam kebun kehidupan. Bulan-bulannya adalah dahan yang menjulur, hari-harinya menjadi ranting yang halus, jam-jamnya menjelma daun yang hijau, sementara setiap hembusan nafas — setiap detak jantung — adalah buahnya. Maka, bagaimana rupa buah yang akan kita petik di akhir nanti, sangat bergantung pada apa yang kita tanam dan rawat hari demi hari.
Jika waktu diisi dengan ketaatan, maka buah pohon itu akan manis dan harum. Namun bila hari-hari berlalu dalam kemaksiatan, pohon itu tetap berbuah—tapi pahit, kering, dan tak enak dipandang. Dan seperti pohon di dunia yang baru diketahui hasilnya ketika panen tiba, demikian pula amal manusia. Kita baru akan tahu rasa buah kehidupan kita di “hari panen” yang sesungguhnya—hari kiamat, ketika semua amal dikumpulkan dan diperlihatkan tanpa ada yang tersembunyi.
BACA JUGA: Setan Menggoda Manusia untuk Meninggalkan Kebaikan
Ibnul Qayyim menjelaskan, ikhlas dan tauhid adalah seperti pohon yang tumbuh di dalam hati manusia. Dahan-dahannya adalah amal saleh, sementara buahnya adalah kebahagiaan dan ketenangan di dunia, serta kenikmatan abadi di akhirat. Pohon ini serupa dengan pohon surga yang disebut Allah dalam Al-Qur’an—pohon yang senantiasa berbuah dan tak pernah dilarang dipetik. Begitu pula buah keikhlasan, ia terus memberi rasa manis dalam setiap amal, selama akar tauhidnya tertanam kuat.
Namun di sisi lain, hati yang dipenuhi syirik, riya’, dan dusta juga menumbuhkan pohon—tapi pohon yang gelap dan beracun. Buahnya bukan kebahagiaan, melainkan rasa takut, gelisah, dan sempitnya dada. Dan di akhirat, buah itu menjelma menjadi pohon zaqqum, makanan penghuni neraka yang pahit dan menyiksa.
BACA JUGA: Kebaikan dan Keburukan
Dua pohon inilah yang Allah sebutkan dalam surah Ibrahim: pohon yang baik, berakar kokoh dan berbuah setiap saat; serta pohon yang buruk, tercabut dari bumi tanpa arah dan harapan.
Setiap manusia tengah menanam salah satunya—di setiap helaan napas, dalam setiap pilihan kecil yang ia buat. Maka, teman, mari kita rawat pohon keikhlasan itu dalam hati, agar saat musim panen tiba, kita dapati buahnya manis dan menyelamatkan.
(Diringkas dan disarikan dari Al-Fawaa’id, karya Ibnul Qayyim rahimahullah, hal. 214) []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

