Ciri ulama akhirat adalah mereka menahan diri dari para penguasa dan menjaga jarak dalam bergaul dengan mereka.
Hudzaifah رضي الله عنه berkata, “Takutlah kalian pada tempat-tempat fitnah.”
Ia lantas ditanya, “Apa itu?”
Hudzaifah menjawab, “Pintu para penguasa. Salah satu di antara kalian masuk datang kepada seorang penguasa, membenarkan kebohongannya, dan mengatakan sesuatu yang tidak terjadi.”
Sa’id bin al-Musayyab mengatakan, “Bila kalian melihat seorang alim mendatangi para penguasa, maka jauhilah, karena ia adalah pencuri.”
BACA JUGA: 10 Cara agar Engkau Mudah Laksanakan Tahajud, Berdasarkan Nasihat Ulama Salaf
Sebagian kalangan salaf mengatakan, “Engkau tidak akan mendapatkan apa pun dari dunia mereka kecuali mereka mendapatkan dari agamamu sesuatu yang lebih baik darinya.”
Ciri ulama akhirat lainnya adalah mereka tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa dan tidak memberi fatwa dengan sesuatu yang tidak mereka yakini kebenarannya. Para ulama salaf saling menolak memberikan fatwa hingga fatwa itu kembali lagi kepada orang yang pertama kali menawarkan kepada yang lain.
Abdurrahman bin Abi Laila mengatakan, “Aku mendapati 120 sahabat Rasulullah ﷺ di masjid ini, namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang ditanya tentang hadis atau fatwa kecuali ia menginginkan saudaranyalah yang menjawab pertanyaan tersebut.”
Kemudian hari ini, permasalahan ini telah kembali pada orang yang paling utama di antara kaum yang mengaku-aku akan keilmuan. Mereka memberikan jawaban dalam masalah-masalah yang seandainya ditawarkan kepada Umar bin Khaththab untuk menjawabnya, niscaya ia akan mengumpulkan sahabat yang ikut Perang Badar dan meminta pertimbangan kepada mereka.
BACA JUGA: Pujian-pujian Para Ulama kepada Ibnul Jauzi
Ciri lainnya adalah mereka lebih banyak mengkaji ilmu yang diamalkan daripada ilmu yang merusak amal, mengotori hati, atau mengundang keragu-raguan. Bentuk amal ibadah itu dekat dan mudah, tetapi sulit untuk menjernihkannya. Pangkal agama adalah menjaga diri dari keburukan, sedangkan keburukan itu tidak dapat dibenarkan kecuali setelah diketahui.
Ciri lainnya, mereka mengkaji rahasia amal syariat dan mengulas hikmah-hikmahnya. Jika ia tidak mampu menyingkap sebuah alasan, maka ia cukup menyerahkannya kepada syara’.
Ciri lainnya adalah mereka mengikuti sahabat dan para tabi’in terpilih serta menjaga diri dari segala hal yang terbarukan. []
Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / 2015 /Cet.: 2000/Kesembilan)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

