Di antara karunia besar Allah kepada hamba-Nya adalah disyariatkannya dzikir-dzikir yang menjadi benteng perlindungan dari berbagai keburukan yang tampak maupun tersembunyi. Dua surat pendek di akhir Al-Qur’an—Al-Falaq dan An-Nas—bukan sekadar bacaan penutup mushaf, tetapi merupakan penjaga kehidupan seorang mukmin dari satu waktu ke waktu berikutnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dua surat ini mengandung isti‘adzah (permohonan perlindungan) dari seluruh bentuk keburukan. Keduanya memiliki peran besar dalam penjagaan dan perlindungan sebelum keburukan itu terjadi. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ secara khusus mewasiatkan kepada ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu agar membaca Al-Mu‘awwidzatain setiap selesai shalat. Wasiat ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Al-Jaami‘, dan menurut Ibnul Qayyim, di dalamnya terdapat rahasia besar untuk menolak keburukan dari satu shalat ke shalat berikutnya (Zaadul Ma‘ad, 4/167).
BACA JUGA: 4 Keutamaan Shalat Ashar
Makna ini sejalan dengan pemahaman para ulama salaf. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan bahwa seorang hamba sangat membutuhkan perlindungan Allah, sebab setan tidak pernah lalai dari mengintainya, baik di waktu lapang maupun sempit. Maka, siapa yang senantiasa berlindung kepada Allah, ia telah mempersiapkan senjata sebelum musuh menyerang.
Imam Ibn Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan dua surat ini, menegaskan bahwa Al-Falaq mengandung permohonan perlindungan dari keburukan makhluk dan peristiwa, sedangkan An-Nas secara khusus memusatkan perlindungan dari kejahatan yang paling berbahaya: was-was setan yang menyusup ke dalam dada manusia. Inilah sebabnya kedua surat ini selalu digandengkan, karena keburukan bisa datang dari luar maupun dari dalam jiwa manusia sendiri.
Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa membaca Al-Mu‘awwidzatain secara rutin adalah bentuk ta‘alluq billah—menggantungkan hati sepenuhnya kepada Allah. Seorang mukmin mengakui bahwa dirinya lemah, dan hanya Rabb semesta alam yang mampu melindunginya dari keburukan sihir, hasad, gangguan jin, serta bisikan setan yang merusak iman dan amal.
Bahkan, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah memandang dua surat ini sebagai bacaan perlindungan yang paling sempurna, hingga Rasulullah ﷺ sendiri membacanya untuk ruqyah ketika sakit, dan mengajarkannya kepada para sahabat sebagai wirid harian. Dalam sebuah atsar, disebutkan bahwa tidak ada doa perlindungan yang lebih ringkas namun lebih menyeluruh daripada Al-Mu‘awwidzatain.
BACA JUGA: Orang Muslim yang Celaka karena Shalat
Membaca kedua surat ini setelah shalat bukanlah sekadar rutinitas lisan. Ia adalah deklarasi ketergantungan seorang hamba kepada Allah, seolah ia berkata, “Ya Rabb, aku telah menunaikan shalatku, kini jagalah aku hingga aku kembali menghadap-Mu di waktu shalat berikutnya.”
Inilah hikmah besar yang diisyaratkan oleh Ibnul Qayyim: perlindungan itu bukan hanya ketika bahaya datang, tetapi jauh sebelum bahaya itu muncul. Seorang mukmin yang cerdas adalah yang membentengi dirinya dengan dzikir, sebelum setan menemukan celah, sebelum hati menjadi lalai, dan sebelum keburukan mengambil kesempatan.
Maka, jangan remehkan dua surat penutup Al-Qur’an ini. Di dalamnya tersimpan benteng, penjagaan, dan rahmat—dari shalat ke shalat, dari hari ke hari, hingga seorang hamba kembali kepada Rabb-nya dalam keadaan terlindungi. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

