Home IbadahShalat Tahajjud, Apakah Harus Tidur Dahulu?

Shalat Tahajjud, Apakah Harus Tidur Dahulu?

Ketika dunia sedang sunyi, seorang mukmin memiliki kesempatan untuk bermunajat kepada Rabb-nya dengan penuh ketenangan.

by Abu Umar
0 comments 5 views

Shalat tahajjud merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Ia menjadi amalan orang-orang saleh yang ingin mendekatkan diri kepada Allah ketika kebanyakan manusia sedang terlelap.

Namun, ada satu pertanyaan yang sering muncul: apakah shalat tahajjud harus didahului dengan tidur?

Jawabannya perlu dijelaskan dengan membedakan antara qiyamul lail dan tahajjud.

Qiyamul Lail dan Tahajjud

Secara umum, shalat malam disebut qiyamul lail. Waktunya dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar.

Adapun istilah tahajjud secara khusus digunakan untuk shalat malam yang dilakukan setelah tidur.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah tahajjud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (Al-Isra: 79)

BACA JUGA: Engkau dan Shalat Tahajjud-mu

Karena itu, jika seseorang tidur terlebih dahulu, kemudian bangun dan melaksanakan shalat malam, maka inilah yang secara khusus disebut tahajjud.

Namun, jika seseorang melaksanakan shalat malam setelah Isya tanpa tidur terlebih dahulu, shalat tersebut tetap merupakan qiyamul lail dan termasuk ibadah yang sangat utama.

Jadi, tidur bukan syarat sah untuk melaksanakan shalat malam.

Mana yang Lebih Utama?

Jika seseorang mampu tidur terlebih dahulu, kemudian bangun dan melaksanakan shalat pada akhir malam, maka hal tersebut merupakan amalan yang sangat utama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Sepertiga malam terakhir juga merupakan waktu yang sangat utama untuk bermunajat kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat berharga. Jangan biarkan waktu tersebut berlalu tanpa berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

banner

Bagaimana Jika Takut Tidak Bisa Bangun?

Tidak semua orang mampu bangun pada akhir malam. Ada yang memiliki pekerjaan berat, membutuhkan istirahat yang cukup, atau khawatir tidak terbangun ketika waktu tahajjud tiba.

Dalam keadaan seperti ini, seseorang dapat melaksanakan shalat malam sebelum tidur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِهِ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Barang siapa khawatir tidak dapat bangun pada akhir malam, hendaknya ia melakukan witir pada awal malam. Dan barang siapa berharap dapat bangun pada akhir malam, hendaknya ia melakukan witir pada akhir malam, karena shalat pada akhir malam itu disaksikan oleh para malaikat, dan itu lebih utama.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan keluasan syariat. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan tahajjud membuat seseorang justru meninggalkan shalat malam karena merasa harus tidur terlebih dahulu.

Jika mampu tidur kemudian bangun, lakukanlah.

Jika khawatir tidak dapat bangun, lakukanlah shalat malam sebelum tidur.

Yang terpenting adalah jangan meninggalkan kesempatan untuk bermunajat kepada Allah pada malam hari.

Jangan Jadikan Perbedaan Istilah sebagai Penghalang

Sebagian ulama menggunakan istilah tahajjud dengan cakupan yang lebih luas untuk menyebut shalat malam. Karena itu, dalam pembahasan fikih, penggunaan istilah tersebut dapat ditemukan dengan penjelasan yang berbeda.

Namun, secara umum kita dapat memahami bahwa qiyamul lail adalah shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari setelah Isya hingga terbit fajar, sedangkan tahajjud secara khusus adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur.

BACA JUGA:  Shalat-shalat Sunnah, yang Utama adalah Tahajjud

Dengan pemahaman ini, kita tidak perlu memperdebatkan istilah hingga kehilangan semangat untuk beribadah.

Apabila malam telah tiba, jangan biarkan seluruh waktunya berlalu hanya dengan tidur dan aktivitas dunia.

Bangunlah untuk menghadap Allah, walaupun hanya dengan dua rakaat.

Bacalah Al-Qur’an.

Perbanyaklah istighfar.

Panjatkan doa-doa yang selama ini kita simpan.

Ketika dunia sedang sunyi, seorang mukmin memiliki kesempatan untuk bermunajat kepada Rabb-nya dengan penuh ketenangan.

Jika mampu tidur lalu bangun, itulah tahajjud. Jika belum mampu, jangan tinggalkan qiyamul lail.

Yang terpenting bukan sekadar nama ibadahnya, tetapi kesungguhan seorang hamba untuk mendekat kepada Allah ketika kebanyakan manusia sedang tidur. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119