Home KajianUtang, Peringatan, dan Rahmat Allah

Utang, Peringatan, dan Rahmat Allah

Dengan membebaskan mereka, kita tidak hanya menolong di dunia, tetapi juga membuka jalan bagi diri kita menuju ampunan Allah.

by Abu Umar
0 comments 139 views

Utang dalam Islam bukanlah perkara sepele. Ia tidak hanya menyangkut hubungan antar manusia, tetapi juga berkaitan erat dengan tanggung jawab di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Seseorang yang meminjamkan harta kepada saudaranya, selain berniat menolong, juga memiliki kewajiban moral untuk mengingatkan peminjam agar segera melunasi utangnya. Karena setiap utang yang belum terbayarkan akan menjadi beban berat bagi si peminjam di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jiwa seorang mukmin tergantung dengan utangnya sampai utangnya dilunasi.” (HR. Tirmidzi, no. 1078).

Oleh karena itu, pemberi pinjaman tidak cukup hanya menyerahkan harta, melainkan perlu pula memberi peringatan dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang. Adapun apakah sang peminjam membayar atau tidak, hal itu di luar kuasa kita. Yang penting, kita telah menunaikan kewajiban untuk saling mengingatkan.

BACA JUGA:  Abu Hanifah dan Utang Piutang

Membebaskan Utang: Jalan Menuju Ampunan

Namun, ada kondisi lain yang lebih mulia, yaitu ketika seseorang mengetahui bahwa peminjam hidup dalam kesulitan, serba kekurangan, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam keadaan demikian, alangkah indahnya jika pemberi pinjaman berlapang dada dengan mengikhlaskan utang tersebut. Tindakan ini bukan hanya kebaikan di dunia, melainkan juga jaminan keselamatan di akhirat.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada seorang laki-laki yang biasa memberi utang. Ia berpesan kepada pelayannya, ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesusahan, maka bebaskanlah utangnya, semoga Allah membebaskan kita dari siksa-Nya.’ Maka ketika ia wafat, Allah pun membebaskannya dari siksa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Riwayat lain dari Ibnu Mas’ud RA menceritakan tentang seorang lelaki yang tidak pernah merasa punya amalan besar. Namun ketika malaikat bertanya, ia hanya ingat bahwa dirinya suka memberi keringanan kepada orang miskin dalam berutang. Lalu Allah berfirman: “Bebaskan dia dari siksa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menegaskan betapa besar rahmat Allah kepada hamba yang memudahkan urusan saudaranya.

Pandangan Ulama Salaf tentang Utang

Ulama salaf pun banyak memberi perhatian pada masalah ini. Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:

“Sesungguhnya menunaikan utang itu wajib, dan menunda-nundanya adalah kezhaliman.”

Sementara Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله menegaskan:

“Menghapus utang orang miskin lebih aku sukai daripada bersedekah dengan jumlah yang sama.”

Perkataan mereka menggambarkan betapa besar nilai meringankan beban orang lain dalam perkara utang. Bahkan, pahala yang dijanjikan sering kali melampaui sedekah biasa, karena utang adalah hak manusia yang wajib ditunaikan, bukan sekadar amal sunnah.

Hikmah di Balik Keringanan Utang

Memberi keringanan atau bahkan menghapus utang adalah bentuk nyata dari sabda Nabi ﷺ:

“Barang siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim, no. 2699).

Dalam kehidupan nyata, banyak orang terjerat utang karena kebutuhan mendesak, bukan karena kemewahan. Dengan membebaskan mereka, kita tidak hanya menolong di dunia, tetapi juga membuka jalan bagi diri kita menuju ampunan Allah.

BACA JUGA: Jangan Tunda Bayar Utang!

Penutup

Utang adalah amanah, dan melunasinya adalah kewajiban. Namun bagi pemberi pinjaman, di balik hak menagih terdapat pintu besar menuju pahala: mengingatkan dengan lemah lembut, memberi kelonggaran waktu, hingga membebaskan utang bagi mereka yang benar-benar miskin. Itulah amalan yang bisa menjadi sebab keselamatan di akhirat.

Sebagaimana kata Sufyan ats-Tsauri رحمه الله: “Berbuat baiklah kepada orang lain semampumu. Karena engkau tidak tahu, bisa jadi amal kecilmu itulah yang menyelamatkanmu di hari kiamat.”

Semoga kita termasuk hamba yang dimudahkan Allah dalam menunaikan hak manusia dan dimasukkan ke dalam rahmat-Nya karena meringankan beban sesama. []

Sumber: Kisah-kisah Nyata/Karya: Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi/Penerbit: Darul Haq, Jakarta

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119