Home TsaqofahKemuliaan Ahli Ilmu di Sisi Allah

Kemuliaan Ahli Ilmu di Sisi Allah

Imam Hasan berkata, "Andaikan saja bukan karena ulama, niscaya manusia akan seperti binatang."

by Abu Umar
0 comments 6 views

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang pergi mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Adapun dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan menuntut ilmu, niscaya dia telah menghidupkan agama Islam maka kelak di surga dia berkumpul dengan para nabi satu tingkatan.” (HR Muslim)

Dalam hadits tersebut banyak pelajaran yang kita dapatkan. Sebagian orang bijak mengatakan, “Aku ingin tahu sesuatu yang telah ditemukan oleh para ahli ilmu dan apa-apa yang telah mereka tinggalkan dari ilmu. Di antara dari beberapa keutamaan belajar seperti disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali r.a., “Jika Allah hendak menunjukkan kamu (me-lalui) seorang laki-laki yang lebih baik bagimu, niscaya itu lebih baik daripada bagusnya hewan peliharaan yang engkau miliki.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA: Ajarkanlah Ilmu

Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang yang mengajari kebaikan kepada orang lain maka semua hewan melata, bahkan ikan paus pun yang berenang di lautan lepas pun akan memintakan ampun baginya kepada Allah SWT. Riwayat seperti di atas termasuk dalam hadits mar-fu’ (bersambung hingga Rasulullah ﷺ).

Ada sebagian ulama bertanya-tanya, “Apakah minta ampunan yang dilakukan ikan paus hanya untuk orang yang mengajar?”

Jawabnya, “Manfaat ilmu dirasakan oleh segala sesuatu, bahkan ikan paus pun yang di laut merasakan berkah dari ilmu tersebut. Para ulama juga bisa mengetahui halal dan haram tidak lepas dari ilmu maka dari itu mereka mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada segala sesuatu, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Sebab Allah SWT menurunkan kepada segala sesuatu yang memintakan ampun bagi mereka (penuntut ilmu) sebagai balas budi atas kebaikannya.”

Diriwayatkan dari Abu Musa r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu sebagaimana aku diutus bersamanya, seperti hujan yang mengalir ke bumi. Sebagiannya menjadi tanah yang baik teresapi oleh air sehingga menumbuhsuburkan rerumputan yang lebat. Sebagiannya mengalami kegersangan karena tidak bisa menahan air. Dengan begitu, manusia akan dapat mengambil manfaat darinya. Mereka bisa meminum dan bercocok tanam.

Air juga mengalir pada bagian-bagian lain hanya saja ini terbagi dua, yaitu air tidak mengkokohkan bumi dan juga tidak menumbuhkan rumput-rumput. Hal itu seperti orang yang memperdalam agama Allah dan Allah memberikan keberkahan dengan apa yang diutuskan kepadaku sehingga mengerti dan mengajarkannya kepada orang lain. Hal itu juga seperti orang yang tidak diangkat menjadi pemimpin dan tidak bisa men-dapat hidayah Allah yang telah diutus melaluinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah hadits ini apa yang terjadi atas pencip taan, sesungguhnya para fuqaha’ (ahli fikih) adalah orang yang lebih faham, seperti beberapa tempat yang disiram air sehingga tumbuhlah rumput-rumput yang lebat. Begitu pula halnya mereka mengajarkan dan memahamkan (ilmu kepada) orang lain.

Maksud penukil dari para ahli hadits yang tidak dianugerahi kefakihan dan pemahaman, seperti tanah gersang air menjaganya dengan memberikan berkah pada segala sesuatu yang ada disekitarnya. Adapun orang-orang yang mendengar, namun tidak mendalami dan tidak menghafalnya maka mereka itu adalah orang awam yang bodoh.

BACA JUGA: Shalat Malam, Kebiasaan Orang-orang Shalih

Imam Hasan berkata, “Andaikan saja bukan karena ulama, niscaya manusia akan seperti binatang.”

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajari ilmu mewariskan rasa takut kepada Allah, mendorong kepada ibadah (pengabdian), dan gurunya adalah tasbih. Menggali dan menelitinya merupakan jihad, sedangkan mengajari orang yang tidak mengerti adalah sedekah, sementara mengorbankannya untuk keluarga merupakan perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.”

Ka’ab menuturkan, “Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s. seraya berfirman, ‘Belajarlah wahai Musa dan ajarkanlah kebaikan itu kepada manusia, karena sesungguhnya Akulah yang menerangi kuburan orang yang bel-ajar dan mengajarkan kebaikan sehingga mereka tidak ke-sepian dengan tempat mereka.” []

Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / 2015 /Cet.: 2000/Kesembila

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119