“Di antara dosa besar adalah buruk sangka kepada kaum muslimin.
Hukum asal seorang muslim adalah baik agamanya.
Kamu tidak boleh buruk sangka kepada saudaramu muslim kecuali kamu memiliki dalil yang menjadi dasar buruk sangkamu.
Maka sekadar menuduh saudaramu muslim tanpa dalil termasuk dosa besar.”
(Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarah Kitab al-Kabair halaman 344).
BACA JUGA: Prasangka Buruk
Orang yang memiliki sifat suka berburuk sangka kepada orang lain tanpa dasar, maka dia akan berusaha mencari-cari kesalahan dan keburukan saudaranya tersebut untuk mengecek dan membuktikan prasangkanya.
Inilah yang disebut dengan tajassus.
Sedangkan *tajassus itu sendiri adalah pintu awal menuju dosa* berikutnya, yaitu ghibah.
Karena orang tersebut berusaha untuk menampakkan aib dan keburukan saudaranya yang berhasil dia cari-cari, meskipun dia berhasil mendapatkannya dengan susah payah.
Al-Qasimi rahimahullahu Ta’ala berkata,
“Ketika buah dari su’udzan adalah tajassus, hati seseorang tidak akan merasa puas dengan hanya ber-su’udzan saja.
Maka dia akan mencari-cari bukti (aib saudaranya tersebut) dan akan sibuk dengan tajassus.
BACA JUGA: Tanda Kebaikan dan Keburukan
Allah Ta’ala menyebutkan larangan tajassus setelah su’udzan.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.’” (Mahaasin At-Ta’wiil, 9: 3690).
Wallaahu a’lam bish-shawwaab. []
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

