Oleh: Ustaz Faisal Kunhi M.A.
Tiga jenis hakim di akhirat dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Nabi Muhammad sebagai sosok pemimpin yang adil, beliau pernah berkata, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku akan potong tangannya.“
Menjadi hakim adalah sebuah profesi yang mulia. Karenanya, seorang hakim bisa masuk surga dengan keadilan yang ia wujudkan melalui keputusannya;
Dan seorang hakim bisa masuk neraka ketika ia tergoda dengan suap dan gratifikasi sehingga ia memutuskan sebuah vonis yang jauh dari nilai-nilai keadilan.
BACA JUGA: Akhirat Sebagai Tujuan Hidupmu
Dari Abu Buraidah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
اَلْقُضَاةُ ثَلاَثَةٌ اثْنَانِ فِي النَّارِ وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ. “
“Hakim itu ada tiga macam, dua di Neraka dan satu masuk Surga;
(1) seorang hakim yang mengetahui kebenaran lalu memberi keputusan dengannya, maka ia di Surga,
(2) seorang hakim yang mengadili manusia dengan kebodohannya, maka ia di Neraka, dan
(3) seorang hakim yang menyimpang dalam memutuskan hukuman, maka ia pun di Neraka.”
Hakim adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk mewujudkan keadilan. Jika seseorang tidak bisa mendapatkan keadilan di pengadilan, maka di mana lagi dia bisa mendapatkan keadilan?
Maka, hendaknya seorang hakim tidak memberikan keputusan kepada seseorang berdasarkan suka dan benci, karena jika itu yang menjadi dasarnya, itu adalah tanda bahwa hukum sudah bisa diperjualbelikan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
BACA JUGA: Hari Penghakiman
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah: 8)
Syaikh Muhammad Ali Ashobuni berkata tentang ayat di atas, “Bahwa berbuat adil kepada seseorang yang kita tidak suka akan membuat kita semakin bertaqwa kepada Allah.
Sebab sebuah kewajaran jika kita bisa berbuat adil kepada orang yang kita cintai; (oleh) karenanya seorang hakim tidak membuat keputusan ketika ia dalam keadaan marah.” []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

