Setiap manusia tentu mendambakan kemuliaan. Namun, kemuliaan sejati bukanlah yang tampak pada kekayaan, jabatan, atau pujian manusia. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah—seorang ulama besar dalam sejarah Islam—menjelaskan bahwa kemuliaan terletak pada sikap batin dan akhlak yang terjaga. Dalam Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Baihaqi, beliau menyebut tiga tanda utama kemuliaan seseorang, yaitu kemampuan menjaga diri dalam tiga kondisi sulit: kemiskinan, kemarahan, dan kesusahan.
1. Menyembunyikan Kemiskinan
قِتْمَانُ الْفَقْرِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ مِنْ عِفَّتِكَ أَنَّكَ غَنِيٌّ
Menutupi kemiskinan hingga orang lain menyangka bahwa dirinya kaya, karena menjaga kehormatan dan tidak ingin merepotkan orang lain.
Orang yang mulia tidak merendahkan dirinya dengan meminta-minta, apalagi mengeluh di hadapan manusia. Ia berusaha untuk terlihat teguh, karena ia yakin bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari belas kasihan manusia. Itulah sikap iffah (menjaga kehormatan diri) yang sangat dipuji oleh ulama salaf.
BACA JUGA: Apa Syarat Taubat dan Tanda Taubat Diterima?
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Orang yang berakal tidak menggantungkan harapannya pada makhluk, karena kebutuhan kepada mereka adalah kehinaan.”
2. Menyembunyikan Kemarahan
وَكِتْمَانُ الْغَضَبِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ رَاضٍ
Menahan amarah hingga orang mengira bahwa dirinya ridha dan tidak tersinggung.
Menahan amarah bukan perkara mudah. Namun itulah tanda kekuatan jiwa. Orang yang mampu menahan amarahnya akan terhindar dari permusuhan, prasangka buruk, dan keretakan hubungan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kemuliaan seseorang terlihat dari kemampuannya tetap tenang di saat yang lain hilang kontrol.
3. Menyembunyikan Kesulitan Hidup
وَكِتْمَانُ الشِّدَّةِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ مُتَنَعِّمٌ
Menutup kesusahan dan ujian hidup hingga orang mengira dirinya dalam keadaan lapang dan berkecukupan.
Orang yang berjiwa mulia tidak mengeluh di setiap masalah. Ia memuliakan dirinya dengan bersabar dan bertawakal kepada Allah. Ia tidak ingin mengundang rasa kasihan manusia, karena itu akan merendahkan marwahnya dan melemahkan kekuatan jiwanya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang bersabar, maka Allah akan menjadikannya mulia.”
BACA JUGA:
Mengeluh Bukan Jalan Mulia
Karena itu, Imam Syafi’i mengajarkan agar kita:
Tidak banyak mengeluh kecuali ketika mencari solusi dari ahlinya.
Tidak berharap pemberian manusia.
Tidak menampakkan emosi buruk ketika ada hal yang tidak disukai.
Kesabaran dalam diam bukan berarti memendam luka, tetapi bentuk kedewasaan dalam memandang takdir Allah.
Penutup
Jalan menuju kemuliaan bukanlah jalan yang mudah. Menahan diri ketika miskin, ketika marah, dan ketika susah, membutuhkan hati yang kuat dan bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Namun di situlah letak kemuliaan yang sesungguhnya—kemuliaan yang tidak dapat dibeli dengan harta dan tidak dapat diraih dengan paksaan.
Barang siapa memuliakan dirinya, Allah akan meninggikan derajatnya.
Amin ya Rabbal ‘alamin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

