Home Yaumul HisabPencatatan Amal Perbuatan dalam Lembaran Amal

Pencatatan Amal Perbuatan dalam Lembaran Amal

Jika seseorang terbiasa melakukan suatu amal kemudian pada suatu saat terhalang karena suatu sebab, pahala amal yang biasa is kerjakan tetap dicatat.

by Abu Umar
0 comments 161 views

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, yang dicatat dalam lembaran amal adalah amal perbuatan, amal baik ataupun amal buruk. Kebaikan yang dicatat adalah amal baik yang dilakukan manusia, niat dan keinginan untuk melakukan amal baik.

Berkenaan dengan amal baik ada tiga hal:

1. Bila dikerjakan, jelas dicatat sebagai amal baik.

2. Bila diniatkan, niatnya dicatat.

Hal yang dicatat hanyalah pahala niat secara sempurna, seperti disebutkan dalam hadits shahih tentang kisah seseorang yang memiliki harta kemudian disedekahkan di jalan kebaikan, kemudian ada orang miskin berkata: “Andai aku memiliki harta pasti aku akan mengerjakan seperti amalan si fulan itu.”

Nabi bersabda: “la dengan niatnya, pahala keduanya sama. Namun keduanya tidak sama dari sisi amal,” seperti ditunjukkan dalam hadits bahwa orang-orang fakir Muhajirin mendatangi nabi, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya mendahului kami.” Kemudian beliau bersabda: “Bacalah tasbih, tahmid dan takbir setiap usai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

BACA JUGA:  Masuk Surga Tanpa Hisab

Saat orang-orang kaya mendengar hal itu, mereka melakukan amalan serupa, akhirnya orang-orang miskin kembali menemui nabi dan mengadukan hal itu, nabi lantas bersabda: “Itulah karunia Allah yang la berikan kepada siapa pun yang la kehendaki Nabi tidak bersabda: “Dengan niat, kalian menyamai amal mereka.” Ini adil. Orang yang tidak bekerja tidak sama dengan orang yang bekerja, namun memiliki kesamaan dari sisi pahala niat saja.

3. Keinginan untuk berbuat baik. Dalam hal ini ada dua macam;

Pertama; berkeinginan melakukan suatu kebaikan kemudian melakukannya namun tidak bisa meneruskan hingga usai karena adanya halangan.

Amalan seperti ini dicatat pahalanya secara sempurna. Allah berfirman:

وَمَن يُهَاجِرُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِهِ، مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، ثُمَّ يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا )

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang Isamyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebehom sampai ke tempat yang dituju), maka sangguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 100)

Ini berita gembira pada para penuntut ilmu. Ketika sese-orang berniat untuk memuntut ilmu dengan maksud untuk memberi manfaat kepada sesama dengan ilmu yang dimiliki, membela sunnah Rasulullah dan menyebarkan agama Allah di muka bumi tapi ternyata ia tidak ditakdirkan untuk itu misalkan meninggalkan dunia saat menuntut ilmu misalnya, pahala niat dan usahanya dicatat, lebih dari itu, jika seseorang terbiasa melakukan suatu amal kemudian pada suatu saat terhalang karena suatu sebab, pahala amal yang biasa is kerjakan tetap dicatat.

Nabi bersabda

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيهَا صحيحا

“Ketika seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat untuknya seperti yang biasa ia kerjakan saat bermukim saat sehat.” (Al-Bukhari, hadits nomor 543, Muslim, hadits nomor 5905)

Bagian kedua; berkeinginan melakukan suatu kebaikan tapi tidak dilakukan padahal bisa, yang dicatat adalah apa yang hendak ia kerjakan dan apa yang ia harapkan untuk ia amalkan.

Bagian pertama sudah jelas.

Bagian kedua, dicatat sebagai amalan sempurna berdasarkan sabda nabi

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَائِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ، قَالَ : إِنَّهُ كَانَ حَرِيضًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Ketika dua muslim saling berhadapan dengan membawa pedang, orang yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama di neraka. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, si pembunuh (sudah jelas), lalu kenapa yang dibunuh (juga masuk neraka? Beliau menjawab: Karena ia berniat membunuh kawannya.” (Al-Bukhari, hadits nomor 2996)

Hal serupa sama seperti orang yang berkeinginan untuk menenggak khamr tapi ada halangan, dosanya dicatat secara utuh karena sudah berusaha untuk itu.

Ketiga; keinginan untuk berbuat baik dicatat, dengan syarat harus diniatkan, seperti disebutkan dalam hadits nabi yang memberitahukan tentang seseorang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia gunakan hartanya secara serampangan, lalu ada orang miskin berkata: “Andai aku diberi harta pasti aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan itu.” Kemudian nabi bersabda: “la dengan niatnya, dosa keduanya sama.” (Al-Bukhari, hadits nomor 31, 6875, 7083, Muslim, hadits nomor 2888)

Misalkan seseorang berkeinginan melakukan keburukan tapi ia tinggalkan, dalam hal ini ada tiga bagian;

Pertama; jika tidak jadi dikerjakan karena tidak bisa, artinya sama seperti mengerjakan keburukan tersebut jika ia usahakan.

Kedua; jika ia tinggalkan karena Allah, ia mendapat pahala.

BACA JUGA:  

banner

Keadaan Manusia saat Yaumil Hisab

Ketiga, jika ia tinggalkan karena tidak terfikir di benaknya untuk mengerjakan suatu keburukan, ia tidak mendapat dosa ataupun pahala. Allah berfirman:

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ )))

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am: 160)

Ini sebagai kemuliaan Allah, di samping sebagai wujud rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. []

Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Prahara Padang Mahsyar – Ulasan Mendalam tentang Peristiwa Pengumpulan Manusia di Padang Mahsyar, Huru-Hara Kiamat, Hisab, Mizan, Telaga, Shirath, Syafaat, & Fatwa-Fatwa tentang Akhirat / Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Penerbit: Pustaka Dhiya’ul Ilmi /Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119