Home Yaumul HisabKubur, Persinggahan Akhirat yang Pertama

Kubur, Persinggahan Akhirat yang Pertama

Nabi sangat memperhatikan umat, beliau selalu menanyakan kondisi umat, masalah besar tidak membuat beliau melupakan masalah-masalah kecil. Semua hal yang menyinggung kaum muslimin pasti ditanyakan Rasulullah.

by Abu Umar
0 comments 272 views

Diriwayatkan dari Hani, budak milik Utsman bin Affan, ia berkata:

إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرِ بَكَى حَتَّى يَبْلَّ لِحْيَتَهُ فَقِيلَ لَهُ تُذْكَرُ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَا تَبْكِي وَتَبْكِي مِنْ هَذَا، فَقَالَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلِ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ، قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْضَعُ مِنْهُ

“Saat berdiri di atas makam, Utsman menangis hingga jenggotnya basah, ia ditanya: Kau ingat surga dan neraka tidak menangis, sementara saat ingat alam kubur kau menangis. Ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Kubur adalah persinggahan akhirat pertama, bila seseorang selamat darinya, bagian setelahnya lebih mudah, namun bila seseorang tidak selamat darinya, bagian setelahnya lebih mengerikan. Utsman berkata: Aku pernah mendengar beliau bersabda: Aku tidak melihat suatu pemandangan pun melainkan alam kubur lebih mengerikan.” (Riwayat Ibnu Majah, hadits nomor 4276, At-Tirmidzi, hadits nomor 2308, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahih al-Jami’, 2/85)

Diriwayatkan dari Abu Hurairahأَ

نَّ امْرَأَةَ سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ، فَقَالُوا : مَاتَ، قَالَ : أَفَلَا كُنتُمْ أَذَنْتُمُونِي؟ قَالَ : فَكَأَنَّهُمْ صَغَرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ، فَقَالَ: دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ، فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ : إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوعَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا هُمْ
بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

“Seorang wanita hitam atau seorang pemuda biasa menyapu masjid, suatu ketika Rasulullah kehilangan dia lalu me-nanyakannya, para sahabat menjawab: Sudah meninggal. Beliau bersabda: Kenapa kalian tidak memberitahukan padaku. Sepertinya mereka menganggapnya sepele, setelah itu beliau bersabda: Tunjukkan padaku di mana kuburnya. Mereka menunjukkan kuburan orang itu kepada Rasulullah, beliau menshalatinya setelah itu bersabda: Sungguh kubur ini sesak dan gelap bagi penghuninya, Allah menerangi kubur mereka karena doaku.”

BACA JUGA:  Bayangkan! Saat Manusia Dibangkitkan dari Kubur

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan كانت تقم المسجد maksudnya membersihkan masjid dan membuang sampah yang ada di dalamnya. Ia meninggal dunia di malam hari lalu para sahabat menganggap kondisinya sepele, mereka bilang: Kita tidak perlu memberitahukan kematiannya kepada nabi di malam ini, mereka mengubur jenazahnya, lalu nabi menanyakan orang tersebut, para sahabat menjawab: la sudah meninggal. Beliau ber-sabda: “Kenapa kalian tidak memberitahukan padaku.” Maksudnya kenapa kalian tidak memberitahuku saat ia meninggal. Setelah itu beliau bersabda: “Tunjukkan padaku di mana kuburnya.” Mereka menunjukkan kuburan orang itu kepada Rasulullah, beliau menshalatinya setelah itu bersabda: Sungguh kubur ini sesak dan gelap bagi penghuninya, Allah menerangi kubur mereka karena doaku.” (Riwayat Muslim, hadits nomor 956, hadits ini juga disebut dalam Shahih al-Bukhari, 1/460, hanya saja tidak menyebut sabda: “Sungguh kubur-kubur ini.”)

Hadits ini mengandung banyak faedah;

1. Nabi mengagungkan seseorang berdasarkan amal yang dilakukan dan yang biasa dikerjakan, seperti ketaatan dan ibadah.

2. Wanita boleh bertugas membersihkan masjid, pekerjaan ini tidak hanya dimonopoli kaum lelaki saja.

3. Membersihkan masjid dan menghilangkan sampah yang ada di dalam masjid disyariatkan.

4. Di antara faedah hadits ini, nabi tidak mengetahui hal ghaib, karena itu beliau bersabda: “Tunjukkan padaku di mana kuburnya.” Untuk hal-hal yang terlihat saja beliau tidak tahu, berarti untuk yang ghaib tentu lebih tidak tahu, beliau tidak mengetahui hal ghaib. Allah berfirman kepada beliau:

قُل لَّا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَى قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ ))

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-An’am: 50)

5. Faedah lain dari hadits ini adalah syariat shalat jenazah di atas makam bagi yang belum menshalati sebelum dimakamkan, karena itulah yang dilakukan nabi, beliau pergi lalu shalat di atas kubur orang tersebut karena beliau belum menshalatinya sebelum jenazah tersebut dimakamkan. Hanya saja syariat ini hanya berlaku di masa Anda berada. Sementara orang yang sudah mati lama, tidak disyariatkan untuk dishalati. Karena itulah kita tidak disyariatkan untuk menshalati jenazah nabi di atas kubur beliau, tidak juga shalat di atas makam Abu Bakar, Umar, Utsman atau sahabat lain, ataupun para ulama dan imam. Namun misalnya ada seseorang meninggal satu atau dua tahun kemarin lalu Anda ingin shalat jenazah di atas kuburnya karena Anda belum menshalatinya saat ia meninggal, hukumnya tidak apa-apa.

BACA JUGA:  

banner

Apakah Azab Kubur Terjadi pada Roh saja, Badan saja, atau Keduanya?

6. Faedah lain dari hadits ini adalah Nabi sangat memperhatikan umat, beliau selalu menanyakan kondisi umat, masalah besar tidak membuat beliau melupakan masalah-masalah kecil. Semua hal yang menyinggung kaum muslimin pasti ditanyakan Rasulullah.

7. Faedah lain; boleh menanyakan sesuatu yang lazimnya bukan sebagai bentuk mengungkit-ungkit sesuatu, karena Rasulullah bersabda: “Tunjukkan padaku di mana kuburnya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/44-46, secara ringkas) []

Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Misteri Kematian – Menguak Fenomena Kematian & Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat / Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M / Penerbit: Pustaka Dhiya’ul Ilmi

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119