Home TsaqofahKenapa Nabi Musa Paling Banyak Dikisahkan dalam Al-Quran?

Kenapa Nabi Musa Paling Banyak Dikisahkan dalam Al-Quran?

Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan bahwa kisah Musa menunjukkan betapa Allah mendidik para nabi-Nya dengan tarbiyah ilahiyyah (didikan langsung dari Allah) melalui berbagai ujian, agar mereka menjadi teladan bagi manusia.

by Abu Umar
0 comments 124 views

Nabi Musa ‘alaihissalam adalah sosok istimewa di antara para nabi Bani Israil. Beliau digelari Kalimullah, yaitu hamba yang Allah beri kehormatan untuk berbicara langsung tanpa perantara. Dalam jajaran para rasul, beliau termasuk dalam golongan ulul azmi, yakni para nabi yang paling sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan besar. Tidak heran jika kisah beliau disebutkan paling banyak dalam Al-Qur’an setelah Nabi Muhammad ﷺ — menurut sebagian ulama, nama Musa disebut 136 kali.

Empat surat utama dalam Al-Qur’an menggambarkan kisah Musa secara panjang dan mendalam, yaitu al-Baqarah, al-A’raf, Thaha, dan al-Qashash. Dari perjalanan hidup beliau, Allah ingin menanamkan banyak pelajaran tentang kesabaran, perjuangan, dan keimanan yang kokoh di tengah ujian berat. Musa diutus kepada Bani Israil, umat yang pada zamannya paling utama, sebagaimana Allah berfirman: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. al-Baqarah: 47)

Namun, keutamaan itu bukan tanpa syarat. Banyak di antara mereka yang berpaling dari perintah Allah dan membangkang terhadap nabinya. Karena itu, Allah menunjukkan kepada umat Muhammad ﷺ agar mengambil pelajaran dari kisah Musa dan kaumnya — bukan sekadar membaca sejarah, tetapi merenungkannya.

BACA JUGA:  Nabi Musa dan Pembangkangan Bani Israil

Allah menegaskan bahwa umat Muhammad adalah umat terbaik, sebagaimana firman-Nya: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Pelajaran dari Banyaknya Ujian Nabi Musa

Kisah Musa yang sering diulang menunjukkan betapa besar pelajaran di dalamnya. Allah berfirman: “Dan Kami telah mengujimu dengan berbagai macam ujian.” (QS. Thaha: 40)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “fitan” (ujian-ujian) dalam ayat ini mencakup seluruh peristiwa berat dalam hidup Musa — mulai dari masa bayi yang hampir dibunuh, dibesarkan di istana musuhnya sendiri, membunuh seorang Mesir tanpa sengaja, diusir, hidup sebagai penggembala di Madyan, hingga akhirnya diutus sebagai nabi untuk menghadapi tirani terbesar di zamannya, Firaun.

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menukil perkataan Ibnu Abbas yang berkata kepada Said bin Jubair: “Inilah fitnah-fitnah itu, wahai Ibnu Jubair,” yakni seluruh ujian yang menempah Musa sejak awal hidupnya hingga ia diangkat menjadi nabi (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).

Ujian Musa bukan sekadar penderitaan fisik, tapi ujian dalam memimpin umat yang keras kepala, sebagaimana umat Muhammad ﷺ juga diuji dengan umat yang beragam tabiatnya. Maka tidak mengherankan jika Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2398)

Pandangan Para Ulama tentang Pelajaran dari Kisah Musa

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa pengulangan kisah Musa dalam Al-Qur’an bukanlah tanpa hikmah. Menurut beliau, “Setiap pengulangan kisah dalam Al-Qur’an mengandung tambahan pelajaran, kejelasan makna, dan peneguhan hati bagi Rasulullah ﷺ serta umatnya.” (Madarij as-Salikin, 1/467)

Sedangkan Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa perjalanan Musa adalah contoh nyata bahwa ilmu, sabar, dan tawakal harus berjalan seiring. Musa tidak pernah berhenti mencari ilmu, bahkan rela menempuh perjalanan panjang untuk belajar kepada Khidr, sebagaimana disebut dalam surah al-Kahfi.

BACA JUGA:  Kisah Nabi Musa Alaihis Salam dan Malaikat Maut

Adapun Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan bahwa kisah Musa menunjukkan betapa Allah mendidik para nabi-Nya dengan tarbiyah ilahiyyah (didikan langsung dari Allah) melalui berbagai ujian, agar mereka menjadi teladan bagi manusia.

Penutup: Merenungi Jalan Para Nabi

Kisah Nabi Musa bukan sekadar sejarah yang lewat, tapi cermin perjuangan seorang mukmin dalam menegakkan kebenaran di tengah kerasnya dunia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa setiap ujian adalah bagian dari rencana Allah untuk meninggikan derajat hamba-Nya.

Sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya; bila ia sabar, Dia akan memilihnya; dan bila ia ridha, Dia akan mendekatkannya.”

Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari keteguhan Musa, bersabar sebagaimana kesabaran para ulul azmi, dan tetap istiqamah di jalan kebenaran walau ujian datang silih berganti.

Allahu a‘lam. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119